#under_header{ float:left; width:100%; } #under_header1{ float:left; width:25%; } #under_header2{ float:left; width:25%; } #under_header3{ float:left; width:25%; } #under_header4{ float:right; width:25%; }

Senin, 25 November 2013

Jauh panggang dari api

Tidak penting bagi saya soal persiapan yang begitu macam kalau pada akhirnya tak terlaksana juga. Apalagi tipe serupa superpengawas yang hanya meminta jatah perbekalan sebelum per jalanan panjang. Ini pendidikan sudah terlalu akut dengan nilai-nilai kognitif yang dituhankan. Betapa teori-teori tentang kecakapan hidup dalam hubungan sosial berhenti pada batasan konsep dan diskusi. Pendidikan mandeg dan terjebak pada egois nilai-nilai yang menjadi target belajar. Bagi saya nilai adalah kejujuran, bukan soal tinggi rendahnya angka yang didapat tapi tentang keterampilan yang dia punya. Ini tentang nilai-nilai altruis yang kemudian mulai harus ditumbuhkan dan kepekaan sosial yang mulai diperhatikan.

Saya tercengang membaca sebuah artikel tentang kelompok masyarakat tertentu yang memosisikan hidup dan kehidupannya dengan begitu matangnya. Bahkan sampai pada masa dalam kandungan dan rahim ibu sekalipun. Betapa nilai-nilai kehidupan telah diajarkan oleh orang tua bahkan sebelum kelahirannya ke dunia. Tapi yang saya temukan pada koran-koran dan berita-berita di televisi nasional akhir-akhir ini di bumi Indonesia tidaklah demikian. Bayi-bayi merah terbuang atau mungkin lebih banyak karena sengaja dibuang diberitakan dimana-mana. Ibu-ibu muda yang mengandung di luar nikah, hingga praktik aborsi legal maupun ilegal, terbuka maupun sembunyi-sembunyi mulai terbongkar ke publik. Betapa hidup dan kehidupan tak lagi sebagai sebuah amanat yang penting dari Tuhan.

Sementara itu tengoklah sejenak ke sebuah klinik, puskesmas atau rumah sakit terdekat.  Anak-anak meratap meminta kesembuhan atas sakit yang sedang dialami orang tuanya. Ibu-ibu muda bersujud bersama tangis pilu melihat suaminya yang terkapar. Hingga orang tua yang menangisi anak semata wayangnya yang sakit terjangkit DBD. Semuanya meminta hal yang sama kepada Tuhan yaitu kehidupan. Sebuah hal yang ironi sekaligus paradoks dalam ruang yang sebenarnya berdekatan. Antara kehidupan yang dianggap penting dan tidak penting.

Tak hanya pada soal kelahiran bahkan sampai hal paling kecil sekalipun “mereka” sangat memperhatikannya. Asap rokok, sebuah hal kecil yang disepelekan di bumiku Indonesia. Tak hanya sebagai penghasil karbonmonoksida, racun yang mematikan bagi manusia tapi juga mengandung nikotin dan zat-zat lain yang tak kalah destruktif terhadap otak manusia. Mereka sangat menghindarinya. Kita sudah tahu dampak buruk dari itu semua. Tapi kita “ndableg” menghisapnya juga. Mereka percaya bahwa dosa asap rokok adalah dosa turunan yang tak akan pernah berhenti hitungannya. Maka apa yang terjadi di sini? Anak-anak kecil bahkan balita beberapa kali bahkan nongol di televisi sebagai perokok aktif yang tak sekadar menghabis satu atau dua batang rokok setiap harinya. Anak-anak menjadi korban prilaku orang tua yang tak peduli pada kehidupan dan kesehatan. Prinsip anak adalah aku kerjakan apa yang orang tuaku ucapkan dan kerjakan. Sederhana tapi terabaikan. Maka wajar saja kalau muncul pribahasa buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Orang tua yang ndableg  akan menghasilkan anak-anak yang ndableg juga.


Tiba-tiba saya teringat pada sebuah pidato menteri pendidikan dan kebudayaan dalam rangka peringatan hari guru nasional kemarin. Katanya dalam sambutan pidati tertulisnya, kita harus menyiapkan generasi emas penerus bangsa pada tahun 2045 mendatang, menyambut 100 tahun kemerdekaan Negara. Apa jadinya generasi emas itu jika soal kebutuhan untuk hidup saja bukan menjadi sebuah kebutuhan yang penting dan mendasar. 
Barangkali bukan emas 24 karat yang dilahirkan. Tetapi emas yang berkarat

Sabtu, 23 November 2013

Singkat

Pagi ini salah satu anak didik ada yang jujur berkata, “Tulisan Bapak di blog kaya buku harian pak.”
Terus saya cuma jawab, “Iya ngga apa-apa.”
“Kalau saya sih mending nulis di buku harian pak.”
“Oh iya bagus itu yang penting ada ruang untuk berekspresi.”

Kami meninggalkan percakapan singkat itu tanpa komando. Ibu kantin langganan saya sudah siap ditangannya lontong sayur lengkap dengan kerupuk di atasnya. Seperti biasa saya duduk menikmati sarapan berkuah pagi ini. Kami pun berlalu.

Tinggi:untuk melihat ke bawah

Puncak tak selamanya menjadi batas tertinggi. Ekspektasi yang terlalu tinggi adalah salah satu penyebab tergelincirnya kepuasaan pada batas yang biasa-biasa saja. Saya teringat pada beberapa kata yang pernah saya tulis sebelum ini. Tidak perlu jauh kau daki gunung-gunung hingga puncak tertinggi bumi jika pada akhirnya kau hanya akan menemukan alasan untuk melupakan penciptamu sendiri. Wajar saja jika lelah kaki berjalan merajai tubuh yang semakin bergetar karena jarak yang tiba-tiba ekstrim. Kaki-kaki menelusuri lembah-lembah yang curam, bertahan dan terus berjalan hanya untuk titik tertinggi daratan ini. Tapi tak sesederhana itu. Di sini adalah tempat berbagi, tak sekadar beban atau curahan perasaan. Lebih dari itu adalah tentang hidup untuk saling menghidupi bukan malah membebani. 

Bukan soal ketidakikhlasan yang akan diungkap, tapi soal tanggungjawab atas pribadi yang landai dimakan kaki-kaki yang keram. Puncak pun menunggu klimaks yang tak terduga menembus batas-batas senja bersama kaki-kaki yang kaku, badan yang menggigil, topi yang terbang melayang, kawah yang curam dan api yang menjadi teman tanpa sadar.

10 November 2013