Perempuan itu. Kenapa dia yang kembali mengingatkan aku pada rasa yang
sempat aku rasai dulu. Berbeda secara apapun, namun tidak secara mata melihat
jujur. Mataku terus saja mengikutinya, mengutukinya ketika dia pergi tanpa
sebab kejelasan. Lihatlah dibelakang, terus saja aku berharap bayangan itu
selalu ada bersama untuk menenangkan rasa ini. Namun ketiadaan bayangan itu
adalah keputusasaan yang tak terbalas. Dia pergi, aku terperdaya dan terasuki
sifat-sifat yang dia tinggalkan.
Bantalan beton berlapis keramik merah saga itu menjadi saksi kebodohanku
saat didepan matanya yang layu merayu. Aku kehabisan cara dan kata untuk
berbicara. Maka hanya senyum tipis yang kembali aku dapati di muka oval itu. Orang-orang
memanggilnya Rumi. Tapi aku pantang memanggil namanya. Nama itu terlalu berat
untuk terucap, karena harus mengulang kembali melihatmu berakhir dengan cara
yang tidak bisa aku percayai.
Kamu memang bukan Rumi yang sempat aku kenal sekarang, tapi apa yang
hati tanyakan seratus persen adalah sama.
Jadi ini adalah kebodohanku yang menganggap Rumi sama denganmu.
Bayangan itu pecah dalam genangan air yang terlindas ban sebuah mobil.
Membuyarkan harapan yang terlalu berlebih. Sementara mobil hitam itu terus
melaju tak bersalah membuat tidak hanya bayangan yang hancur tapi juga baju
yang basah kepayahan menahan limpahan genangan air itu. Lagi lagi aku hanya
bisa bersumoah serapah pada pengendara mobil yang telah mematikan semangat
dalam dada ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar