#under_header{ float:left; width:100%; } #under_header1{ float:left; width:25%; } #under_header2{ float:left; width:25%; } #under_header3{ float:left; width:25%; } #under_header4{ float:right; width:25%; }

Senin, 14 November 2016

Ibu, Maafkan Aku: Perjuangan dan Rindu Seorang Ibu



Ibu, maafkan aku..

Membaca judulnya saja sudah cukup memenuhi rasa ingin tahuku tentang kesalahan apa yang membuat seseorang mengatakan itu. Sebuah permohonan sekaligus ampun atas betapa besarnya pengorbanan dan kerja keras seorang ibu pada anak-anaknya yang selalu gagal untuk dibalas oleh seorang anak bagaimanapun caranya.

Film yang dibintangi oleh aktris senior Christin Hakim ini sukses menguras simpati sekaligus empatiku pada seorang ibu yang diperankan olehnya. Diawali dengan sebuah pemandangan bentang alam yang begitu menawan di sebuah pedesaan di Yogyakarta, namun ternyata keindahan menyimpan begitu banyak kedukaan yang dirasakan oleh sosok seorang ibu yang mesti menjadi tulang punggung keluarga setelah ditinggal mati suaminya. Tinggal di kaki gunung batu dengan tebing-tebing yang begitu kokoh berdiri menghadap ke langit membuat ibu begitu keras berjuang menjalani hari-harinya demi menyekolahkan tiga anaknya. Pilihan pun jatuh pada pemecah batu-batu kali yang berada di dekat rumah tinggal limasnya. Tentu bukan karena pilihan yang diharapkan melainkan karena hanya ada pilihan itu satu-satunya. Memecah batu yang keras dengan tubuh tuanya yang lemah. Begitulah perjuangan meskipun ibu sendiri tahu bahwa batu-batu yang dipecahkannya tidak akan mungkin berubah menjadi bongkahan emas atau permata. Tapi setidaknya dari batu-batu yang dipecahkannya itulah ketiga anaknya bisa terus bersekolah dan menjadi jalan untuk meraih cita-cita mereka. Lelah tak dirasa, sakit tak dihirau begitulah ibu. Yang dihiraukannya hanyalah ketiga anaknya yang mesti terus belajar dan menenangkan perut yang kosong.

Sepeninggal ayahnya, Mas Banyu anak laki-laki yang paling tua mengambil tugas sebagai pilot dalam keluarga. Sementara itu, kedua adiknya mau tidak mau harus mengikuti karakter Mas Banyu yang tegas dan keras dalam menjaga dan melindungi kedua adiknya. Gendhis, adik perempuan Mas Banyu menjadi adik perempuan yang paling diperhatikan oleh Banyu. Meskipun keduanya sama-sama bersekolah di sekolah yang sama (SMA) namun tidak berarti Banyu mengurangi perhatian ke adiknya. Apalagi sejak perkenalan Gendhis dengan seorang teman SMA bernama Panji yang menyukainya, Banyu pun melindungi adiknya ekstra keras melindungi adiknya dari pengaruh buruk pacaran. Konflik mulai terjadi diantara keduanya karena Banyu yang terlalu keras. Sementara itu, Satriyo adiknya yang paling kecil hanya bisa menuruti kemauan kakaknya dengan pasrah. Sang Ibu pun mulai goyah melihat anak-anaknya yang selalu ribut di rumah. Namun begitu, konflik yang dialami anak-anaknya tidak membuat ibu goyah dalam memecah batu. Pekerjaan itu harus terus berjalan karena tanpa memecah batu, bisa jadi keluarga ini akan jauh lebih goyah. Keinginan ibu hanyalah menlihat anak-anaknya berhasil meraih cita-cita mereka. Banyu dengan pilot sebagai tujuannya dan Gendhis dengan dokter sebagai targetnya. Sementara itu, Satriyo hanya berkeinginan menjadi prajurit yang selalu siap melindungi ibunya. 

Hari-hari pun dilewati ibu tanpa absen dari memecah batu sampai tiba saatnya Banyu lulus dari SMA dan mendapat peringkat 3 terbaik di Yogyakarta. Raihan itu pun membuat kegembiraan yang luar biasa dalam diri Banyu. Cita-citanya menjadi pilot pun semakin kuat. Dia pun mengutarakan keinginannya untuk sekolah pilot di Jakarta. Ibu tak begitu setuju dengan rencana Banyu karena dengan pilihan itu berarti Banyu pergi darinya. Namun tekad Banyu sudah kuat, tanpa bercerita apapun sebelumnya Banyu akhirnya memutuskan untuk pergi ke Jakarta menumpang kendaraan milik warga. Inilah adegan paling mengharukan dalam film ini. 

Ibu tak kuasa menahan kepergian Banyu. Dalam dekapan Banyu yang dalam dan permohonan doa yang tulus, air matapun tumpah pada keluarga ini. Gendhis dan Satriyo hanya memandang kosong antara bulir-bulir air mata yang perlahan jatuh. Tergopoh-gopoh ibu jalan menuju kamar mencari segala sesuatu yang kiranya bisa menjadi bekal buat Banyu. Namun, Banyu pun terburu-buru pergi karena sudah ditunggu mobil di seberang jembatan. Adegan kejar-mengejar dalam pesawahan pun terjadi. Sang ibu tak kuasa mengejar laju Banyu yang sigap berlari mengejar mobil. Ibu pun hanya jatuh dalam tangisan yang tak terbendungkan. Bekal tak dapat disampaikan pada Banyu, namun doa dalam hatinya tak pernah putus. 

Kepergian Banyu pun menjadi awal dari sunyi yang perlahan mulai menjadi teman ibu di rumah. Tak berapa lama kemudian Gendhis pun lulus dari SMA dan memohon izin pada ibu untuk bisa kuliah di kota Yogyakarta. Lagi-lagi keputusan sulit pun mesti diambil ibu. Tak ada pilihan lain kecuali membiarkan Gendhis meraih cita-citanya menjadi dokter. Sepi semakin dirasakan oleh ibu karena sekarang tinggallah dia bersama Satriyo si bungsu yang masih SD. Ada rasa bangga atas raihan anak-anaknya yang bisa meraih pendidikan tinggi sekaligus rasa sendu yang tak bisa ditolak. Ditinggalkan anak bukanlah keinginan sang ibu biarpun dengan tujuan yang baik. Tak ada yang bisa menggantikan hadirnya pertemuan anak dan ibu, sama sekali tak ada. Dalam tubuhnya yang semakin renta, matanya yang kian kabur bahkan sulit untuk melihat, ibu terus berjuang sampai dengan kabar baik dari Banyu dan Gendhis pun datang. Banyu sudah berhasil menjadi pilot dan Gendhis sudah selesai kuliah dan tugas sebagai dokter di Yogya. 

Yang menarik adalah ketika si bungsu Satriyo justru tidak naik kelas di tengah kakak-kakaknya yang telah menjadi pilot dan dokter. Namun dengan bijak ibu justru menghibur Satriyo dan berkata, “Langit tak akan runtuh jika kamu tak naik kelas kan. Setiap anak punya kelebihannya masing-masing. Yang terpenting kamu tidak tinggalkan salat lima waktu.” Begitulah ibu pandai menghibur diri sekaligus menghibur anak-anaknya. 

Rasa bangga tak bisa ditolak, namun hadirnya sekaligus dengan rasa rindu yang sulit juga dibendung. Tubuh yang renta terpaksa mesti menanggung rindu pada anaknya sendiri sampai akhirnya ibu pun tak kuasa bertahan dan jatuh. Banyu dan Gendhis yang berada di luar kota pun segera pulang dan tak bisa menahan kesedihan mereka yang gagal untuk menemui sosok ibu yang masih sehat seperti dulu. Tubuh tuanya jelas menggambarkan kerja kerasnya setiap hari dalam memecah batu. Sampai keduanya tersimpuh dalam pangkuan ibu yang terbaring sakit pun, ibu tak juga berbicara dan membuka mata. Hanya penyesalan yang merajai perasaan mereka. Apalagi setelah Satriyo memperdengarkan rekaman suara ibu sebagai pesan pada keduanya yang belum sempat tersampaikan.

Mengejar cita-cita memang mulia, namun lebih mulia lagi mengejar kebahagiaan orang tua khususnya ibu. Seringkali ibu memang memendam rasa sakit demi melihat anak-anaknya bahagia, itulah yang tidak pernah bisa tergantikan oleh seorang anak. Kesibukan seringkali melalaikan pada kerja keras dan pengorbanan seorang ibu. Temuilah, berkabarlah, dan berceritalah pada ibu. Rengkuhlah bersama ibu apa yang akan dan sudah kamu dapatkan atas perjuangannya. Gunung batupun dipecahkannya demi melihat anak-anaknya meraih cita-citanya. Lalu apa yang bisa kamu lakukan deminya?

Buat kamu yang sedang jauh dari ibu, film ini tentu akan menguras habis air matamu, memaksamu untuk segera pulang dan mengucap, “ Ibu, maafkan aku!”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar