14 April 2015
Mereka memaksa memejam. Semua
terasa lamban, tapi ada baiknya. Tidak ada buru-buru atau tergesa-gesa dalam
sesuatu. Semua berjalan sabar penuh kenikmatan emosional. Apalagi dua anak
bermulut besar tidak datang sore ini. Ketenangpun semakin menjadi-jadi. Mata
makin memerah dan memanas menahan degup hati yang tentu tenangnya menusuk ruang
nurani paling dalam. Sembari menahan rasa kantuk aku terdiam dan menahan
keinginan yang bakal sia-sia. Sesekali aku menekan ujung jari-jari tangan yang
makin dingin. Aku ingin memastikan mataku terjaga diantara kalian. Tapi aku
terpaksa terpejam juga.
15 April 2015
Masih di tempat yang sama tapi
dengan suasana yang sedikit berbeda. Rasa kantuk tidak sederas kemarin
datangnya. Tapi sore ini lebih banyak mengirim rasa dingin dan pasrah. Aku
makin kisut dan ciut seperti mata yang baru saja ku lihat sekejap. Sepasang
mata yang kekurangan daya. Yakin benar kalau rasa kantukku yang kemarin, kini
berpindah tempat padanya. Mataku sedikit berdaya daripadanya tapi kuasanya jauh
lebih besar ketimbang yang aku punya. Saat seperti inilah aku ingin segera
mengakhiri pekerjaan ini. Rasanya kepantasan jauh dariku. Aku seperti tinggal
onggokan tubuh tanpa impian dan gerakan. Bergerak hanya semaunya dan
seperlunya. Berpura-pura saja!