Rudi
Sarwa dan Lukas Sarwa keduanya bersaudara. Namun keduanya bukanlah sosok artis
atau pahlawan yang dikenal banyak orang. Keduanya hanyalah dua orang bocah yang
setiap harinya mesti menyeberangi laut untuk pergi ke sekolah. Ialah SMP N
Persiapan Abidon sekolahnya tempat menimba ilmu. Lokasinya berada di wilayah
Kepulaua Ayau, Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat. Wilayah Raja Ampat
yang kepulauan memang sudah mendunia karena kecantikan baharinya. Namun siapa
yang sangka dibalik keindahan kepulauannya ada dua orang anak kecil yang hampir
setiap harinya mesti pulang pergi sekolah menyeberangi lautnya.
SMP
Negeri Persiapan Abidon yang berada di kampung Rutum, Distrik Kepulauan Ayau,
Kabupaten Raja Ampat sekaligus merupakan sekolah tempat saya bertugas sebagai
relawan guru Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal
(SM3T). Secara geografis Kepulauan Ayau merupakan kepulauan terluar Indonesia
yang berbatasan langsung dengan laut Republik Palau. Pulau-pulau di kepulauan
Ayau merupakan pulau-pulau terakhir yang berpenghuni di ujung utara pulau
burung Papua. Distrik kepulauan Ayau sendiri terdiri atas 4 kampung yaitu
Rutum, Reni, Abidon, dan Meosbekwan serta dikelilingi oleh beberapa pulau lain
yang tak berpenghuni. Kampung-kampung tersebut merupakan kampung yang berdiri
di masing-masing pulau kecil yang berbeda. Maka menjadi sebuah konsekuensi
bahwa semua akses transportasi antarkampung menggunakan perahu atau bodi
jongson.
Sekolah Rudi
dan Luki memang tidak berada di pulau tempat mereka tinggal dan berjarak
sekitar 5 kilometer dari pulau mereka. Akses satu-satunya untuk menuju sekolah
ialah laut. Laut menjadi ruang pemisah yang tidak mungkin dilintasi oleh motor,
mobil, dan kendaraan-kendaraan darat lainnya. Satu-satunya cara untuk
menyeberang ialah dengan menaiki perahu, mendayung, atau berenang jika sanggup.
Pada kesempatan yang sangat jarang ketika air laut surut mereka memang bisa
berjalan kaki menyeberangi pulau ke sekolah. Jadi pada kesempatan yang langka
anak-anak sekolah memanfaatkan kesempatan air laut surut ini untuk berangkat ke
sekolah. Mereka berjalan kaki ketika air meti
(surut) satu hingga dua jam untuk tiba di sekolah. Tetapi air surut
datangnyapun tak bisa diminta selalu pagi atau siang, dia selalu berubah
menurut datangnya bulan. Jika tepat pada waktunya, maka gembiralah mereka bisa
ke sekolah menyeberangi lautan yang kering. Namun jika saatnya ke sekolah air
pasang, maka terpaksalah mereka mesti berenang jika tak dapat tumpangan perahu.
Tapi hal yang membuat saya terharu adalah sama sekali tidak tampak wajah
penyesalan atau sedih pada mereka. Mereka justru menikmati setiap perjalanan
yang mereka lalui untuk dapat tiba sekolah. Ada ataupun tidak ada perahu tidak
lagi menjadi beban dan pikiran untuk mereka. Begitupun dengan pasang dan
surutnya air laut tidak pernah menghalangi kemauan mereka untuk berangkat ke
sekolah. Semangat dan kemauannya untuk belajar mengalahkan semua keterbatasan
dan halangan yang merintang. Rudi dan Luki sudah meresapi berbagai cara untuk
menyeberang ke sekolah dari mulai mendayung perahu semang (perahu kecil dengan
penyeimbang di kanan dan kirinya), menumpang perahu masyarakat (jika kebetulan
ada), bahkan berenang pun sudah pernah mereka tuntaskan demi mengejar cita-cita
mulia.
Berenang
menyeberangi pulau? Iya memang benar mereka lakukan saat-saat perahu semang
terlalu banyak kebocoran dan perahu masyarakatpun tidak ada yang menyeberang
karena kehabisan bahan bakar. Harganya yang mahal memang membuat masyarakat
yang hendak bepergian dengan perahu bermesin berpikir berkali-kali lipat. Oleh
karena itulah mendayung atau berenang menjadi pilihan yang murah. Untuk urusan
renang, anak-anak di sini memang jagonya. Lahir dan dibesarkan di laut menjadikan
mereka terlatih dengan keadaan alam. Rudi dan Luki pun tak pernah mengutuki
keadaan alamnya yang demikian. Mereka justru terlihat sangat menikmati
keterbatasan yang ada di tempatnya. Kita pun bisa belajar dari keduanya bahwa
dalam kesulitan selalu ada jalan keluar. Keterbatasan bukanlah halangan yang
menjadikan mereka lemah dan menyerah. Mereka telah bersahabat dan hidup
berdampingan dengan laut. Laut tempat hidup karena itu kitorang jaga, begitulah
kata mereka. Mereka sekaligus telah membuktikan bahwa ilmu memang harus dicari
dan dikejar bagaimanapun sulitnya menraihnya.
Rudi dan
Luki hanyalah sepasang anak sekolah yang diungkapkan di sini. Sebagai Negara
kepulauan yang dikelilingi lautan maha luas, tentu saja masih banyak Rudi dan
Luki di belahan Indonesia yang lain dalam keterbatasan yang barangkali justru
memiliki tingkat kesulitan lebih tinggi namun dengan tetap dengan semangat tinggi
untuk belajar dan bersekolah.
Hari ini
mereka belajar mengenal Indonesia sebagai negara kepulauan. Saya sebenarnya
tidak perlu lagi mengenalkan mereka tentang arti kepulauan. Mereka bahkan
setiap harinya sudah sangat meresapi apa arti kepulauan. Dalam hati, saya
justru berkata sayalah Nak yang belajar apa itu arti kepulauan dari kalian hari
ini. Mereka memang masih belum mengenal mana Jawa, Sumatera, Kalimantan atau
Bali. Mereka hanya tau bahwa pulaunya tempat dia tinggal adalah bagian dari
Indonesia meskipun hanya satu titik di peta Indonesia.
Hari ini saya mengajar dengan ingatan bahwa Indonesia adalah dari Sabang hingga Merauke dan dari Miangas hingga Rote. Saya menggambarnya di papan bekas dari sisa pembangunan rumah di kampung. Tak lupa saya membuat satu titik tempat saya berada sekarang bersama mereka. Ialah pulau Rutum yang menjaga jarak rapih dengan pulau Reni di bagian paling utara pulau burung Papua.
Malamnya
adalah sebuah perenungan. Tengah lautan ini tak sekadar memberikan hamparan
laut biru dengan kejernihan air dan warna-wani ikan karangnya. Tengah lautan
ini juga menawarkan cara lain untuk memandang Indonesia dari garis terdepan.
Inilah alam tempat singgah, tempat hidup sekaligus tempat pembaringan tubuh
yang lelah hingga tiada.
Imam Arifudin
Guru SM3T Angkatan V
SMP N Persiapan Abidon, Distrik Kepulauan Ayau,
Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat
LPTK Universitas Negeri Jakarta

Tidak ada komentar:
Posting Komentar