Tapi pikiranku tak juga
mau pergi dari hal-hal yang sepele. Pada kepura-puraan kehilangan kesadaran,
kepura-puraan kehilangan ingatan, kepura-puraan banyak kesibukan, kepura-puraan
tidak tahu dan kepura-puraan lupa. Rasanya sudah tidak sabar saya memberikan
pelajaran kepada kepura-puraan itu. Begitupun kalian yang merasakan hal yang
sama. Rasanya ingin segera pergi dari perihal sepele demikian.
Sudah tak terhitung
berapa kali saya meminta bantuan, sesering itu pula saya mendapatkan
kepura-puraan. Saya mulai mengadu argumen di dalam pikiran saya sendiri.
Kalaulah kepura-puraan ditentangkan dengan kepura-puraan yang lain, apa yang
bakal terjadi adalah kebinasaan.
Barangkali itu jawaban dari sebuah perjalanan. Sayang sekali tidak ada manusia
layaknya superman yang bisa
mengerjakan semua kegiatan sendiri. Sayang sekali juga setiap orang dibekali
dengan keterbatasan. Namun lebih sayang lagi karena setiap orang dibekali
kemampuan untuk berpura-pura. Sekali lagi jawabannya adalah agar kita bisa
berinteraksi dengan orang lain. Takdir Tuhan menentukan kebaikan untuk setiap
ciptaannya, termasuk kepura-puraan. Kalau
tak ada kepura-puraan maka tak ada sandiwara. Kalau tak ada sandiwara maka
tak ada tontonan dan hiburan. Kalau tak ada hiburan kita suntuk. Kalau suntuk
apalagi yang mesti datang kecuali rasa kantuk. Kalau sudah datang rasa kantuk
maka tidurlah kita dan mati sesaat kalau beruntung, yang sial tidur selamanya
kemudian disyukuri orang-orang.
Kalau janji sudah
dipenuhi, tanggung jawab sudah dijalani, dan totalitas sudah diberikan apalagi
yang mau ditunggu kecuali menunggu rasa kantuk dan tertidur. Yang beruntung
tidur sesaat dan kemudian bangun tanpa kepura-puraan. Yang sial, tidur dan mati
dalam kepuran-puraan dan orang-orang tidak tahu dalam kepura-puraan kemudian
menguburkannya.
Sadar dan tak sadar
ternyata saya ada di penghujung jembatan gantung. Melangkah ke depan berarti
kebinasaan untuk orang lain. Melangkah ke belakang berarti menunda masa depan.
Melangkah ke samping berarti bunuh diri. Memutus tali jembatan berarti membunuh
semuanya. Mebuat jembatan baru berarti meminta bantuan orang lain. Meminta
bantuan orang lain berarti harus bersiap mendapat kepura-puraan. Jadi mana yang
harus saya binasakan paling dulu? Kepura-puraan.
Tapi bagaimana
membumihanguskan kepura-puraan adalah dengan membakar akar pangkalnya yaitu
cara berpikir untung dan rugi. Kalau sudah berbicara persoalan keuntungan maka
bersiaplah untuk memilih sadar atau berpura-pura. Jangan menanyakan siapa yang
diuntungkan karena tak ada yang diuntungkan kecuali diri kita sendiri. Tapi
tanyakanlah pada hati kecil berapa banyak orang yang kita rugikan.
Sial sekali. Momen
ketakberdayaan tubuh membuat orang berusaha bangkit dari kematian. Tapi datang
kepulihan, kemudian tubuh dipaksa kembali mati. Begitu seterusnya.
Sayang sekali tidak ada
superman, bahkan juga manusia burung
yang bisa terbang melarikan diri. Tapi saya harus memilih, tentu dengan tanpa
kepura-puraan. Sebaiknya jangan berpura-pura karena ini harus diselesaikan
tanpa kepura-puraan. Serius! Saya tidak berpura-pura!
10 April 2014_05:45
Tidak ada komentar:
Posting Komentar