#under_header{ float:left; width:100%; } #under_header1{ float:left; width:25%; } #under_header2{ float:left; width:25%; } #under_header3{ float:left; width:25%; } #under_header4{ float:right; width:25%; }

Senin, 30 Juni 2014

Empat yang kemarin

Ada banyak orang dengan banyak sudut pandang. Tapi apakah kamu pernah berpikir pada orang-orang yang tidak seberuntung kamu sekarang? Aku tak pernah membuat masalah, sekalipun kamu tak ambil peduli pada orang-orang sekitarmu. Bagiku hanya ketukan hatimu yang sedang melirih pada nurani yang makin lebur pada empati. Tapi kepercayaan tinggi selalu ada pada setiap orang. Tak peduli apakah dia masih bisa mengambil sikap terhadap apa yang dilihatnya maupun tidak. Mereka adalah orang-orang dengan titik Tuhan yang tinggi. Cobalah tanyakan pada dirimu sendiri ketika rasa takut membuatmu panik karena berbuat salah. Itu adalah penanda paling jujur terhadap keempatianmu yang sesungguhnya masih ada, hanya tertidur sesaat.

Tak butuh banyak uang atau materi untuk sebuah empati. Tak perlu juga menunggu kaya, karena menolong tak pernah kenal kata status. Bukan hanya karena materi kau bisa tersenyum bahagia. Ada banyak cara kau bisa menebusnya. Tentu pesan dari kakekmu masih kau ingat. Hentikan kepura-puraanmu dan berhentilah bertanya karena kau tahu apa yang harus kau lakukan. Malam maupun siang kita akan tetap menemukan orang-orang yang sama dengan latar belakang yang berbeda. Setidaknya kata yang tertulis di sini telah mengawali penyadaranku secara pribadi. Mungkin kau lebih dulu atau bahkan baru saja, mungkin juga segera mendapatkannya. Pada saat itu kau akan mendapatkan senyuman itu tanpa syarat apapun. Tanpa wanita, tanpa pesta dan tanpa asap apapun yang membuatku senang sesaat kemudian sesak berkepanjangan.

Pilihan akan menentukan kepada siapa kita pada akhirnya berhenti dan berjalan. Keputusan juga yang pada saatnya akan menuntun dan membimbing kita pada jalan yang bebas dari rasa takut dan khawatir. Semua dimulai dari penyadaran.

Empat yang kemarin adalah penebusan
Dua yang sekarang adalah kekuatan
Satu yang terakhir adalah kesadaran

Jakarta, 16 September 2013
22:50

Ibu dan Bapak

Air baru saja selesai mengguyur gang-gang sempit dan padat di sekitar rumah kami. Di antara gang-gang yang sempit, ada sebuah gang yang paling lebar di tepian sebuah warung. Di antara warung dan tembok-tembok rumah itulah orang-orang kampung biasa menghilangkan kepenatan dan kejenuhan pikiran. Ada yang bermain kartu, ada yang bermain karet, ada yang sekadar ngobrol satu dengan yang lainnya. Anak-anak, tua maupun muda bergabung tanpa risih atau sungkan. Kadang kalau bapak-bapak kami selesai memandikan ayam-ayamnya, sesekali bapak mengadunya sembari menjemur bulu-bulu ayamnya yang basah. Kami senang menontonnya ketika cucuk-cucuk ayam mematuk kepala ayam yang lain. Kami juga senang melihat bulu-bulu ayam mengembang memperlihatkan kejagoannya kepada yang lain. Tapi kami sebenarnya tak tega melihat bulu-bulu yang masih muda terpaksa tercabut oleh yang lain. Tapi kami juga tak tega melihat bapak kami murung dan termenung setiap pagi memikirkan pekerjaan yang belum juga datang. Kami lebih senang melihat bapak kami tersenyum melihat jagoannya menang saat diadu dengan ayam tetangga. Kami juga senang melihat bapak tak lagi diam dan termenung setiap pagi di emperan rumah kami yang tak berteras. Biarlah ayam-ayam itu menjadi semangat bapak kami untuk mengajak kami bermain dengan caranya.

Sementara bapak kami mengurusi ayam-ayamnya, ibu-ibu kami tak punya perkerjaan juga selepas masak dan mengambil air. Biasanya ibu kami melamun di depan kompor tungku memikirkan nyala kompor yang makin hari makin kecil dan redup, memikirkan apa yang akan dimasak besok, memikirkan seragam sekolah kami yang harus segera diganti, memikirkan kami yang akan ujian nasional, memikirkan pakan ayam-ayam yang belum dibeli bapak, memikirkan uang kontrak rumah bulan depan, memikirkan segala-gala tentang hidup. Kami kasihan memerhatikan ibu-ibu kami. Tapi hari ini kami merasa senang karena ibu kami sudah punya pekerjaan lain selain berpikir yang berupa-rupa itu. Ibu kami duduk bersama-sama saling  memegangi kepala yang lain sambil berkeluh kesah dan berbicara satu sama lain. Kami senang melihat ibu berbicara karena artinya ibu tidak lagi memikirkan tapi membicarakan dengan ibu-ibu yang lain. Kami senang karena ibu-ibu kami saling meringankan beban dengan memijat kepala-kepala yang berat karena banyak beban. Kami senang karena kepala ibu kami jadi ringan dan tidak gatal lagi setelah banyak kutu dipanen. Kami juga senang karena ibu mengajari kami cara bermain monopoli biarpun sebenarnya kami ingin sekali diajari cara melipat origami. Kami juga senang dibelikan kelereng sekalipun kami lebih senang dibelikan sebuah pensil dan selembar kertas. Tapi kami tahu sebutir kelereng lebih murah ketimbang sebatang pensil atau selembar kertas.

Ibu kami memang bijak. Selepas sekolah kami diberi karet agar belajar melompat tinggi, mengejar cita-cita dan impian.  Sebelum tidur kami didongeng agar punya cerita yang bisa dibagi ke teman-teman kami besok. Sebelum tidur kami didoa agar jadi anak yang baik dan berguna bagi orang lain. Saat tidur kami berkelana ke ujung dunia meninggalkan gang-gang sempit metropolitan menuju ruang sebebas-bebasnya meraih terang dan menghapus gelap. Kami tinggalkan kejahilan, kami tinggalkan prasangka buruk, kami tinggalkan ayam bapak, kami tinggalkan kelereng, kami tinggalkan untaian karet dari ibu dan kami tinggalkan bapak dan ibu kami yang kasihan. Rasanya kami tak ingin terbangun lagi.

Minggu, 29 Juni 2014

Minggu terakhir di bulan Juni

Minggu terakhir di bulan Juni ini aku bertemu dengan kawan lama di sekitaran Kapuk, tak jauh dari kota Tua. Ini adalah pertemuan rutin yang selalu kami rencanakan di setiap akhir bulan. Tapi Juni ini sepertinya bukan menjadi bulan yang mengenakan bagi kawanku. Memang dia cerdik sekali melucu dibalik masalahnya. Aku pun tanpa paksaan membaca sebuah catatan yang masih menyala di laptop kerjanya ketika dia meminjamkannya padaku selang sebulan setelah pertemuan Juni itu. Banyak rasa ingin tauku membuat banyak mencari tau. Tanpa sengaja aku membaca ini persis setelah laptop kunyalakan. Tentu ini catatan yang tidak mengenakan baginya. Kurang lebihnya seperti ini..
 “
Hari ini saya tidak bisa diam barang sebentar menunggu kabar dari kendaraan yang akan mengangkut kami, tak kunjung datang. Pesan singkat sudah terkirim namun tak ada balas. Telefon dilayangkan namun tak berjawab. Hanya rasa gugup dan khawatir yang menguasai diri. Lebih pada khawatir agenda kerja yang akan berantakan dan tertunda bahkan mungkin gagal karena tak ada kendaraan yang bakal mengangkut rekan-rekan kantor ke tujuan.

Hampir seminggu yang lalu saya mati-matian (beruntung tak sampai mati) mengejar setoran untuk berjalannya acara yang diagendakan berlangsung selama beberapa waktu di tepian Juni. Apapun alasannya saya telah berkeyakinan bahwa tidak mungkin tertunda lagi karena bakal membawa beban yang semakin berat buat saya sendiri tentunya. Ada lebih banyak kekecewaan yang saya dapatkan di sini. Orang-orang banyak yang menganggap ini sebagai sebuah pembelajaran. Yah ini memang pembelajaran dan lebih tepat sebagai pembelajaran pribadi yang terlalu ekstrim. Ibarat anak muda mungkin konteks pembelajaran yang dimaksud seperti dalam kalimat mampus, ini pelajaran buat loe! Maka ini jadi seperti tulisan yang meredam efek traumatik yang telah saya jalani dengan sekuat tenaga selama ini. Betapapun lelah dan kasihannya, saya tidak banyak mendapat bantuan kecuali pertanyaan dan permintaan maaf. Sesuatu yang sulit untuk ditolak tapi juga menyakitkan untuk menerimanya. Perasaan yang demikian membuat semangat saya menggebu-gebu.
Tapi sayang sekali, datangnya semangat tersebut bukan karena alasan yang bagus, Bukan karena motivasi yang hebat atau tantangan yang meminta jawab. Bukan juga karena jatah waktu yang makin sempit. Tapi karena psimisme dan ketiadaan kekuatan lagi untuk bertahan. Sekali-kali saya juga pernah berbalas sumpah serapah tapi toh tak juga mau keluar dari kata-kata kecuali teriakan dalam hati yang tertimbun nurani. Hati nurani terlanjur berbisik untuk sabar dan memaafkan. Tak tega juga seandainya harus membuat perasaan semacam ini kembali dirasakan oleh orang lain. Meskipun gregetan juga bilamana melihat rekan lain memungut rasa ketiadategaan saya itu menjadi bahan untuk maklum. Saya menjadi menyesal menyimpan rasa tidak tega itu untuk orang yang tidak tepat. Mungkin sebaiknya siapapun belajar supaya tidak mendapatkan pelajaran yang sama dengan apa yang pernah saya terima. Makin banyak pelajaran makin sempurnalah hidup. Dengan catatan siapapun harus tahu diri!

Tidak sadar saya pun telah melenyapkan kepentingan diri saya sendiri demi kepentingan ini. Ironi bagi saya karena mesti melenyapkan diri sendiri terlebih dulu bahkan hanya untuk mengangkat dan menjulurkan sebuah jari tangan saya sendiri ke atas meminta ulur tangan yang lain. Seperti pekerjaan yang bakal sia-sia karena toh kehidupan setelah kelenyapan hanyalah kehidupan yang semu dan antisosial kecuali pada dunia metafisis yang hilang. Tapi kepercayaan membuat saya bergeming dan bertahan dengan semangat menggebu-gebu tadi. Saya pun merasa menjadi orang yang altruis karena tersesat bukan karena keinginan dan motivasi yang benar tapi karena kebetulan. Egoisme saya hancur berkeping-keping melihat empati rekan saya juga yang telah larut bersama permintaan maaf. Saya tidak butuh itu! Apalagi penyesalan karena sudah tidak berfaedah lagi sekarang. Sudah saya bayangkan bagaimana perasaan bebas itu. Sudah saya siapkan prosesi mewah untuk menyambut jiwa-jiwa yang keluar dari penjara kamar. Sudah saya perkirakan kapan waktu dan tempat perayaan itu. Yang jelas saya tidak akan mengundang siapa-siapa kecuali orang-orang yang masih punya tanggung jawab dan empati, itu saja. Yang lain silakan mengantri untuk mendapat dua syarat itu jika ingin datang. Keyakinan saya adalah tak mungkin ada yang datang kecuali kebiasaan untuk mewakilkan kedatangan dengan permintaan maaf.

Seandainya saya bisa menolak etika maka akan kulindas orang-orang yang berpura-pura punya etika. Sialan, enak saja! Tapi saya tak kuasa menolaknya maka saya mencoba mati demi kehidupan yang telah dijanjikan oleh konsekuensi. Saya melanglang mencari jalan, memutar kepala membuka mata mencari celah untuk menutup kekurangan. Saya hampir tak sanggup dan gontai mencari kawan. Tapi saya juga urung menemukan kecuali kawan lama, sahabat maaf dan sahabat sesal. Biarpun begitu saya selalu mengucap terimakasih demi sebuah pelajaran ini. Pelajaran ini telah  mendatangkan kekuatan dan kepercayaan untuk menutup dan memutus ini. Jadi saya anggap ini untung biarpun buntung di sana-sini. Saya anggap berlebih sekalipun defisit untuk membuat akar kuat pada optimisme.

Beranjak dari sebuah tempat ke tempat yang lain saya akhirnya nekat untuk jalan karena desakan waktu. Seiringan dengan itu keringat dan letih saya sudah hampir selesai, nafas makin pendek dan cepat, kepasrahan makin dekat, ketegangan makin memuncak, dan emosi makin tak terarah. Saya menyerah untuk mengorbankan diri. Waktu saat itu melemah dan sejenak membuat saya tenang. Saya tidak ingat apa-apa pada diri saya sendiri kecuali pada kewajiban ini. Pada saat itu saya berada puncak ketiadaan. Beban-beban sebagai individu telah saya sesatkan entah kemana.  Meskipun saya tahu mereka pun suatu saat bakal meminta jawab untuk diselesaikan.

Menjelang pukul 8 malam saya kembali. Rekan-rekan telah berkumpul menunggu di depan ruang kerja. Ada yang berdiskusi, ada yang juga yang sembari menikmati segelas kopi. Melihatnya sepertinya nikmat sekali ketimbang harus mengisap kenalpot kopaja ibu kota, dan mengisap baju yang penuh keringat sepanjang hari tadi. Apalagi jika harus berteman dengan kemacetan yang mengular sepanjang jalan. Mata yang letih pun tak kuasa juga memejamkannya. Hanya kepala yang miring dan pusing sebagai penggantinya. Saya langsung saja menyampaikan poin baiknya. Lepas itu saya pergi mengistirahatkan diri di rumah. Tapi ponsel genggam saya berdering sepanjang saya hendak memejamkan mata. Pesan singkat silih berganti meminta balasan segera. Saya kehilangan kesempatan lagi untuk istirahat. Lagi-lagi urusan kerja yang terus saja membuntuti hingga rumah.

Pagi pun menjelang lebih cepat dari biasanya. Tidak banyak waktu tersedia untuk ayah, ibu, kakak maupun adik. Mereka melihat saya hanya ketika membuka dan menutup pintu penanda pergi dan pulang. Itu saja, karena selebihnya saya tidak di rumah. Apalagi hari ini adalah kelangsungan acara yang penting bagi kantor. Selepas pukul 7 pagi tuan direktur dari rekanan kantor akan membuka acara secara simbolik. Namun menjelang pukul 6 pagi kendaraan yang akan mengangkut rekan-rekan kantor dan segala kebutuhan acara tak kunjung datang. Ponsel saya semakin panas mencari alternatif tapi sia-sia.
"Selang 3 hari kemudian saya dipecat!”

Saya diam memandang layar laptop yang masih menyala. Sebagai rekan kantornya yang cukup lama dan dekat selama ini ternyata aku belumlah mengenalnya.




Senin, 23 Juni 2014

Kunci



Aku bebas keluar masuk rumahku sendiri. Tapi aku tak bisa pergi dan kabur karena pasti semua orang akan mencariku. Bukan mencariku sebagai seonggok tubuh, tapi mencari kunci yang selalu aku bawa. Mereka tak membawanya selalu, maka aku harus menjadi kakak yang selalu siaga pada kepulangan maupun kepergian. Tak jarang mereka tak pulang selama berhari-hari bahkan berbulan-bulan. Sampai dengan datang berita bahwa dia tak akan pernah kembali lagi. Ada juga yang datang sebentar kemudian pulang dengan sebuntel tanda tangan. Ada pula yang datang tergopoh-gopoh dengan berbagai masalah di punggungnya. Aku melayani siapapun yang datang dengan sebaik-baiknya. Tak pernah aku membedakan dia cantik atau sebaliknya. Aku hanya tau dia bagian dari rumah warisan ini. Sekarang aku kehilangan kunci di rumah sendiri. 
Mereka satu per satu pergi dan tak kembali. Bukan karena bosan tapi karena tak ada lagi kunci.