#under_header{ float:left; width:100%; } #under_header1{ float:left; width:25%; } #under_header2{ float:left; width:25%; } #under_header3{ float:left; width:25%; } #under_header4{ float:right; width:25%; }

Senin, 26 Mei 2014

Kemeriahan dan kesepian

Ada yang bilang ini seperti makan buah simalakama. Ada juga yang bilang sakit seperti ketika gigi memahat lidahmu sendiri. Tapi tidak ada pilihan. Ini bukan paksaan tapi keharusan. Semua orang mengamini saya untuk ada di sini. Saya tidak mengatakan saya tidak bisa. Tapi saya ingin mengatakan saya tidak bisa tanpa bantuan kalian. Itulah yang saya khawatirkan. Prosesi pengangkatan memang berjalan meriah dengan suasana kekeluargaan yang luar biasa. Saya memang merasakan itu di sana, di permulaan, ketika saya baru akan memulai. Tapi selepas start dimulai kemeriahan itu mulai luntur juga. Kekhawatiran terjawab dengan keadaan. Saya bisa menjawab kondisi ini dengan berbagai konsekuensi. Bukan loyalitas atau komitmen yang saya gadaikan tapi kepetingan pribadi yang tergerus organisasi. Konsekuen-konsekuen itu mulai bisa diraba dan dirasakan sekarang bahkan melihatnya pun tak sesulit seperti mengumpulkan anak-anak untuk belajar membaca, menulis dan menghitung.

Semangat pun mudah luntur seperti bara api tanpa kawan. Hanya datangnya rasa sesal yang bisa sedikit mengobati waktu yang telah terluka. Tapi saya juga meragukan datangnya rasa sesal itu, hanya pelajaran yang bakal mengubahnya. Saya bukan aktor, bukan juga superman! Saya mengada tapi lebih sering kalian meniadakan. Jujur saya merindukan kemeriahan itu bukan pada saat prosesi lepas jabatan dan pengangkatan. Tapi saat proses hanya ditemani kesepian.
#Meretas batas melawan keterbatasan!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar