#under_header{ float:left; width:100%; } #under_header1{ float:left; width:25%; } #under_header2{ float:left; width:25%; } #under_header3{ float:left; width:25%; } #under_header4{ float:right; width:25%; }

Kamis, 28 Juni 2012

Pada Titik Temu



Kali ini ungkapan  Jangan lihat buku dari sampulnya seratus persen benar. Orang selalu beranggapan dengan pakaian yang rapi membungkus tubuh seseorang pasti dia orang yang “berada.” Begitupun ketika melihat seorang pemulung, orang akan selalu berpikir bahwa mereka adalah yang tidak “berada.”

Namun siapa yang akan menduga orang berjas kaku seperti robot yang bekerja di gedung-gedung perkantoran ternyata dia bekerja untuk korupsi. Siapa yang akan sangka pula orang gemuk dengan perut besar dan tubuh yang pas sebagai gambaran seorang yang korupsi ternyata bukan seorang koruptor. Bahkan hanya seorang pengumpul dan distributor barang-barang bekas. Jangan membayangkan bahwa dia yang hidup dengan barang-barang buangan tersebut hidup bermewah-mewahan. Tidak sama sekali. Janga pula membayangkan tubuhnya yang gendut, perut menggunung sebagai hasil kerjanya yang tidak jujur pada pelanggannya. Tidak juga. Beliau mengedepankan prinsip kejujuran dan keterbukaan pada siapapun pelanggannya. Membeli dengan pembagian hasil dan keuntungan yang sama-sama menguntungkan untuknya juga pelanggan.
Oh malangnya. Gara-gara oknum yang korupsi menguras uang rakyat,seorang bertubuh gendut dan perut membucit selalu dijadikan label untuk koruptor.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar