#under_header{ float:left; width:100%; } #under_header1{ float:left; width:25%; } #under_header2{ float:left; width:25%; } #under_header3{ float:left; width:25%; } #under_header4{ float:right; width:25%; }

Rabu, 05 September 2012

Aku Ayah



Hari-hari ini tidak akan pernah lagi ayah dapatkan. Satu, dua atau bahkan lima tahun lagi kau mungkin sudah pergi dari keluarga yang membesarkanmu. Ibumu memang telah lama pergi tapi mungkin akan kembali. Hanya persoalan waktu yang tidak bisa ayah jawab. Tapi kau sekarang jauh lebih dewasa dari lima tahun lalu. Tahun lalu kau sudah bisa membuat alasan bagus untuk bisa keluar lebih lama dari rumah, ikut kegiatan di sekolah dan segala hal. 

Tapi kebanggaan juga bagi ayah karena sedikit demi sedikit kau mulai bisa mengurangi pengeluaran uangmu, terutama uang jajanmu. Masalah biaya sekolah memang tidak bisa ditangguhkan waktunya. Sekolah hanya memberi pengunduran pembayaran beberapa hari saja. Ayah selalu membayarnya dibatas terakhir. Mungkin sekrang sekolah sudah mulai  biasa dengan kedatangan ayah ke sekolah di tiap akhir semester itu. Pegawai tata usaha pun beberapa kali memasang masam senyumnya kepada ayah. Tapi untunglah kepala sekolahmu berbaik hati. Kebanggaan ayah juga bertambah padamu. Mungkin kamu bertanya mengapa? Iya karena sedikit anak mungkin yang akan bisa menahan malu pada teman-teman sekolahnya melihat keadaan ayahmu juga pembayaran uang sekolahmu yang rutin telat. Mungkin juga sedikit teman-temanmu yang tahu. Tapi itu lebih baik daripada banyak bertanya dan mengejekmu.
Dua tahun lalu ayah melihatmu bisa seimbang mengendalikan sepeda yang baru ayah belikan. Memang tidak seberapa mahal dan bagus. Tapi ayah melihat ekspresi kegembiraan itu pada wajahmu. Semangatmu untuk bangkit dan menghapus lukamu sendiri karena jatuh juga kebahagiaan buat ayah. Kau tidak lagi cengeng seperti dulu.

Minggu, 02 September 2012

Cukup


CUKUP
Bahkan aku tidak punya peta dan jalur pendakian perjalanan yang sedang ditempuh. Mungkinkah aku bisa mendapatkanya segera seiring dengan berjalan menuju puncak pendakian nanti. Maaf, mungkin ini melankolis atau apa saja namanya yang menggambarkan hal yang serupa dengan ini. Tidak mengapa lebih baik mengatakan kebenaran dan menghianati kebohongan ketimbang diam tanpa pengakuan. 

Baiklah sekarang dan jauh sebelum ini kalian berjaya. Tapi tidak selamanya. Segera aku menggantikan. Kebodohan itu akan segera musnah dalam bayangan yang terinjak-injak oleh diriku sendiri. Kesenangan dan hawa nafsu segera menjadi godaan yang luluh lantak menyingkir sejauh-jauhnya. Perubahan itu nyata. Selalu ada dalam ketidakyakinan sekalipun. Hari ini permenungan yang tiba-tiba saja hadir menghisab diri. Jangan lagi datang kesenangan yang membutakan hati.
Terhitung dua kali, mungkin lebih seorang mengingatkan tentang kebermanfaatan kegiatan yang telah aku kerjakan. Adakah? Mungkin ada menurut pribadi. Tapi tak yakin untuk orang lain. Seorang berkata untuk dirinya pribadi, namun telak menghajarku seketika.

Rum yang tak selesai


Perempuan itu. Kenapa dia yang kembali mengingatkan aku pada rasa yang sempat aku rasai dulu. Berbeda secara apapun, namun tidak secara mata melihat jujur. Mataku terus saja mengikutinya, mengutukinya ketika dia pergi tanpa sebab kejelasan. Lihatlah dibelakang, terus saja aku berharap bayangan itu selalu ada bersama untuk menenangkan rasa ini. Namun ketiadaan bayangan itu adalah keputusasaan yang tak terbalas. Dia pergi, aku terperdaya dan terasuki sifat-sifat yang dia tinggalkan. 

Bantalan beton berlapis keramik merah saga itu menjadi saksi kebodohanku saat didepan matanya yang layu merayu. Aku kehabisan cara dan kata untuk berbicara. Maka hanya senyum tipis yang kembali aku dapati di muka oval itu. Orang-orang memanggilnya Rumi. Tapi aku pantang memanggil namanya. Nama itu terlalu berat untuk terucap, karena harus mengulang kembali melihatmu berakhir dengan cara yang tidak bisa aku percayai. 

Kamu memang bukan Rumi yang sempat aku kenal sekarang, tapi apa yang hati tanyakan seratus persen adalah sama.  Jadi ini adalah kebodohanku yang menganggap Rumi sama denganmu. 

Bayangan itu pecah dalam genangan air yang terlindas ban sebuah mobil. Membuyarkan harapan yang terlalu berlebih. Sementara mobil hitam itu terus melaju tak bersalah membuat tidak hanya bayangan yang hancur tapi juga baju yang basah kepayahan menahan limpahan genangan air itu. Lagi lagi aku hanya bisa bersumoah serapah pada pengendara mobil yang telah mematikan semangat dalam dada ini.

Aku enggan berkata untuk kembali


Aku enggan berkata untuk kembali

Tapi garis itu terlalu cemburu
Apakah memanjakan diri pada lingkaran akan menggantikan
Karena lingkaran tak pernah putus
Bukan tali sekalipun rantai

Senin, 30 Juli 2012

Loko

Diesel lokomotif kereta terus meyeret rangkaian kereta sepanjang delapan gerbong ini. Aku telah menunggu sejam yang lalu bersama sebuah dus penuh berisi buku-buku bekas sisa sekolahnya. Beberapa plastik yang dibundel lipat tak beraturan diselipkan diantara buku-buku tersebut. Beberapa gelas dan alat tulis mendesak terakhir ditumpukan paling atas. Sebuah tali melilit dipertengahan kotak kardus itu mengakhiri barang-barang yang akan masuk.
Aku telah berencana. Tiba waktunya sore itu. Banyak kegiatan yang tertinggal. Biarlah, mungkin aku tidak amanah saat ini. Tapi rasanya pilihan sekarang yang paling tepat. Belum pernah aku merasa seyakin sekarang. Setelah kepergiannya haruskah aku biarkan juga doa-doa terabai pula?


Jumat, 13 Juli 2012

Doa menguatkanku


Aku harus segera menghibur diri. Pengelolaan emosiku tidak sebaik yang aku harapkan sendiri. Lebih menyedihkan adalah melihat kenyataan dari usaha yang telah dilakukan. Aku ingin lebih baik. Kalian pasti ingin yang lebih baik, bahkan terbaik. Seperti telah berucap janji untuk lebih banyak memberikan apa yang bisa aku kerjakan tapi mendapatkan lebih banyak pula rasa kecewa.

Ada rasa iri yang merasai raja dalam diri. Aku tidak dapat menyangkalnya. Dia muncul begitu saja. Ada di saat usaha dan potensi yang sama melelahkan raga dan juga pikiran. Aku menulisnya dengan sebuah sendu yang tidak akan pernah bisa mengubah keadaan. Tapi upaya dan kerja keras yang terpapar di depan mata saat itu adalah gambaran totalitas yang sempurna. Aku ingin semangat, dan meyemangati. Tapi kepalaku terlalu berat sekarang ini. Aku pikir setelah ini akan segera berkurang dan bebas dari beban ini. Aku mengatakan ini adalah sebuah “beban” karena memang aku tidak mau membohongi diriku sendiri yang sampai dengan saat ini belum pandai mengatur emosiku sendiri. Aku lebih menyukai semangat kejujuran di sini daripada mengaku yang tidak aku kuasai hanya akan membuat semakin kecewa pada diri sendiri.

Teman oh kawan. Aku yakin kalian merasakan hal yang tidak terlalu berbeda denganku sekarang ini. Bahkan mungkin lebih berat. Ayo saling menyemangati. Kita harus bangkit! Rasa kecewa ini harus segera berganti dengan semangat membangun diri. Rasa iri ini harus segera berganti menjadi lecutan semangat kebersamaan yang hadir selamanya untuk kita.