Hari-hari ini tidak akan pernah lagi
ayah dapatkan. Satu, dua atau bahkan lima tahun lagi kau mungkin sudah pergi
dari keluarga yang membesarkanmu. Ibumu memang telah lama pergi tapi mungkin
akan kembali. Hanya persoalan waktu yang tidak bisa ayah jawab. Tapi kau
sekarang jauh lebih dewasa dari lima tahun lalu. Tahun lalu kau sudah bisa
membuat alasan bagus untuk bisa keluar lebih lama dari rumah, ikut kegiatan di
sekolah dan segala hal.
Tapi kebanggaan juga bagi ayah karena
sedikit demi sedikit kau mulai bisa mengurangi pengeluaran uangmu, terutama
uang jajanmu. Masalah biaya sekolah memang tidak bisa ditangguhkan waktunya.
Sekolah hanya memberi pengunduran pembayaran beberapa hari saja. Ayah selalu
membayarnya dibatas terakhir. Mungkin sekrang sekolah sudah mulai biasa dengan kedatangan ayah ke sekolah di
tiap akhir semester itu. Pegawai tata usaha pun beberapa kali memasang masam
senyumnya kepada ayah. Tapi untunglah kepala sekolahmu berbaik hati. Kebanggaan
ayah juga bertambah padamu. Mungkin kamu bertanya mengapa? Iya karena sedikit
anak mungkin yang akan bisa menahan malu pada teman-teman sekolahnya melihat
keadaan ayahmu juga pembayaran uang sekolahmu yang rutin telat. Mungkin juga sedikit
teman-temanmu yang tahu. Tapi itu lebih baik daripada banyak bertanya dan
mengejekmu.
Dua tahun lalu ayah melihatmu bisa seimbang mengendalikan sepeda yang baru ayah belikan. Memang tidak seberapa mahal dan bagus. Tapi ayah melihat ekspresi kegembiraan itu pada wajahmu. Semangatmu untuk bangkit dan menghapus lukamu sendiri karena jatuh juga kebahagiaan buat ayah. Kau tidak lagi cengeng seperti dulu.
