#under_header{ float:left; width:100%; } #under_header1{ float:left; width:25%; } #under_header2{ float:left; width:25%; } #under_header3{ float:left; width:25%; } #under_header4{ float:right; width:25%; }

Minggu, 02 September 2012

Rum yang tak selesai


Perempuan itu. Kenapa dia yang kembali mengingatkan aku pada rasa yang sempat aku rasai dulu. Berbeda secara apapun, namun tidak secara mata melihat jujur. Mataku terus saja mengikutinya, mengutukinya ketika dia pergi tanpa sebab kejelasan. Lihatlah dibelakang, terus saja aku berharap bayangan itu selalu ada bersama untuk menenangkan rasa ini. Namun ketiadaan bayangan itu adalah keputusasaan yang tak terbalas. Dia pergi, aku terperdaya dan terasuki sifat-sifat yang dia tinggalkan. 

Bantalan beton berlapis keramik merah saga itu menjadi saksi kebodohanku saat didepan matanya yang layu merayu. Aku kehabisan cara dan kata untuk berbicara. Maka hanya senyum tipis yang kembali aku dapati di muka oval itu. Orang-orang memanggilnya Rumi. Tapi aku pantang memanggil namanya. Nama itu terlalu berat untuk terucap, karena harus mengulang kembali melihatmu berakhir dengan cara yang tidak bisa aku percayai. 

Kamu memang bukan Rumi yang sempat aku kenal sekarang, tapi apa yang hati tanyakan seratus persen adalah sama.  Jadi ini adalah kebodohanku yang menganggap Rumi sama denganmu. 

Bayangan itu pecah dalam genangan air yang terlindas ban sebuah mobil. Membuyarkan harapan yang terlalu berlebih. Sementara mobil hitam itu terus melaju tak bersalah membuat tidak hanya bayangan yang hancur tapi juga baju yang basah kepayahan menahan limpahan genangan air itu. Lagi lagi aku hanya bisa bersumoah serapah pada pengendara mobil yang telah mematikan semangat dalam dada ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar