#under_header{ float:left; width:100%; } #under_header1{ float:left; width:25%; } #under_header2{ float:left; width:25%; } #under_header3{ float:left; width:25%; } #under_header4{ float:right; width:25%; }

Jumat, 13 Juli 2012

Doa menguatkanku


Aku harus segera menghibur diri. Pengelolaan emosiku tidak sebaik yang aku harapkan sendiri. Lebih menyedihkan adalah melihat kenyataan dari usaha yang telah dilakukan. Aku ingin lebih baik. Kalian pasti ingin yang lebih baik, bahkan terbaik. Seperti telah berucap janji untuk lebih banyak memberikan apa yang bisa aku kerjakan tapi mendapatkan lebih banyak pula rasa kecewa.

Ada rasa iri yang merasai raja dalam diri. Aku tidak dapat menyangkalnya. Dia muncul begitu saja. Ada di saat usaha dan potensi yang sama melelahkan raga dan juga pikiran. Aku menulisnya dengan sebuah sendu yang tidak akan pernah bisa mengubah keadaan. Tapi upaya dan kerja keras yang terpapar di depan mata saat itu adalah gambaran totalitas yang sempurna. Aku ingin semangat, dan meyemangati. Tapi kepalaku terlalu berat sekarang ini. Aku pikir setelah ini akan segera berkurang dan bebas dari beban ini. Aku mengatakan ini adalah sebuah “beban” karena memang aku tidak mau membohongi diriku sendiri yang sampai dengan saat ini belum pandai mengatur emosiku sendiri. Aku lebih menyukai semangat kejujuran di sini daripada mengaku yang tidak aku kuasai hanya akan membuat semakin kecewa pada diri sendiri.

Teman oh kawan. Aku yakin kalian merasakan hal yang tidak terlalu berbeda denganku sekarang ini. Bahkan mungkin lebih berat. Ayo saling menyemangati. Kita harus bangkit! Rasa kecewa ini harus segera berganti dengan semangat membangun diri. Rasa iri ini harus segera berganti menjadi lecutan semangat kebersamaan yang hadir selamanya untuk kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar