#under_header{ float:left; width:100%; } #under_header1{ float:left; width:25%; } #under_header2{ float:left; width:25%; } #under_header3{ float:left; width:25%; } #under_header4{ float:right; width:25%; }

Senin, 26 Mei 2014

SURAT MALAM

4 tahun lalu

Jikalau malam kini tak lagi melihat
kesempurnaan karena waktu
Jikalau malam kini tak mampu menyapamu lagi
karena kesempatan
Jikalau malam kini tak sanggup lagi mengulurkan
seribu tangannya karena jaraknya
Jikalau seribu kali harapan
kau gantungkan aku di malam ini
dan malam kini seolah tak lagi bersahabat
seperti awalnya karena aku
Haruskah ranting dedaunan tanggal begitu saja
hanya dalam satu hembusan angin malam
Mungkin seperti dua titik
yang tak pernah sekalipun terhubung
Meskipun telah berikrar diantaranya
untuk sebuah g a r i s . . .



Kemeriahan dan kesepian

Ada yang bilang ini seperti makan buah simalakama. Ada juga yang bilang sakit seperti ketika gigi memahat lidahmu sendiri. Tapi tidak ada pilihan. Ini bukan paksaan tapi keharusan. Semua orang mengamini saya untuk ada di sini. Saya tidak mengatakan saya tidak bisa. Tapi saya ingin mengatakan saya tidak bisa tanpa bantuan kalian. Itulah yang saya khawatirkan. Prosesi pengangkatan memang berjalan meriah dengan suasana kekeluargaan yang luar biasa. Saya memang merasakan itu di sana, di permulaan, ketika saya baru akan memulai. Tapi selepas start dimulai kemeriahan itu mulai luntur juga. Kekhawatiran terjawab dengan keadaan. Saya bisa menjawab kondisi ini dengan berbagai konsekuensi. Bukan loyalitas atau komitmen yang saya gadaikan tapi kepetingan pribadi yang tergerus organisasi. Konsekuen-konsekuen itu mulai bisa diraba dan dirasakan sekarang bahkan melihatnya pun tak sesulit seperti mengumpulkan anak-anak untuk belajar membaca, menulis dan menghitung.

Semangat pun mudah luntur seperti bara api tanpa kawan. Hanya datangnya rasa sesal yang bisa sedikit mengobati waktu yang telah terluka. Tapi saya juga meragukan datangnya rasa sesal itu, hanya pelajaran yang bakal mengubahnya. Saya bukan aktor, bukan juga superman! Saya mengada tapi lebih sering kalian meniadakan. Jujur saya merindukan kemeriahan itu bukan pada saat prosesi lepas jabatan dan pengangkatan. Tapi saat proses hanya ditemani kesepian.
#Meretas batas melawan keterbatasan!

Rabu, 07 Mei 2014

Seharusnya saya menulis sesuatu yang lain


Tapi pikiranku tak juga mau pergi dari hal-hal yang sepele. Pada kepura-puraan kehilangan kesadaran, kepura-puraan kehilangan ingatan, kepura-puraan banyak kesibukan, kepura-puraan tidak tahu dan kepura-puraan lupa. Rasanya sudah tidak sabar saya memberikan pelajaran kepada kepura-puraan itu. Begitupun kalian yang merasakan hal yang sama. Rasanya ingin segera pergi dari perihal sepele demikian.

Sudah tak terhitung berapa kali saya meminta bantuan, sesering itu pula saya mendapatkan kepura-puraan. Saya mulai mengadu argumen di dalam pikiran saya sendiri. Kalaulah kepura-puraan ditentangkan dengan kepura-puraan yang lain, apa yang bakal terjadi adalah kebinasaan. Barangkali itu jawaban dari sebuah perjalanan. Sayang sekali tidak ada manusia layaknya superman yang bisa mengerjakan semua kegiatan sendiri. Sayang sekali juga setiap orang dibekali dengan keterbatasan. Namun lebih sayang lagi karena setiap orang dibekali kemampuan untuk berpura-pura. Sekali lagi jawabannya adalah agar kita bisa berinteraksi dengan orang lain. Takdir Tuhan menentukan kebaikan untuk setiap ciptaannya, termasuk kepura-puraan. Kalau tak ada kepura-puraan maka tak ada sandiwara. Kalau tak ada sandiwara maka tak ada tontonan dan hiburan. Kalau tak ada hiburan kita suntuk. Kalau suntuk apalagi yang mesti datang kecuali rasa kantuk. Kalau sudah datang rasa kantuk maka tidurlah kita dan mati sesaat kalau beruntung, yang sial tidur selamanya kemudian disyukuri orang-orang.

Kalau janji sudah dipenuhi, tanggung jawab sudah dijalani, dan totalitas sudah diberikan apalagi yang mau ditunggu kecuali menunggu rasa kantuk dan tertidur. Yang beruntung tidur sesaat dan kemudian bangun tanpa kepura-puraan. Yang sial, tidur dan mati dalam kepuran-puraan dan orang-orang tidak tahu dalam kepura-puraan kemudian menguburkannya.

Sadar dan tak sadar ternyata saya ada di penghujung jembatan gantung. Melangkah ke depan berarti kebinasaan untuk orang lain. Melangkah ke belakang berarti menunda masa depan. Melangkah ke samping berarti bunuh diri. Memutus tali jembatan berarti membunuh semuanya. Mebuat jembatan baru berarti meminta bantuan orang lain. Meminta bantuan orang lain berarti harus bersiap mendapat kepura-puraan. Jadi mana yang harus saya binasakan paling dulu? Kepura-puraan.

Tapi bagaimana membumihanguskan kepura-puraan adalah dengan membakar akar pangkalnya yaitu cara berpikir untung dan rugi. Kalau sudah berbicara persoalan keuntungan maka bersiaplah untuk memilih sadar atau berpura-pura. Jangan menanyakan siapa yang diuntungkan karena tak ada yang diuntungkan kecuali diri kita sendiri. Tapi tanyakanlah pada hati kecil berapa banyak orang yang kita rugikan.

Sial sekali. Momen ketakberdayaan tubuh membuat orang berusaha bangkit dari kematian. Tapi datang kepulihan, kemudian tubuh dipaksa kembali mati. Begitu seterusnya.

Sayang sekali tidak ada superman, bahkan juga manusia burung yang bisa terbang melarikan diri. Tapi saya harus memilih, tentu dengan tanpa kepura-puraan. Sebaiknya jangan berpura-pura karena ini harus diselesaikan tanpa kepura-puraan. Serius! Saya tidak berpura-pura!
10 April 2014_05:45