Puncak tak selamanya menjadi batas tertinggi. Ekspektasi yang terlalu tinggi adalah salah satu penyebab tergelincirnya kepuasaan pada batas yang biasa-biasa saja. Saya teringat pada beberapa kata yang pernah saya tulis sebelum ini. Tidak perlu jauh kau daki gunung-gunung hingga puncak tertinggi bumi jika pada akhirnya kau hanya akan menemukan alasan untuk melupakan penciptamu sendiri. Wajar saja jika lelah kaki berjalan merajai tubuh yang semakin bergetar karena jarak yang tiba-tiba ekstrim. Kaki-kaki menelusuri lembah-lembah yang curam, bertahan dan terus berjalan hanya untuk titik tertinggi daratan ini. Tapi tak sesederhana itu. Di sini adalah tempat berbagi, tak sekadar beban atau curahan perasaan. Lebih dari itu adalah tentang hidup untuk saling menghidupi bukan malah membebani.
Bukan soal ketidakikhlasan yang akan diungkap, tapi soal tanggungjawab atas pribadi yang landai dimakan kaki-kaki yang keram. Puncak pun menunggu klimaks yang tak terduga menembus batas-batas senja bersama kaki-kaki yang kaku, badan yang menggigil, topi yang terbang melayang, kawah yang curam dan api yang menjadi teman tanpa sadar.
10 November 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar