#under_header{ float:left; width:100%; } #under_header1{ float:left; width:25%; } #under_header2{ float:left; width:25%; } #under_header3{ float:left; width:25%; } #under_header4{ float:right; width:25%; }

Sabtu, 24 September 2016

BELAJAR DARI TIMUR


Rudi Sarwa dan Lukas Sarwa keduanya bersaudara. Namun keduanya bukanlah sosok artis atau pahlawan yang dikenal banyak orang. Keduanya hanyalah dua orang bocah yang setiap harinya mesti menyeberangi laut untuk pergi ke sekolah. Ialah SMP N Persiapan Abidon sekolahnya tempat menimba ilmu. Lokasinya berada di wilayah Kepulaua Ayau, Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat. Wilayah Raja Ampat yang kepulauan memang sudah mendunia karena kecantikan baharinya. Namun siapa yang sangka dibalik keindahan kepulauannya ada dua orang anak kecil yang hampir setiap harinya mesti pulang pergi sekolah menyeberangi lautnya.

SMP Negeri Persiapan Abidon yang berada di kampung Rutum, Distrik Kepulauan Ayau, Kabupaten Raja Ampat sekaligus merupakan sekolah tempat saya bertugas sebagai relawan guru Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM3T). Secara geografis Kepulauan Ayau merupakan kepulauan terluar Indonesia yang berbatasan langsung dengan laut Republik Palau. Pulau-pulau di kepulauan Ayau merupakan pulau-pulau terakhir yang berpenghuni di ujung utara pulau burung Papua. Distrik kepulauan Ayau sendiri terdiri atas 4 kampung yaitu Rutum, Reni, Abidon, dan Meosbekwan serta dikelilingi oleh beberapa pulau lain yang tak berpenghuni. Kampung-kampung tersebut merupakan kampung yang berdiri di masing-masing pulau kecil yang berbeda. Maka menjadi sebuah konsekuensi bahwa semua akses transportasi antarkampung menggunakan perahu atau bodi jongson.

Sekolah Rudi dan Luki memang tidak berada di pulau tempat mereka tinggal dan berjarak sekitar 5 kilometer dari pulau mereka. Akses satu-satunya untuk menuju sekolah ialah laut. Laut menjadi ruang pemisah yang tidak mungkin dilintasi oleh motor, mobil, dan kendaraan-kendaraan darat lainnya. Satu-satunya cara untuk menyeberang ialah dengan menaiki perahu, mendayung, atau berenang jika sanggup. Pada kesempatan yang sangat jarang ketika air laut surut mereka memang bisa berjalan kaki menyeberangi pulau ke sekolah. Jadi pada kesempatan yang langka anak-anak sekolah memanfaatkan kesempatan air laut surut ini untuk berangkat ke sekolah. Mereka berjalan kaki ketika air meti (surut) satu hingga dua jam untuk tiba di sekolah. Tetapi air surut datangnyapun tak bisa diminta selalu pagi atau siang, dia selalu berubah menurut datangnya bulan. Jika tepat pada waktunya, maka gembiralah mereka bisa ke sekolah menyeberangi lautan yang kering. Namun jika saatnya ke sekolah air pasang, maka terpaksalah mereka mesti berenang jika tak dapat tumpangan perahu. Tapi hal yang membuat saya terharu adalah sama sekali tidak tampak wajah penyesalan atau sedih pada mereka. Mereka justru menikmati setiap perjalanan yang mereka lalui untuk dapat tiba sekolah. Ada ataupun tidak ada perahu tidak lagi menjadi beban dan pikiran untuk mereka. Begitupun dengan pasang dan surutnya air laut tidak pernah menghalangi kemauan mereka untuk berangkat ke sekolah. Semangat dan kemauannya untuk belajar mengalahkan semua keterbatasan dan halangan yang merintang. Rudi dan Luki sudah meresapi berbagai cara untuk menyeberang ke sekolah dari mulai mendayung perahu semang (perahu kecil dengan penyeimbang di kanan dan kirinya), menumpang perahu masyarakat (jika kebetulan ada), bahkan berenang pun sudah pernah mereka tuntaskan demi mengejar cita-cita mulia.

Berenang menyeberangi pulau? Iya memang benar mereka lakukan saat-saat perahu semang terlalu banyak kebocoran dan perahu masyarakatpun tidak ada yang menyeberang karena kehabisan bahan bakar. Harganya yang mahal memang membuat masyarakat yang hendak bepergian dengan perahu bermesin berpikir berkali-kali lipat. Oleh karena itulah mendayung atau berenang menjadi pilihan yang murah. Untuk urusan renang, anak-anak di sini memang jagonya. Lahir dan dibesarkan di laut menjadikan mereka terlatih dengan keadaan alam. Rudi dan Luki pun tak pernah mengutuki keadaan alamnya yang demikian. Mereka justru terlihat sangat menikmati keterbatasan yang ada di tempatnya. Kita pun bisa belajar dari keduanya bahwa dalam kesulitan selalu ada jalan keluar. Keterbatasan bukanlah halangan yang menjadikan mereka lemah dan menyerah. Mereka telah bersahabat dan hidup berdampingan dengan laut. Laut tempat hidup karena itu kitorang jaga, begitulah kata mereka. Mereka sekaligus telah membuktikan bahwa ilmu memang harus dicari dan dikejar bagaimanapun sulitnya menraihnya.

Rudi dan Luki hanyalah sepasang anak sekolah yang diungkapkan di sini. Sebagai Negara kepulauan yang dikelilingi lautan maha luas, tentu saja masih banyak Rudi dan Luki di belahan Indonesia yang lain dalam keterbatasan yang barangkali justru memiliki tingkat kesulitan lebih tinggi namun dengan tetap dengan semangat tinggi untuk belajar dan bersekolah.

Hari ini mereka belajar mengenal Indonesia sebagai negara kepulauan. Saya sebenarnya tidak perlu lagi mengenalkan mereka tentang arti kepulauan. Mereka bahkan setiap harinya sudah sangat meresapi apa arti kepulauan. Dalam hati, saya justru berkata sayalah Nak yang belajar apa itu arti kepulauan dari kalian hari ini. Mereka memang masih belum mengenal mana Jawa, Sumatera, Kalimantan atau Bali. Mereka hanya tau bahwa pulaunya tempat dia tinggal adalah bagian dari Indonesia meskipun hanya satu titik di peta Indonesia.

Hari ini saya mengajar dengan ingatan bahwa Indonesia adalah dari Sabang hingga Merauke dan dari Miangas hingga Rote. Saya menggambarnya di papan bekas dari sisa pembangunan rumah di kampung. Tak lupa saya membuat satu titik tempat saya berada sekarang bersama mereka. Ialah pulau Rutum yang menjaga jarak rapih dengan pulau Reni di bagian paling utara pulau burung Papua.

Malamnya adalah sebuah perenungan. Tengah lautan ini tak sekadar memberikan hamparan laut biru dengan kejernihan air dan warna-wani ikan karangnya. Tengah lautan ini juga menawarkan cara lain untuk memandang Indonesia dari garis terdepan. Inilah alam tempat singgah, tempat hidup sekaligus tempat pembaringan tubuh yang lelah hingga tiada.


Imam Arifudin
Guru SM3T Angkatan V
SMP N Persiapan Abidon, Distrik Kepulauan Ayau, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat
LPTK Universitas Negeri Jakarta



Tidak ada komentar:

Posting Komentar