#under_header{ float:left; width:100%; } #under_header1{ float:left; width:25%; } #under_header2{ float:left; width:25%; } #under_header3{ float:left; width:25%; } #under_header4{ float:right; width:25%; }

Minggu, 29 Juni 2014

Minggu terakhir di bulan Juni

Minggu terakhir di bulan Juni ini aku bertemu dengan kawan lama di sekitaran Kapuk, tak jauh dari kota Tua. Ini adalah pertemuan rutin yang selalu kami rencanakan di setiap akhir bulan. Tapi Juni ini sepertinya bukan menjadi bulan yang mengenakan bagi kawanku. Memang dia cerdik sekali melucu dibalik masalahnya. Aku pun tanpa paksaan membaca sebuah catatan yang masih menyala di laptop kerjanya ketika dia meminjamkannya padaku selang sebulan setelah pertemuan Juni itu. Banyak rasa ingin tauku membuat banyak mencari tau. Tanpa sengaja aku membaca ini persis setelah laptop kunyalakan. Tentu ini catatan yang tidak mengenakan baginya. Kurang lebihnya seperti ini..
 “
Hari ini saya tidak bisa diam barang sebentar menunggu kabar dari kendaraan yang akan mengangkut kami, tak kunjung datang. Pesan singkat sudah terkirim namun tak ada balas. Telefon dilayangkan namun tak berjawab. Hanya rasa gugup dan khawatir yang menguasai diri. Lebih pada khawatir agenda kerja yang akan berantakan dan tertunda bahkan mungkin gagal karena tak ada kendaraan yang bakal mengangkut rekan-rekan kantor ke tujuan.

Hampir seminggu yang lalu saya mati-matian (beruntung tak sampai mati) mengejar setoran untuk berjalannya acara yang diagendakan berlangsung selama beberapa waktu di tepian Juni. Apapun alasannya saya telah berkeyakinan bahwa tidak mungkin tertunda lagi karena bakal membawa beban yang semakin berat buat saya sendiri tentunya. Ada lebih banyak kekecewaan yang saya dapatkan di sini. Orang-orang banyak yang menganggap ini sebagai sebuah pembelajaran. Yah ini memang pembelajaran dan lebih tepat sebagai pembelajaran pribadi yang terlalu ekstrim. Ibarat anak muda mungkin konteks pembelajaran yang dimaksud seperti dalam kalimat mampus, ini pelajaran buat loe! Maka ini jadi seperti tulisan yang meredam efek traumatik yang telah saya jalani dengan sekuat tenaga selama ini. Betapapun lelah dan kasihannya, saya tidak banyak mendapat bantuan kecuali pertanyaan dan permintaan maaf. Sesuatu yang sulit untuk ditolak tapi juga menyakitkan untuk menerimanya. Perasaan yang demikian membuat semangat saya menggebu-gebu.
Tapi sayang sekali, datangnya semangat tersebut bukan karena alasan yang bagus, Bukan karena motivasi yang hebat atau tantangan yang meminta jawab. Bukan juga karena jatah waktu yang makin sempit. Tapi karena psimisme dan ketiadaan kekuatan lagi untuk bertahan. Sekali-kali saya juga pernah berbalas sumpah serapah tapi toh tak juga mau keluar dari kata-kata kecuali teriakan dalam hati yang tertimbun nurani. Hati nurani terlanjur berbisik untuk sabar dan memaafkan. Tak tega juga seandainya harus membuat perasaan semacam ini kembali dirasakan oleh orang lain. Meskipun gregetan juga bilamana melihat rekan lain memungut rasa ketiadategaan saya itu menjadi bahan untuk maklum. Saya menjadi menyesal menyimpan rasa tidak tega itu untuk orang yang tidak tepat. Mungkin sebaiknya siapapun belajar supaya tidak mendapatkan pelajaran yang sama dengan apa yang pernah saya terima. Makin banyak pelajaran makin sempurnalah hidup. Dengan catatan siapapun harus tahu diri!

Tidak sadar saya pun telah melenyapkan kepentingan diri saya sendiri demi kepentingan ini. Ironi bagi saya karena mesti melenyapkan diri sendiri terlebih dulu bahkan hanya untuk mengangkat dan menjulurkan sebuah jari tangan saya sendiri ke atas meminta ulur tangan yang lain. Seperti pekerjaan yang bakal sia-sia karena toh kehidupan setelah kelenyapan hanyalah kehidupan yang semu dan antisosial kecuali pada dunia metafisis yang hilang. Tapi kepercayaan membuat saya bergeming dan bertahan dengan semangat menggebu-gebu tadi. Saya pun merasa menjadi orang yang altruis karena tersesat bukan karena keinginan dan motivasi yang benar tapi karena kebetulan. Egoisme saya hancur berkeping-keping melihat empati rekan saya juga yang telah larut bersama permintaan maaf. Saya tidak butuh itu! Apalagi penyesalan karena sudah tidak berfaedah lagi sekarang. Sudah saya bayangkan bagaimana perasaan bebas itu. Sudah saya siapkan prosesi mewah untuk menyambut jiwa-jiwa yang keluar dari penjara kamar. Sudah saya perkirakan kapan waktu dan tempat perayaan itu. Yang jelas saya tidak akan mengundang siapa-siapa kecuali orang-orang yang masih punya tanggung jawab dan empati, itu saja. Yang lain silakan mengantri untuk mendapat dua syarat itu jika ingin datang. Keyakinan saya adalah tak mungkin ada yang datang kecuali kebiasaan untuk mewakilkan kedatangan dengan permintaan maaf.

Seandainya saya bisa menolak etika maka akan kulindas orang-orang yang berpura-pura punya etika. Sialan, enak saja! Tapi saya tak kuasa menolaknya maka saya mencoba mati demi kehidupan yang telah dijanjikan oleh konsekuensi. Saya melanglang mencari jalan, memutar kepala membuka mata mencari celah untuk menutup kekurangan. Saya hampir tak sanggup dan gontai mencari kawan. Tapi saya juga urung menemukan kecuali kawan lama, sahabat maaf dan sahabat sesal. Biarpun begitu saya selalu mengucap terimakasih demi sebuah pelajaran ini. Pelajaran ini telah  mendatangkan kekuatan dan kepercayaan untuk menutup dan memutus ini. Jadi saya anggap ini untung biarpun buntung di sana-sini. Saya anggap berlebih sekalipun defisit untuk membuat akar kuat pada optimisme.

Beranjak dari sebuah tempat ke tempat yang lain saya akhirnya nekat untuk jalan karena desakan waktu. Seiringan dengan itu keringat dan letih saya sudah hampir selesai, nafas makin pendek dan cepat, kepasrahan makin dekat, ketegangan makin memuncak, dan emosi makin tak terarah. Saya menyerah untuk mengorbankan diri. Waktu saat itu melemah dan sejenak membuat saya tenang. Saya tidak ingat apa-apa pada diri saya sendiri kecuali pada kewajiban ini. Pada saat itu saya berada puncak ketiadaan. Beban-beban sebagai individu telah saya sesatkan entah kemana.  Meskipun saya tahu mereka pun suatu saat bakal meminta jawab untuk diselesaikan.

Menjelang pukul 8 malam saya kembali. Rekan-rekan telah berkumpul menunggu di depan ruang kerja. Ada yang berdiskusi, ada yang juga yang sembari menikmati segelas kopi. Melihatnya sepertinya nikmat sekali ketimbang harus mengisap kenalpot kopaja ibu kota, dan mengisap baju yang penuh keringat sepanjang hari tadi. Apalagi jika harus berteman dengan kemacetan yang mengular sepanjang jalan. Mata yang letih pun tak kuasa juga memejamkannya. Hanya kepala yang miring dan pusing sebagai penggantinya. Saya langsung saja menyampaikan poin baiknya. Lepas itu saya pergi mengistirahatkan diri di rumah. Tapi ponsel genggam saya berdering sepanjang saya hendak memejamkan mata. Pesan singkat silih berganti meminta balasan segera. Saya kehilangan kesempatan lagi untuk istirahat. Lagi-lagi urusan kerja yang terus saja membuntuti hingga rumah.

Pagi pun menjelang lebih cepat dari biasanya. Tidak banyak waktu tersedia untuk ayah, ibu, kakak maupun adik. Mereka melihat saya hanya ketika membuka dan menutup pintu penanda pergi dan pulang. Itu saja, karena selebihnya saya tidak di rumah. Apalagi hari ini adalah kelangsungan acara yang penting bagi kantor. Selepas pukul 7 pagi tuan direktur dari rekanan kantor akan membuka acara secara simbolik. Namun menjelang pukul 6 pagi kendaraan yang akan mengangkut rekan-rekan kantor dan segala kebutuhan acara tak kunjung datang. Ponsel saya semakin panas mencari alternatif tapi sia-sia.
"Selang 3 hari kemudian saya dipecat!”

Saya diam memandang layar laptop yang masih menyala. Sebagai rekan kantornya yang cukup lama dan dekat selama ini ternyata aku belumlah mengenalnya.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar