#under_header{ float:left; width:100%; } #under_header1{ float:left; width:25%; } #under_header2{ float:left; width:25%; } #under_header3{ float:left; width:25%; } #under_header4{ float:right; width:25%; }

Senin, 11 Mei 2015

Dua Hari

14 April 2015
Mereka memaksa memejam. Semua terasa lamban, tapi ada baiknya. Tidak ada buru-buru atau tergesa-gesa dalam sesuatu. Semua berjalan sabar penuh kenikmatan emosional. Apalagi dua anak bermulut besar tidak datang sore ini. Ketenangpun semakin menjadi-jadi. Mata makin memerah dan memanas menahan degup hati yang tentu tenangnya menusuk ruang nurani paling dalam. Sembari menahan rasa kantuk aku terdiam dan menahan keinginan yang bakal sia-sia. Sesekali aku menekan ujung jari-jari tangan yang makin dingin. Aku ingin memastikan mataku terjaga diantara kalian. Tapi aku terpaksa terpejam juga.

15 April 2015

Masih di tempat yang sama tapi dengan suasana yang sedikit berbeda. Rasa kantuk tidak sederas kemarin datangnya. Tapi sore ini lebih banyak mengirim rasa dingin dan pasrah. Aku makin kisut dan ciut seperti mata yang baru saja ku lihat sekejap. Sepasang mata yang kekurangan daya. Yakin benar kalau rasa kantukku yang kemarin, kini berpindah tempat padanya. Mataku sedikit berdaya daripadanya tapi kuasanya jauh lebih besar ketimbang yang aku punya. Saat seperti inilah aku ingin segera mengakhiri pekerjaan ini. Rasanya kepantasan jauh dariku. Aku seperti tinggal onggokan tubuh tanpa impian dan gerakan. Bergerak hanya semaunya dan seperlunya. Berpura-pura saja!