Esok
adalah 85 tahun sumpah pemuda. Kalau seseorang
saat itu menjadi bagian dari para pemuda yang mengikat janji persatuan
nusa, bangsa dan bahasa maka sekarang beliau pasti sedang melihat anak cucunya
menikmati hasil perjuangan mereka. Tapi sepertinya seseorang itu tidak akan
puas dengan keadaan sekarang. Lihatlah kita memang sudah merdeka dan bersatu.
Tapi kemerdekaan itu ternyata menciptakan model baru penjajahan dari rakyatnya
sendiri. Bukan rakyat sebenarnya kalau dia menjadi antek dari penjajahan baru
itu. Kedegilan macam itu hanya menjadi sampah dari rumah sendiri. Kedegilan
yang diciptakan oleh oknum-oknum yang antinasionalisme.
Seharusnya
siapapun tahu betapa persatuan dan kemerdekaan adalah harga yang hanya bisa
didapat dengan kerja paling keras, mengorbankan harta, raga dan jiwa sekalipun.
Tapi kau kehilangan harga diri sekarang. Sesuatu yang menjadi barang terlarang
untuk dijual kepada siapapun. Kau jual harga diri berarti kau jual kemerdekaan
itu!
Tak
ada lagi memang pemutaran film-film perjuangan yang diputar secara masal di televisi,
bahkan televise milik Negara sekalipun. Agaknya menjadi tidak penting untuk
mengulang-ulang film yang sama setiap tahun, pikir mereka. Padahal logika
mengatakan setiap ada ribuan pasang mata baru yang terlahir di bumi Indonesia.
Persoalan sejarah bukan monopoli orang tua saja. Anak-anak kecil tak tahu
sejarah bangsanya bagai terlahir tanpa pernah tahu siapa ibu dan bapaknya.
Sehingga ketika melihat sosok orang yang berperawakan tinggi, tegak, putih dan
berambut pirang dia akan selalu berpikir untuk tunduk padanya. Kita sama-sama
diciptakan Tuhan tanpa kewajiban untuk saling menyembah kecuali tolong
menolong.
Sejarah
seharusnya mampu meningkatkan rasa bangga dan cinta terhadap pribadi dan bangsanya. Tapi tanpanya?
Jakarta, 27 Oktober
2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar