#under_header{ float:left; width:100%; } #under_header1{ float:left; width:25%; } #under_header2{ float:left; width:25%; } #under_header3{ float:left; width:25%; } #under_header4{ float:right; width:25%; }

Rabu, 07 Mei 2014

Seharusnya saya menulis sesuatu yang lain


Tapi pikiranku tak juga mau pergi dari hal-hal yang sepele. Pada kepura-puraan kehilangan kesadaran, kepura-puraan kehilangan ingatan, kepura-puraan banyak kesibukan, kepura-puraan tidak tahu dan kepura-puraan lupa. Rasanya sudah tidak sabar saya memberikan pelajaran kepada kepura-puraan itu. Begitupun kalian yang merasakan hal yang sama. Rasanya ingin segera pergi dari perihal sepele demikian.

Sudah tak terhitung berapa kali saya meminta bantuan, sesering itu pula saya mendapatkan kepura-puraan. Saya mulai mengadu argumen di dalam pikiran saya sendiri. Kalaulah kepura-puraan ditentangkan dengan kepura-puraan yang lain, apa yang bakal terjadi adalah kebinasaan. Barangkali itu jawaban dari sebuah perjalanan. Sayang sekali tidak ada manusia layaknya superman yang bisa mengerjakan semua kegiatan sendiri. Sayang sekali juga setiap orang dibekali dengan keterbatasan. Namun lebih sayang lagi karena setiap orang dibekali kemampuan untuk berpura-pura. Sekali lagi jawabannya adalah agar kita bisa berinteraksi dengan orang lain. Takdir Tuhan menentukan kebaikan untuk setiap ciptaannya, termasuk kepura-puraan. Kalau tak ada kepura-puraan maka tak ada sandiwara. Kalau tak ada sandiwara maka tak ada tontonan dan hiburan. Kalau tak ada hiburan kita suntuk. Kalau suntuk apalagi yang mesti datang kecuali rasa kantuk. Kalau sudah datang rasa kantuk maka tidurlah kita dan mati sesaat kalau beruntung, yang sial tidur selamanya kemudian disyukuri orang-orang.

Kalau janji sudah dipenuhi, tanggung jawab sudah dijalani, dan totalitas sudah diberikan apalagi yang mau ditunggu kecuali menunggu rasa kantuk dan tertidur. Yang beruntung tidur sesaat dan kemudian bangun tanpa kepura-puraan. Yang sial, tidur dan mati dalam kepuran-puraan dan orang-orang tidak tahu dalam kepura-puraan kemudian menguburkannya.

Sadar dan tak sadar ternyata saya ada di penghujung jembatan gantung. Melangkah ke depan berarti kebinasaan untuk orang lain. Melangkah ke belakang berarti menunda masa depan. Melangkah ke samping berarti bunuh diri. Memutus tali jembatan berarti membunuh semuanya. Mebuat jembatan baru berarti meminta bantuan orang lain. Meminta bantuan orang lain berarti harus bersiap mendapat kepura-puraan. Jadi mana yang harus saya binasakan paling dulu? Kepura-puraan.

Tapi bagaimana membumihanguskan kepura-puraan adalah dengan membakar akar pangkalnya yaitu cara berpikir untung dan rugi. Kalau sudah berbicara persoalan keuntungan maka bersiaplah untuk memilih sadar atau berpura-pura. Jangan menanyakan siapa yang diuntungkan karena tak ada yang diuntungkan kecuali diri kita sendiri. Tapi tanyakanlah pada hati kecil berapa banyak orang yang kita rugikan.

Sial sekali. Momen ketakberdayaan tubuh membuat orang berusaha bangkit dari kematian. Tapi datang kepulihan, kemudian tubuh dipaksa kembali mati. Begitu seterusnya.

Sayang sekali tidak ada superman, bahkan juga manusia burung yang bisa terbang melarikan diri. Tapi saya harus memilih, tentu dengan tanpa kepura-puraan. Sebaiknya jangan berpura-pura karena ini harus diselesaikan tanpa kepura-puraan. Serius! Saya tidak berpura-pura!
10 April 2014_05:45

Tidak ada komentar:

Posting Komentar