Sebuah momen mengumpulkan beberapa
bakal calon rektor baru dari sebuah kampus hadir dalam acara diskusi yang
diselenggarakan oleh sekelompok mahasiswa. Diskusi ini lebih banyak
dimonopoli oleh ceramah dengan motif kepentingan menyampaikan visi misi.
Diskusi yang juga membicarakan keinginan-keinginan yang kadang mengambil tajuk
khayalan yang terlampau jauh dan tinggi hingga lupa diri.
Berbicara
tentang keterbukaan, keadilan, kompetensi, daya saing, integritas dan moto
hidup lainnya adalah soal pemilihan kata yang bisa dilakukan oleh semua orang. Jenuh
rasanya mendengarkan hal demikian berjam-jam dari beberapa orang dalam waktu
yang bersamaan dalam panggung yang sama, panggung sejarah calon penguasa. Pemimpin
dipilih bukan untuk memilih kata-kata terbaik ketika ditakdirkan, tapi berkerja
dengan komitmen pengabdian yang terbaik dalam perjalananya. Mereka semua
berbicara banyak dan visioner. Tapi lupa pada hal-hal kecil yang bersifat
praktis. Obrolan mandeg pada evaluasi dan penjajakan solusi yang teoritis dan
normatif tapi lupa pada kebermanfaatan dan penerapannnya.
3 jam menunggui
ceramah ini saya hanya mendapatkan upaya dialogis yang begitu mapan dan mumpuni
dari semua bakal calon rektor. Kalau saya bertindak sebagai dosen pengampu mata
kuliah berbicara maka saya akan langsung menganugrahi nilai A pada ketiganya.
Gaya berbahasanya meyakinkan dengan sesekali akronim-akronim baru serta jargon-jargon
yang mereka buat. Tapi kalau saya bertindak sebagai juri dalam pertandingan
badminton, maka saya hanya melihat shuttle
cock yang dimainkan masing-masing oleh bakal calon rektor ini
melayang-layang di atas kepala. Tidak ada arah dan sasaran yang jelas dalam
praktik-praktik dan penerapan dari mimpi-mimpi yang telah mereka utarakan.
Semua masih melayang-layang di atas kepala karena logika manusia teori yang
berjalan bukan manusia sosial yang mengambil posisi manfaat dan gerak pasti. Semua
mengambil jarak terhadap nilai-nilai praktis dan sikap terhadap seni dan
budaya.
Padahal
integritas yang dimaksud dalam pendidikan tidak mungkin mengabaikan seni dan
budaya sebagai landasannya. Kalaulah kampus mau dibangun untuk mencetak
manusia-manusia robot yang terlatih dalam kotak-kotak fakultasnya masing-masing
maka diskusi hari ini sudah mengarah ke sana. Pendidikan karakter mungkin hanya
akan dibangun dengan pembangunan fisik baik dari segi sarana dan prasarana
penunjang maupun ketangguhan manusianya dalam hal akademik. Otak kiri akan
digenjot sedemikian rupa sehingga menggembung sebesar-besarnya dan otak kanan
yang berbasis kreativitas dan kesenian akan digembosi sehingga menyusut
sedemikian rupa hingga menjadi kerdil. Maka tidak ada perubahan yang mungkin
bisa diharapkan dari penguasa baru kampus kecuali melanjutkan pengerdilan. *semoga tidak terjadi.
Pada
akhirnya semoga timbul kesadaran dan kemauan penguasa baru untuk menjadikan
kampus yang cerdas akademik juga cerdas budaya tanpa berlindung dibalik
tendensi apapun dan siapapun. Jangan biarkan nafsu materi menguasai tapi
biarkanlah nurani untuk berpikir dan menentukan pilihannya.