Air baru saja selesai mengguyur gang-gang sempit dan padat di sekitar rumah kami. Di antara gang-gang yang sempit, ada sebuah gang yang paling lebar di tepian sebuah warung. Di antara warung dan tembok-tembok rumah itulah orang-orang kampung biasa menghilangkan kepenatan dan kejenuhan pikiran. Ada yang bermain kartu, ada yang bermain karet, ada yang sekadar ngobrol satu dengan yang lainnya. Anak-anak, tua maupun muda bergabung tanpa risih atau sungkan. Kadang kalau bapak-bapak kami selesai memandikan ayam-ayamnya, sesekali bapak mengadunya sembari menjemur bulu-bulu ayamnya yang basah. Kami senang menontonnya ketika cucuk-cucuk ayam mematuk kepala ayam yang lain. Kami juga senang melihat bulu-bulu ayam mengembang memperlihatkan kejagoannya kepada yang lain. Tapi kami sebenarnya tak tega melihat bulu-bulu yang masih muda terpaksa tercabut oleh yang lain. Tapi kami juga tak tega melihat bapak kami murung dan termenung setiap pagi memikirkan pekerjaan yang belum juga datang. Kami lebih senang melihat bapak kami tersenyum melihat jagoannya menang saat diadu dengan ayam tetangga. Kami juga senang melihat bapak tak lagi diam dan termenung setiap pagi di emperan rumah kami yang tak berteras. Biarlah ayam-ayam itu menjadi semangat bapak kami untuk mengajak kami bermain dengan caranya.
Sementara bapak kami mengurusi ayam-ayamnya, ibu-ibu kami tak punya perkerjaan juga selepas masak dan mengambil air. Biasanya ibu kami melamun di depan kompor tungku memikirkan nyala kompor yang makin hari makin kecil dan redup, memikirkan apa yang akan dimasak besok, memikirkan seragam sekolah kami yang harus segera diganti, memikirkan kami yang akan ujian nasional, memikirkan pakan ayam-ayam yang belum dibeli bapak, memikirkan uang kontrak rumah bulan depan, memikirkan segala-gala tentang hidup. Kami kasihan memerhatikan ibu-ibu kami. Tapi hari ini kami merasa senang karena ibu kami sudah punya pekerjaan lain selain berpikir yang berupa-rupa itu. Ibu kami duduk bersama-sama saling memegangi kepala yang lain sambil berkeluh kesah dan berbicara satu sama lain. Kami senang melihat ibu berbicara karena artinya ibu tidak lagi memikirkan tapi membicarakan dengan ibu-ibu yang lain. Kami senang karena ibu-ibu kami saling meringankan beban dengan memijat kepala-kepala yang berat karena banyak beban. Kami senang karena kepala ibu kami jadi ringan dan tidak gatal lagi setelah banyak kutu dipanen. Kami juga senang karena ibu mengajari kami cara bermain monopoli biarpun sebenarnya kami ingin sekali diajari cara melipat origami. Kami juga senang dibelikan kelereng sekalipun kami lebih senang dibelikan sebuah pensil dan selembar kertas. Tapi kami tahu sebutir kelereng lebih murah ketimbang sebatang pensil atau selembar kertas.
Ibu kami memang bijak. Selepas sekolah kami diberi karet agar belajar melompat tinggi, mengejar cita-cita dan impian. Sebelum tidur kami didongeng agar punya cerita yang bisa dibagi ke teman-teman kami besok. Sebelum tidur kami didoa agar jadi anak yang baik dan berguna bagi orang lain. Saat tidur kami berkelana ke ujung dunia meninggalkan gang-gang sempit metropolitan menuju ruang sebebas-bebasnya meraih terang dan menghapus gelap. Kami tinggalkan kejahilan, kami tinggalkan prasangka buruk, kami tinggalkan ayam bapak, kami tinggalkan kelereng, kami tinggalkan untaian karet dari ibu dan kami tinggalkan bapak dan ibu kami yang kasihan. Rasanya kami tak ingin terbangun lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar