#under_header{ float:left; width:100%; } #under_header1{ float:left; width:25%; } #under_header2{ float:left; width:25%; } #under_header3{ float:left; width:25%; } #under_header4{ float:right; width:25%; }

Senin, 23 Juni 2014

Kunci



Aku bebas keluar masuk rumahku sendiri. Tapi aku tak bisa pergi dan kabur karena pasti semua orang akan mencariku. Bukan mencariku sebagai seonggok tubuh, tapi mencari kunci yang selalu aku bawa. Mereka tak membawanya selalu, maka aku harus menjadi kakak yang selalu siaga pada kepulangan maupun kepergian. Tak jarang mereka tak pulang selama berhari-hari bahkan berbulan-bulan. Sampai dengan datang berita bahwa dia tak akan pernah kembali lagi. Ada juga yang datang sebentar kemudian pulang dengan sebuntel tanda tangan. Ada pula yang datang tergopoh-gopoh dengan berbagai masalah di punggungnya. Aku melayani siapapun yang datang dengan sebaik-baiknya. Tak pernah aku membedakan dia cantik atau sebaliknya. Aku hanya tau dia bagian dari rumah warisan ini. Sekarang aku kehilangan kunci di rumah sendiri. 
Mereka satu per satu pergi dan tak kembali. Bukan karena bosan tapi karena tak ada lagi kunci.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar