Minggu terakhir di bulan Juni ini
aku bertemu dengan kawan lama di sekitaran Kapuk, tak jauh dari kota Tua. Ini adalah
pertemuan rutin yang selalu kami rencanakan di setiap akhir bulan. Tapi Juni
ini sepertinya bukan menjadi bulan yang mengenakan bagi kawanku. Memang dia
cerdik sekali melucu dibalik masalahnya. Aku pun tanpa paksaan membaca sebuah
catatan yang masih menyala di laptop kerjanya ketika dia meminjamkannya padaku
selang sebulan setelah pertemuan Juni itu. Banyak rasa ingin tauku membuat
banyak mencari tau. Tanpa sengaja aku membaca ini persis setelah laptop
kunyalakan. Tentu ini catatan yang tidak mengenakan baginya. Kurang lebihnya
seperti ini..
“
Hari
ini saya tidak bisa diam barang sebentar menunggu kabar dari kendaraan yang
akan mengangkut kami, tak kunjung datang. Pesan singkat sudah terkirim namun
tak ada balas. Telefon dilayangkan namun tak berjawab. Hanya rasa gugup dan
khawatir yang menguasai diri. Lebih pada khawatir agenda kerja yang akan
berantakan dan tertunda bahkan mungkin gagal karena tak ada kendaraan yang
bakal mengangkut rekan-rekan kantor ke tujuan.
Hampir
seminggu yang lalu saya mati-matian (beruntung tak sampai mati) mengejar
setoran untuk berjalannya acara yang diagendakan berlangsung selama beberapa
waktu di tepian Juni. Apapun alasannya saya telah berkeyakinan bahwa tidak
mungkin tertunda lagi karena bakal membawa beban yang semakin berat buat saya
sendiri tentunya. Ada lebih banyak kekecewaan yang saya dapatkan di sini.
Orang-orang banyak yang menganggap ini sebagai sebuah pembelajaran. Yah ini
memang pembelajaran dan lebih tepat sebagai pembelajaran pribadi yang terlalu
ekstrim. Ibarat anak muda mungkin konteks pembelajaran yang dimaksud seperti
dalam kalimat mampus, ini pelajaran buat
loe! Maka ini jadi seperti tulisan yang meredam efek traumatik yang telah
saya jalani dengan sekuat tenaga selama ini. Betapapun lelah dan kasihannya,
saya tidak banyak mendapat bantuan kecuali pertanyaan dan permintaan maaf.
Sesuatu yang sulit untuk ditolak tapi juga menyakitkan untuk menerimanya. Perasaan
yang demikian membuat semangat saya menggebu-gebu.
Tapi
sayang sekali, datangnya semangat tersebut bukan karena alasan yang bagus, Bukan
karena motivasi yang hebat atau tantangan yang meminta jawab. Bukan juga karena
jatah waktu yang makin sempit. Tapi karena psimisme dan ketiadaan kekuatan lagi
untuk bertahan. Sekali-kali saya juga pernah berbalas sumpah serapah tapi toh
tak juga mau keluar dari kata-kata kecuali teriakan dalam hati yang tertimbun
nurani. Hati nurani terlanjur berbisik untuk sabar dan memaafkan. Tak tega juga
seandainya harus membuat perasaan semacam ini kembali dirasakan oleh orang
lain. Meskipun gregetan juga bilamana melihat rekan lain memungut rasa
ketiadategaan saya itu menjadi bahan untuk maklum. Saya menjadi menyesal
menyimpan rasa tidak tega itu untuk orang yang tidak tepat. Mungkin sebaiknya siapapun
belajar supaya tidak mendapatkan pelajaran yang sama dengan apa yang pernah
saya terima. Makin banyak pelajaran makin sempurnalah hidup. Dengan catatan siapapun
harus tahu diri!
Tidak
sadar saya pun telah melenyapkan kepentingan diri saya sendiri demi kepentingan
ini. Ironi bagi saya karena mesti melenyapkan diri sendiri terlebih dulu bahkan
hanya untuk mengangkat dan menjulurkan sebuah jari tangan saya sendiri ke atas
meminta ulur tangan yang lain. Seperti pekerjaan yang bakal sia-sia karena toh
kehidupan setelah kelenyapan hanyalah kehidupan yang semu dan antisosial
kecuali pada dunia metafisis yang hilang. Tapi kepercayaan membuat saya
bergeming dan bertahan dengan semangat menggebu-gebu tadi. Saya pun merasa
menjadi orang yang altruis karena tersesat bukan karena keinginan dan motivasi
yang benar tapi karena kebetulan. Egoisme saya hancur berkeping-keping melihat
empati rekan saya juga yang telah larut bersama permintaan maaf. Saya tidak
butuh itu! Apalagi penyesalan karena sudah tidak berfaedah lagi sekarang. Sudah
saya bayangkan bagaimana perasaan bebas itu. Sudah saya siapkan prosesi mewah
untuk menyambut jiwa-jiwa yang keluar dari penjara kamar. Sudah saya perkirakan
kapan waktu dan tempat perayaan itu. Yang jelas saya tidak akan mengundang
siapa-siapa kecuali orang-orang yang masih punya tanggung jawab dan empati, itu
saja. Yang lain silakan mengantri untuk mendapat dua syarat itu jika ingin
datang. Keyakinan saya adalah tak mungkin ada yang datang kecuali kebiasaan
untuk mewakilkan kedatangan dengan permintaan maaf.
Seandainya
saya bisa menolak etika maka akan kulindas orang-orang yang berpura-pura punya
etika. Sialan, enak saja! Tapi saya tak kuasa menolaknya maka saya mencoba mati
demi kehidupan yang telah dijanjikan oleh konsekuensi. Saya melanglang mencari
jalan, memutar kepala membuka mata mencari celah untuk menutup kekurangan. Saya
hampir tak sanggup dan gontai mencari kawan. Tapi saya juga urung menemukan
kecuali kawan lama, sahabat maaf dan sahabat sesal. Biarpun begitu saya selalu
mengucap terimakasih demi sebuah pelajaran ini. Pelajaran ini telah mendatangkan kekuatan dan kepercayaan untuk
menutup dan memutus ini. Jadi saya anggap ini untung biarpun buntung di
sana-sini. Saya anggap berlebih sekalipun defisit untuk membuat akar kuat pada
optimisme.
Beranjak
dari sebuah tempat ke tempat yang lain saya akhirnya nekat untuk jalan karena
desakan waktu. Seiringan dengan itu keringat dan letih saya sudah hampir selesai,
nafas makin pendek dan cepat, kepasrahan makin dekat, ketegangan makin
memuncak, dan emosi makin tak terarah. Saya menyerah untuk mengorbankan diri. Waktu
saat itu melemah dan sejenak membuat saya tenang. Saya tidak ingat apa-apa pada
diri saya sendiri kecuali pada kewajiban ini. Pada saat itu saya berada puncak
ketiadaan. Beban-beban sebagai individu telah saya sesatkan entah kemana. Meskipun saya tahu mereka pun suatu saat bakal
meminta jawab untuk diselesaikan.
Menjelang
pukul 8 malam saya kembali. Rekan-rekan telah berkumpul menunggu di depan ruang
kerja. Ada yang berdiskusi, ada yang juga yang sembari menikmati segelas kopi.
Melihatnya sepertinya nikmat sekali ketimbang harus mengisap kenalpot kopaja
ibu kota, dan mengisap baju yang penuh keringat sepanjang hari tadi. Apalagi
jika harus berteman dengan kemacetan yang mengular sepanjang jalan. Mata yang
letih pun tak kuasa juga memejamkannya. Hanya kepala yang miring dan pusing
sebagai penggantinya. Saya langsung saja menyampaikan poin baiknya. Lepas itu
saya pergi mengistirahatkan diri di rumah. Tapi ponsel genggam saya berdering
sepanjang saya hendak memejamkan mata. Pesan singkat silih berganti meminta
balasan segera. Saya kehilangan kesempatan lagi untuk istirahat. Lagi-lagi
urusan kerja yang terus saja membuntuti hingga rumah.
Pagi
pun menjelang lebih cepat dari biasanya. Tidak banyak waktu tersedia untuk
ayah, ibu, kakak maupun adik. Mereka melihat saya hanya ketika membuka dan
menutup pintu penanda pergi dan pulang. Itu saja, karena selebihnya saya tidak
di rumah. Apalagi hari
ini adalah kelangsungan acara yang penting bagi kantor. Selepas pukul 7 pagi tuan direktur dari rekanan kantor akan membuka acara secara simbolik. Namun
menjelang pukul 6 pagi kendaraan yang akan mengangkut rekan-rekan kantor dan
segala kebutuhan acara tak kunjung datang. Ponsel saya semakin panas mencari alternatif
tapi sia-sia.
"Selang 3 hari kemudian saya dipecat!”
Saya diam memandang layar laptop yang masih menyala. Sebagai rekan kantornya yang cukup lama dan dekat selama ini ternyata aku belumlah mengenalnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar