![]() | |
| Sarawaki atau Bulu Babi setelah diolah sederhana |
Bulu Babi? Yakin
halal tuh dimakan?
Pertanyaan seperti
itu mungkin akan secara sepintas muncul dibenak kita ketika baru kali pertama
mendengar Bulu Babi. Bulu babi yang kita maksudkan di sini ialah sejenis satwa
laut yang banyak terdapat di perairan nusantara yang kaya. Menjelejah Indonesia
dari Sabang hingga Merauke, dari Mianggas hingga pulau Rote pasti kita akan dapat temukan dengan mudah Si Bulu Babi ini, khususnya di wilayah pesisir atau
pantai.
Di setiap
daerah dengan kultur yang berbeda mungkin Si Bulu Babi akan mendapatkan sebutan
yang berbeda pula. Masyarakat Raja Ampat misalnya menggunakan sebutan Sarawaki
untuk menamai Bulu Babi ini yang dalam bahasa Inggris disebut sebagai sea urchin atau landak laut.
Sarawaki berbentuk
bulat dengan duri-duri tajam melindungi sekeliling tubuhnya yang rapuh. Tubuhnya
memang hanya berbalut cangkang yang rapuh, namun jangan coba-coba untuk
memegangnya dengan tangan kosong karena duri-duri pelindungnya akan segera
bereaksi dengan menusuk apa saja yang
mengganggunya. Sengatan bulu-bulu pada Sarawaki inilah yang dilaporkan sering
menimpa para penyelam karena tidak sengaja menyentuh atau menginjak Si Bulu
Babi. Racun yang terdapat dalam setiap durinya memang akan cukup membuat
penderitanya merasa kesakitan dan ‘cenat-cenut’ pada bagian yang tersuntik
duri.
Namun siapa
sangka, dibalik racun yang menempel pada duri-durinya, Si Bulu Babi ternyata
bisa dimakan lho. Tentu bukan si duri-duri tajam tadi yang dimakan melainkan
bagian telur-telur berwarna kekuningan yang berada di dalam tubuh cangkangnya.
Untuk mendapatkan
Si Bulu Babi, masyarakat di Misool, Raja Ampat bisanya menunggu saat-saat air
laut sedang meti, sebutan untuk laut yang sedang surut sehingga air laut
menjadi dangkal. Saat air surut inilah bulu babi lebih mudah untuk dicari
karena air laut yang dangkal memudahkan mata untuk mencarinya. Berbeda pada
kondisi laut yang dalam kondisi tidak surut maka bulu babi akan cerdik
menyelinap dan bersembunyi diantara karang-karang dan batuan.
Setelah mendapatkan
Si Bulu Babi masyarakat di Misool biasanya akan mengumpulkannya ke dalam sebuah
wadah yang aman. Memakan secara mentah-mentah Si Bulu Babi ini juga sudah
menjadi kebiasaan masyarakat di sini. Tentunya tidak semua bagian bisa dimakan,
hanya bagian telur yang terdapat di dalam tubuhnya saja yang bisa dimakan.
![]() |
| Telur Bulu Babi yang berwarna kekuningan |
Bulu babi
yang terkumpul kemudian dibersihkan dari duri-durinya dengan memukul-mukulnya
dengan sebilah kayu atau pisau hingga duri-duri tajamnya rontok. Setelah bulu
babi bebas dari duri tajam, langkah selanjutnya ialah membongkar bagian
cangkangnya. Cangkang dibelah dengan menggunakan pisau secara memutar hingga
bulu babi terbelah menjadi dua bagian. Setelah terbelah, akan tampaklah seluruh
isi dari bagian dalam tubuhnya. Bagian yang berwarna kuning atau jingga itulah
yang bisa dimakan atau diolah menjadi masakan. Itulah bagian telur dari Si Bulu
Babi yang konon mengandung banyak protein.
Nah, untuk
kamu yang doyan makanan mentah, telur bulu babi ini boleh kamu coba. Rasanya memang
sedikit berbeda dengan telur bulu babi yang sudah dimasak. Jika hendak
mencobanya secara mentah, maka sebaiknya taburkan perasan air jeruk lemon di
atasnya untuk mengurangi bau amis. Aroma amis khas binatang laut tentu jadi
yang paling mendominasi berpadu dengan kesegaran khas dan sedikit asin.
![]() |
| Telur Bulu Babi yang masih mentah |
Sebagai
informasi tambahan telur bulu babi ini konon banyak dijadikan sebagai topping (taburan) pada makanan khas Jepang loh,
yaitu sushi karena kandungan proteinnya yang tinggi. Nah, selamat berpelesiran
ya. Dimanapun kamu temukan Si Bulu Babi kamu boleh mencobanya sebagai kuliner
yang pasti tidak semua orang pernah mencicipnya.
#jelajahgizi
#jelajahgiziminahasa
#sarihusada
#nutrisiuntukbangsa
#jelajahgizi
#jelajahgiziminahasa
#sarihusada
#nutrisiuntukbangsa





