#under_header{ float:left; width:100%; } #under_header1{ float:left; width:25%; } #under_header2{ float:left; width:25%; } #under_header3{ float:left; width:25%; } #under_header4{ float:right; width:25%; }

Rabu, 15 Januari 2014

Karakter: hanya pelengkap?

Sebuah momen mengumpulkan beberapa bakal calon rektor baru dari sebuah kampus hadir dalam acara diskusi yang diselenggarakan oleh sekelompok mahasiswa. Diskusi ini lebih banyak dimonopoli oleh ceramah dengan motif kepentingan menyampaikan visi misi. Diskusi yang juga membicarakan keinginan-keinginan yang kadang mengambil tajuk khayalan yang terlampau jauh dan tinggi hingga lupa diri.

Berbicara tentang keterbukaan, keadilan, kompetensi, daya saing, integritas dan moto hidup lainnya adalah soal pemilihan kata yang bisa dilakukan oleh semua orang. Jenuh rasanya mendengarkan hal demikian berjam-jam dari beberapa orang dalam waktu yang bersamaan dalam panggung yang sama, panggung sejarah calon penguasa. Pemimpin dipilih bukan untuk memilih kata-kata terbaik ketika ditakdirkan, tapi berkerja dengan komitmen pengabdian yang terbaik dalam perjalananya. Mereka semua berbicara banyak dan visioner. Tapi lupa pada hal-hal kecil yang bersifat praktis. Obrolan mandeg pada evaluasi dan penjajakan solusi yang teoritis dan normatif tapi lupa pada kebermanfaatan dan penerapannnya.

3 jam menunggui ceramah ini saya hanya mendapatkan upaya dialogis yang begitu mapan dan mumpuni dari semua bakal calon rektor. Kalau saya bertindak sebagai dosen pengampu mata kuliah berbicara maka saya akan langsung menganugrahi nilai A pada ketiganya. Gaya berbahasanya meyakinkan dengan sesekali akronim-akronim baru serta jargon-jargon yang mereka buat. Tapi kalau saya bertindak sebagai juri dalam pertandingan badminton, maka saya hanya melihat shuttle cock yang dimainkan masing-masing oleh bakal calon rektor ini melayang-layang di atas kepala. Tidak ada arah dan sasaran yang jelas dalam praktik-praktik dan penerapan dari mimpi-mimpi yang telah mereka utarakan. Semua masih melayang-layang di atas kepala karena logika manusia teori yang berjalan bukan manusia sosial yang mengambil posisi manfaat dan gerak pasti. Semua mengambil jarak terhadap nilai-nilai praktis dan sikap terhadap seni dan budaya.

Padahal integritas yang dimaksud dalam pendidikan tidak mungkin mengabaikan seni dan budaya sebagai landasannya. Kalaulah kampus mau dibangun untuk mencetak manusia-manusia robot yang terlatih dalam kotak-kotak fakultasnya masing-masing maka diskusi hari ini sudah mengarah ke sana. Pendidikan karakter mungkin hanya akan dibangun dengan pembangunan fisik baik dari segi sarana dan prasarana penunjang maupun ketangguhan manusianya dalam hal akademik. Otak kiri akan digenjot sedemikian rupa sehingga menggembung sebesar-besarnya dan otak kanan yang berbasis kreativitas dan kesenian akan digembosi sehingga menyusut sedemikian rupa hingga menjadi kerdil. Maka tidak ada perubahan yang mungkin bisa diharapkan dari penguasa baru kampus kecuali melanjutkan pengerdilan. *semoga tidak terjadi.

Pada akhirnya semoga timbul kesadaran dan kemauan penguasa baru untuk menjadikan kampus yang cerdas akademik juga cerdas budaya tanpa berlindung dibalik tendensi apapun dan siapapun. Jangan biarkan nafsu materi menguasai tapi biarkanlah nurani untuk berpikir dan menentukan pilihannya.