Tidak penting bagi saya soal
persiapan yang begitu macam kalau pada akhirnya tak terlaksana juga. Apalagi tipe
serupa superpengawas yang hanya meminta jatah perbekalan sebelum per jalanan
panjang. Ini pendidikan sudah terlalu akut dengan nilai-nilai kognitif yang
dituhankan. Betapa teori-teori tentang kecakapan hidup dalam hubungan sosial berhenti
pada batasan konsep dan diskusi. Pendidikan mandeg dan terjebak pada egois nilai-nilai
yang menjadi target belajar. Bagi saya nilai adalah kejujuran, bukan soal
tinggi rendahnya angka yang didapat tapi tentang keterampilan yang dia punya. Ini
tentang nilai-nilai altruis yang kemudian mulai harus ditumbuhkan dan kepekaan sosial
yang mulai diperhatikan.
Saya tercengang membaca sebuah
artikel tentang kelompok masyarakat tertentu yang memosisikan hidup dan
kehidupannya dengan begitu matangnya. Bahkan sampai pada masa dalam kandungan
dan rahim ibu sekalipun. Betapa nilai-nilai kehidupan telah diajarkan oleh
orang tua bahkan sebelum kelahirannya ke dunia. Tapi yang saya temukan pada koran-koran
dan berita-berita di televisi nasional akhir-akhir ini di bumi Indonesia tidaklah
demikian. Bayi-bayi merah terbuang atau mungkin lebih banyak karena sengaja
dibuang diberitakan dimana-mana. Ibu-ibu muda yang mengandung di luar nikah,
hingga praktik aborsi legal maupun ilegal, terbuka maupun sembunyi-sembunyi mulai
terbongkar ke publik. Betapa hidup dan kehidupan tak lagi sebagai sebuah amanat
yang penting dari Tuhan.
Sementara itu tengoklah sejenak
ke sebuah klinik, puskesmas atau rumah sakit terdekat. Anak-anak meratap meminta kesembuhan atas
sakit yang sedang dialami orang tuanya. Ibu-ibu muda bersujud bersama tangis
pilu melihat suaminya yang terkapar. Hingga orang tua yang menangisi anak
semata wayangnya yang sakit terjangkit DBD. Semuanya meminta hal yang sama
kepada Tuhan yaitu kehidupan. Sebuah hal yang ironi sekaligus paradoks dalam
ruang yang sebenarnya berdekatan. Antara kehidupan yang dianggap penting dan
tidak penting.
Tak hanya pada soal kelahiran
bahkan sampai hal paling kecil sekalipun “mereka” sangat memperhatikannya. Asap
rokok, sebuah hal kecil yang disepelekan di bumiku Indonesia. Tak hanya sebagai
penghasil karbonmonoksida, racun yang mematikan bagi manusia tapi juga
mengandung nikotin dan zat-zat lain yang tak kalah destruktif terhadap otak
manusia. Mereka sangat menghindarinya. Kita sudah tahu dampak buruk dari itu
semua. Tapi kita “ndableg” menghisapnya juga. Mereka percaya bahwa dosa asap
rokok adalah dosa turunan yang tak akan pernah berhenti hitungannya. Maka apa
yang terjadi di sini? Anak-anak kecil bahkan balita beberapa kali bahkan nongol
di televisi sebagai perokok aktif yang tak sekadar menghabis satu atau dua
batang rokok setiap harinya. Anak-anak menjadi korban prilaku orang tua yang
tak peduli pada kehidupan dan kesehatan. Prinsip anak adalah aku kerjakan apa yang orang tuaku ucapkan
dan kerjakan. Sederhana tapi terabaikan. Maka wajar saja kalau muncul pribahasa
buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Orang
tua yang ndableg akan menghasilkan anak-anak yang ndableg juga.
Tiba-tiba saya teringat pada
sebuah pidato menteri pendidikan dan kebudayaan dalam rangka peringatan hari
guru nasional kemarin. Katanya dalam sambutan pidati tertulisnya, kita harus
menyiapkan generasi emas penerus bangsa pada tahun 2045 mendatang, menyambut
100 tahun kemerdekaan Negara. Apa jadinya generasi emas itu jika soal kebutuhan
untuk hidup saja bukan menjadi sebuah kebutuhan yang penting dan mendasar.
Barangkali bukan emas 24 karat yang dilahirkan. Tetapi emas yang berkarat.