#under_header{ float:left; width:100%; } #under_header1{ float:left; width:25%; } #under_header2{ float:left; width:25%; } #under_header3{ float:left; width:25%; } #under_header4{ float:right; width:25%; }

Jumat, 29 Juni 2012

Cukup


Bahkan aku tidak punya peta dan jalur pendakian perjalanan yang sedang ditempuh. Mungkinkah aku bisa mendapatkanya segera seiring dengan berjalan menuju puncak pendakian nanti. Maaf, mungkin ini melankolis atau apa saja namanya yang menggambarkan hal yang serupa dengan ini. Tidak mengapa lebih baik mengatakan kebenaran dan menghianati kebohongan ketimbang diam tanpa pengakuan. 

Baiklah sekarang dan jauh sebelum ini kalian berjaya. Tapi tidak selamanya. Segera aku menggantikan. Kebodohan itu akan segera musnah dalam bayangan yang terinjak-injak oleh diriku sendiri. Kesenangan dan hawa nafsu segera menjadi godaan yang luluh lantak menyingkir sejauh-jauhnya. Perubahan itu nyata. Selalu ada dalam ketidakyakinan sekalipun. Hari ini permenungan yang tiba-tiba saja hadir menghisab diri. Jangan lagi datang kesenangan yang membutakan hati. 
Terhitung dua kali, mungkin lebih seorang mengingatkan tentang kebermanfaatan kegiatan yang telah aku kerjakan. Adakah? Mungkin ada menurut pribadi. Tapi tak yakin untuk orang lain. Seorang berkata untuk dirinya pribadi, namun telak menghajarku seketika.

Kamis, 28 Juni 2012

Pada Titik Temu



Kali ini ungkapan  Jangan lihat buku dari sampulnya seratus persen benar. Orang selalu beranggapan dengan pakaian yang rapi membungkus tubuh seseorang pasti dia orang yang “berada.” Begitupun ketika melihat seorang pemulung, orang akan selalu berpikir bahwa mereka adalah yang tidak “berada.”

Namun siapa yang akan menduga orang berjas kaku seperti robot yang bekerja di gedung-gedung perkantoran ternyata dia bekerja untuk korupsi. Siapa yang akan sangka pula orang gemuk dengan perut besar dan tubuh yang pas sebagai gambaran seorang yang korupsi ternyata bukan seorang koruptor. Bahkan hanya seorang pengumpul dan distributor barang-barang bekas. Jangan membayangkan bahwa dia yang hidup dengan barang-barang buangan tersebut hidup bermewah-mewahan. Tidak sama sekali. Janga pula membayangkan tubuhnya yang gendut, perut menggunung sebagai hasil kerjanya yang tidak jujur pada pelanggannya. Tidak juga. Beliau mengedepankan prinsip kejujuran dan keterbukaan pada siapapun pelanggannya. Membeli dengan pembagian hasil dan keuntungan yang sama-sama menguntungkan untuknya juga pelanggan.
Oh malangnya. Gara-gara oknum yang korupsi menguras uang rakyat,seorang bertubuh gendut dan perut membucit selalu dijadikan label untuk koruptor.

Minggu, 24 Juni 2012

Keputusan




Langkah kecil berjingkat cekatan
Senyum menepi dalam lingkaran kecil ruang mulutnya
Bahagia sekali
Seolah tanpa beban sedikitpun
Yah, baru saja dia melintas
Kebetulan atau disengaja
Mengapa bisa tepat sekali waktunya

Langkah kecil cepat menepi
Membuka ruang kakinya berpijak
Kerumunan orang ia biarkan asik dengan komunitasnya
Ia jalan saja abai di tepian dan menghilang dibalik pintu yang membuat batas pandanganku

Baru saja
Sekali lagi
Kemarin
Sekarang
Dan pasti selanjutnya akan tiba pula waktu yang sama

Mereka lebih sadar

pada sebuah teratai
Pada rangkaian teratai
Kecuali pandangan ke depan, tidak ada hal yang mampu membuatnya berubah. Sudah banyak kawan yang melakukan, sementara saya masih betah dengan keadaan yang telah ditinggalkan kawan-kawan saya. Bahwa saya termasuk orang yang setia, keterlaluan juga penghakiman itu harus mendarat pada pribadi saya. Kecuali dalam lain hal selain ini, mungkin saya bisa mengakui. 

Ada sesuatu yang diluar harapan mereka yang telah meninggalkan saya dan kita di sini. Mereka tidak mendapatkannya bersama kita. mungkin terlalu jenuh dengan kegiatan yang seolah sia-sia dan percuma. Bermotif pembelajaran menuju sempurna tanpa hasil dan manfaat yang lebih besar. Proses menjadi korban dan alasan untuk menguatkan bahwa apa yang telah dilakukan adalah benar dan tidak ada yang sia-sia. Namun mereka melihatnya lain. Ada hal lain. Sesuatu di luar sana dipandang sebagai hal yang lebih efektif dan efisien tanpa meninggalkan proses namun dengan hasil dan manfaat yang lebih besar. Apa salahnya?

Meninggalkan sesuatu yang lama. Peninggalan masa lalu yang telah uzur. Nilai kebersamaan, hanya itu yang meskipun uzur namun tetap dipertahankan sampai waktu memindahkan mereka dari sini. Namun kebersamaan yang lama segera berganti dengan kebersamaan yang baru. Sama-sama berlabel “kebersamaan.” Sama- sama menyenangkan dan membuat perasaan senang dan lega. Ada pengalaman lain, itu yang membedakan. Saya tidak akan mendapatkan kebersamaan yang bebeda dari kebersamaan perasaan yang sama. Kecuali melakukan hal yang sama dengan mereka. 

Berani bertindak diluar fakta dan realitas sekarang, telah mereka lakukan. Saatnya giliran saya tiba. Tidak usah menunggu lama sebelum pemikiran membatasi pergerakanmu. Salam semangat. Uluran tangan kalian akan segera saya jemput dan raih..!!

Jumat, 15 Juni 2012

Berbayang Ummi..


oleh Imam Udin pada 15 Juni 2012 pukul 22:39 ·
Ini kisah seorang anak. Kerinduannya mengantarkan anak kecil ini pada sebuah lamunan kebanggaan terhadap seorang ibu. Ummi begitu anak kecil ini memanggilnya. Mulutnya terbuka perlahan melebar mendekati bagian terluar dagu yang menyangga sebagian kepalanya. Aku diam saja. Lirih ketika anak kecil itu mengucap “Ummi aku rindu.”
Ibunya dalam dekapan kasih sayang sang Maha segala pemilik. Tidak pernah jelas kapan mulainya. Awal ceritanya selallu menjadi pertentangan antara pertanyaan-pertanyaan yang membuat anak kecil itu semakin rindu. Kasihnya tak pernah sampai dalam peluk yang menghangatkan. Bocah kecil itu berusaha memeluk bayangan dalam mata yang berkaca-kaca. Dia tampak lebih dewasa dari usianya. Aku belum pernah menjumpai anak sekuat dia. Apakah yang bisa meneguhkan hatinya hanya bayangan ibunya? Ataukah dia hidup dalam mimpi selamanya dalam kehangatan rangkulan seorang ibu? Padahal dia sendiri mencari sosok itu.
Anak kecil menghela nafas dalam-dalam melongok pada mata seorang ibu yang duduk di sampingnya.