#under_header{ float:left; width:100%; } #under_header1{ float:left; width:25%; } #under_header2{ float:left; width:25%; } #under_header3{ float:left; width:25%; } #under_header4{ float:right; width:25%; }

Jumat, 03 Oktober 2014

Bisik

Berbisik selalu menjadi tanda yang mengawali kecurigaan. Ada sesuatu yang tersembunyi atau sengaja disembunyikan yang tidak boleh dketahui isi dari bisikannya itu. Apalagi jika bisikkan diolah dengan lirikan mata. Maka sempurnalah kecurigaan. Jika orang-orang disekitarmu ada yang berbisik-bisik tentu kau akan merasa resah, bukan karena khawatir atau takut tapi karena rasa ingintahumu ditekan oleh orang lain.


Ambang


Apa yang terjadi kemarin maupun hari ini? Kemarin seharusnya menjadi hari yang menyenangkan karena semua kembali seperti adanya. Lepas lebih dari 2 minggu tanpa mereka,kemarin malam kembali menjadi bagian indah bersama mereka, seharusnya. Tapi yang terjadi sama sekali berbeda. Malam menjelang akhir, ternyata menyisakan pesan yang tak kunjung bisa dilupakan begitu saja. Tak bisa sedikitpun aku melepas pesan singkat itu semalam.  Tolong ....... Begitulah kira-kira pesan singkat yang menjadi bebanku sekarang. Tanpa basa-basi dan tanpa pengantar atau pendahuluan, strukturnya tidak lengkap tapi terarah jelas pada tujuannya. Semuanya berawal dari pesan itu.


Yah aku tak pernah berpikir untuk membuat sebuah tindakan yang membuat orang lain merasa dirugikan atau dibuat kecewa. Sama sekali tak merencanakan untuk yang demikian. Kemarin semua berjalan wajar tapi ketidakwajaran ternyata dirasakan oleh orang yang berbeda. Sungguh di luar perkiraan. Aku tidak bisa melepaskan kesalahan yang tanpa sengaja itu sampai sekarang. Perjalanan hari ini pun menjadi melayang tanpa tujuan. Begitupun dengan semua lengan dan kepala yang tiba-tiba lemas tanpa syarat dan perintah. Semuanya melemah dan mengambang mengakibatkan aku bergelut dengan ketidakjelasan. Semua perkara seperti menuntut dalam waktu yang bersama-sama tanpa antrean tanpa urutan. Sekarang atau mati saja kau!