Diesel
lokomotif kereta terus meyeret rangkaian kereta sepanjang delapan gerbong ini. Aku
telah menunggu sejam yang lalu bersama sebuah dus penuh berisi buku-buku bekas
sisa sekolahnya. Beberapa plastik yang dibundel lipat tak beraturan diselipkan
diantara buku-buku tersebut. Beberapa gelas dan alat tulis mendesak terakhir
ditumpukan paling atas. Sebuah tali melilit dipertengahan kotak kardus itu
mengakhiri barang-barang yang akan masuk.
Aku
telah berencana. Tiba waktunya sore itu. Banyak kegiatan yang tertinggal.
Biarlah, mungkin aku tidak amanah saat ini. Tapi rasanya pilihan sekarang yang
paling tepat. Belum pernah aku merasa seyakin sekarang. Setelah kepergiannya
haruskah aku biarkan juga doa-doa terabai pula?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar