Padahal Bunda ingin mengenalmu jauh lebih hebat dari ini. Tapi Tuhan berbeda, Bunda telah cukup waktu mengenalmu dan kini akan selalu mengenangmu.
Kamu si kecil bermata mungil selalu berkaca-kaca ketika Bunda menyadari kedewasaanmu sekarang. Betapa mata mungilmu kini membuat Bunda semakin berkaca-kaca karena sebentar lagi mungkin kamu tidak akan menjadi milik Bunda lagi. Ayunan-ayunan yang dulu sempat Bunda buat di teras rumah kini mampu menunjukkan ke Bunda kalau waktu memang telah berlalu lebih cepat dari yang Bunda rasakan. Meskipun rambut Bunda tak lagi sehitam dulu, tapi Bunda menolak tua karena Bunda mencintaimu. Segala pekerjaan Bunda niatkan sebagai ibadah. Tiada senyuman kecuali karena lelah menantimu bertemu di rumah sepulang kerja. Apapun Bunda kerjakan selagi keringat masih bisa mengubah nasibmu kelak. Bunda relakan menjadi suruhan orang setiap hari demi menyulap nasibmu mendatang. Bunda tentu tak pernah ingin kamu jadi seperti Bunda. Bunda tak ingin mewarisi kemelaratan kepada siapapun. Apalagi kepada kamu, anak Bunda yang meneduhkan lelah.
Tidak masalah Bunda menjadi buruh cuci, atau kuli angkut cabe di pasar. Bukan soal kasarnya pekerjaan tapi tentang senyumanmu yang tak bisa Bunda tinggalkan. Gang-gang di depan kontrakan rumah kita biarlah menjadi saksi kekutanmu bersama Bunda. Tidak perlu merasa malu mengakui kepada teman-temanmu atas keadaan kita. Malulah kalau kita berbuat salah atau dosa. Ajaklah mereka kemari untuk mampir sebentar saja. Bunda juga ingin mengenal sahabat-sahabatmu di sekolah. Bersyukurlah kalau mereka berkenan tetapi kamu tak perlu memaksa mereka untuk ke rumah karena mungkin mereka merasa sungkan juga kemari. Sampaikan saja salam Bunda untuk mereka.
Pagi ini kamu bangun pagi sekali. Sepertinya kamu sudah tidak sabar bertemu teman-temanmu di sekolah. Bunda senang melihat semangatmu. Ini sama seperti harapan Bunda dulu semasa kecil. Tapi Bunda tak seberuntung kamu nak. Tak sampai lulus sekolah dasar Bunda harus berhenti dari sekolah. Bukan karena tak kunjung naik kelas tapi karena Bunda malu berbulan-bulan menunggak uang sekolah. Tidak hanya itu, Bunda pun…ah tidak kuasa Bunda menceritakan ini padamu. Biarlah kenangan yang tak mengenakkan itu berlalu, kamu tidak perlu tahu. Meskipun sekali-kali kamu juga sekarang masih menunggak uang sekolah tapi Bunda tak ingin masa lalau Bunda menjadi masa sulitmu juga. Sebab itulah Bundamu bekerja. Tapi tak seberapa lama lagi Bunda pasti akan berhenti dari perjuangan ini. Badan ini tak sekuat dulu lagi, tak setegak dulu lagi, tak seindah dulu lagi. Masa-masa sekarang pun semakin jauh meninggalkan masa-masa Bunda. Sudah waktunya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar