![]() |
| Perahu sebagai penghubung antara kampung dan kota |
Kencang angin
meniup tidak hanya tangkai daun-daun kelapa di sepanjang kampung tetapi juga
batangnya sekalipun meliuk. Udara tidak bisa dikatakan sejuk, melebihi dari
sekadar kata sejuk pagi ini. Sudah beberapa hari ini angin memang bertiup
sangat kencang di wilayah kepulauan ayau, termasuk juga Rutum. Sudah sejak hari
Sabtu, saya, Mas Roy, dan Mas Abid menunggu kesiapan kepala kampung untuk
mengantar kami menuju Waisai. Hari Jumat sebelumnya saya telah berpamitan
kepada semua masyarakat kampung Rutum untuk kembali ke Jawa karena masa tugas
yang telah selesai. Oleh karena itulah saya langsung mengambil inisiatif untuk
mencari masyarakat yang akan ke kota. Kebetulan kepala kampunglah yang hendak
ke kota untuk mengurus pencairan dana desa. Saya pun langsung meminta izin
untuk turut serta dalam perahu.
Pada mulanya
rencananya kepala kampung akan berangkat hari Sabtu, persis sehari setelah saya
mengadakan perpisahan dengan sekolah dan masyarakat. Namun batal karena cuaca
yang mendung dan berangin sangat kuat. Tentu saja kepala kampung juga enggan
mengambil risiko perjalanan dalam situasi laut yang tidak bersahabat. 3 hari
menunggu tetap saja cuaca mendung berangin tidak berubah. Akhirnya pada hari
yang ke empat pun sama, masih mendung disertai angin kencang bahkan sesekali
rintik hujan turun.
Namun kali ini kepala kampung memberanikan diri untuk
berangkat dengan perahu transdes kepunyaan kampung. Sejak pagi terlihat
keluarga kepala kampung sudah bersiap dengan segala perlengkapan yang akan
dibawa. Beberapa karton berisi insonem
atau cacing pasir sudah rapih berada di belakang dapur siap untuk diangkut.
Sebagian lainnya masih di atas tempat pengasapan. Minyak-minyak dalam drum pun
mulai diangkut dan dipindahkan ke dalam jerigen-jerigen yang berukuran lebih
kecil agar mudah disalurkan ke dalam mesin.
Kebiasaan orang
kampung akan menyebutnya dengan “menyimpan.”
Begitupun dengan saya. Saya bahkan sudah berkemas sejak 3 hari lalu. Saya
memang sengaja bersiap untuk kapanpun berangkat. Ada perasaan ingin segera
menemu kabar kawan-kawan yang sudah lebih dulu tiba di Sorong. Ada juga
keinginan untuk segera mengabarkan ke rumah bahwa saya baik-baik saja. Maklum
saja karena jaringan seluler di kampung sangat susah diprediksi. Kadang bisa
digunakan dan lebih sering mati karena gangguan cuaca dan pasang surut air
laut. Kalau jaringan sedang bagus, maka saya tinggal berjalan beberapa puluh
meter ke belakang rumah seorang warga atau ke tepian pantai.
Di sanalah tempat
saya biasa mencari harapan untuk bisa mengirim pesan. Hanya pesan singkat
karena telepon hanya akan menimbulkan sakit hati dan membuang pulsa. Pesan
singkat pun harus dikirim pada saat yang tepat, yaitu saat sinyal muncul yang
biasanya tak sampai hitungan menit kemudian hilang dan muncul lagi sesukanya.
Perasaanku sudah
bercampur. Ingin segera pulang atau paling tidak ke kota. Namun dalam saat yang
bersamaan berat hati meninggalkan kampung tempat bertugas. Ini adalah bulan
ramadhan hari yang ke 17, pagi saya masih menyempatkan diri untuk santap sahur.
Namun menjelang berangkat saya diingatkan oleh kepala kampung agar tidak
memaksakan diri tetap puasa selama perjalanan.
“ Kamu dorang sebaiknya tarausah puasa dulu. Nanti badan bisa soak
karena mabok laut. Apalagi cuaca tara bagus begini. Bu guru dorang tahun lalu pun
sama. Dorang maksa puasa tapi akhirnya badan soak juga dan tarajadi puasa.”
Pesan kepala kampung akhirnya saya turuti
melihat cuaca yang tidak bersahabat. Suguhan kue dan teh manis panas memang
sudah di depan mata ketika kepala kampung memberi pesan. Akhirnya saya niatkan
untuk membatalkan puasa lebih awal ketimbang maksa puasa dalam kondisi
perjalanan yang tidak pernah bisa diduga-duga nantinya. Sementara itu Mas Abid
memaksa tetap berpuasa, meskipun pada akhirnya saya tahu dia pun membatalkannya
dalam perjalanan.
Hari ini adalah
selasa yang menentukan bagi saya untuk meninggalkan kampung tempat bertugas.
Ini sekaligus menjadi momen terakhirku di sini. Mas Roy pun membisikkan sesuatu
yang sama di siang itu sebelum berangkat. “ Ini saat terakhir njenengan ada di
sini Mas Imam.” Pesannya mungkin hendak mengingatkan saya betapa tidak mudahnya
dulu ketika dia juga harus melakukan hal yang sama di Aceh.
Menjelang tengah
hari, saya dan rekan mulai membawa tas-tas ke bibir pantai. Di sana sudah
menunggu perahu belang atau perahu susun, sebutan untuk perahu beratap yang
akan mengantarkan kami ke Waisai. Saya dibantu beberapa anak murid membawa
beberapa tas ke perahu. Sungguh memang tidak mudah bahkan untuk membawa tas
yang kosong sekalipun. Ada perasaan berat untuk membawanya kembali. Tapi
anak-anak murid sudah lari membawanya semakin dekat dengan perahu. Masyarakat mulai
berkerumun menghadap ke lautan yang menghadap ke Kanober, pulau di depan kampung.
Lautnya tidak sebiru biasanya karena mendung menutup pantulan matahari ke
jernihnya air. Angin masih juga berhembus kencang disertai rintik.
Murid-murid
berseragam pramuka mengiring kepergian kami. Saya mulai tidak bisa menahan
jatuhnya air mata. Tumpah begitu saja seiring salam jabat yang terakhir saya
kepada semua masyarakat yang mengantar saat itu hingga ke perahu. Saya pamit
untuk kembali. Air matapun semakin tumpah saat anak-anak menyanyikan lagu
andalan perpisahan “Sapu tangan biru.” Apalagi mengingat kebaikan-kebaikan
masyarakat selama setahun bertugas. Saya benar-benar memeluk orang-orang yang
telah sangat membantu saya selama di kampung Rutum saat itu. Sedikit kalimat
pamit pun saya sampaikan saat itu sebelum kaki melangkah berat menuju perahu.
“ Bapak, Mama,
Tete, Nenek, hari ini saya mohon izin untuk pamit pulang ke Jawa. Mohon maaf
jika selama saya di sini saya berbuat salah. Mohon doa juga agar saya selamat
sampai tujuan di rumah.”
Tentu mengucapkan kalimat yang sedemikian singkat itu
tidak semudah ketika membacanya di sini. Ada desakan air mata yang memaksa
keluar dalam setiap kata yang terucap. Sungguh perpisahan selalu tidak gampang.
Semua telah selesai saya salami dan kakipun melangkah semakin dekat ke perahu.
Kepala kampung dan yang lainnya sudah lebih dulu siap di perahu. Saya terakhir
melompat naik ke atas perahu bagian depan. Mesin perahupun dinyalakan pertanda
siap untuk meluncur. Saya masih belum bisa menghentikan air mata yang tumpah.
Perlahan pun perahu mulai bergerak maju dan semakin menjauh dari kampung. Satu
kata terakhir yang saya ucapkan untuk Rutum adalah terimakasih. Perjalanan
menantang alam pun dimulai. Menebar pandang ke depan luas nampak Abidon nampak gelap
dalam bungkusan awan gelap hitam. Suara ombak menuruk badan perahu berbaur
dengan sedu sedan saya yang juga masih belum juga mau berhenti.
Bersama-sama
dalam satu perahu saat itu adalah Mas Roy, Mas Abid, Ibu Kepala sekolah, Pak
Marsel, keluarga Salamuk, Pieter dan Lisbet (anak kepala kampung), dan kepala kampung
sendiri sebagai motoris ditemani dua orang lagi. Perahu meluncur melewati pulau
Abidon sebagai ibukota distrik Kepulauan Ayau dengan suasana gelombang yang
normal hanya beriak-riak kecil saja. Namun melewati pulau Meosbekwan dan
Dorehkar perahu seperti disambut dalam alam yang lain. Suasana gelombang jelas
berbeda jauh. Dari sisi jendela perahu, saya mengintip dengan jelas bahwa ada
semacam batas yang memisahkan antara laut dangkal yang sedari mula kami lalui
dan laut dalam yang akan kita masuki berikutnya. Jelas sekali nampak perahu pun
goyah dan menurunkan kecepatan hingga hampir pada titik nol untuk melewati laut
transisi ini.
Gelombang tinggi langsung menghantam sisi kiri dan kanan perahu.
Dari depan pun tak ada ampun bagi perahu. Tadinya saya pikir ini tidak akan
berlangsung lama. Namun ternyata tidak, sepanjang laut lepas antara Dorehkar
dan Tanah besar (sebutan untuk Waigeo) lautan menjadi kejam menyerang kami punya
perahu dan seisinya. Maka dalam perahu hanya ada dua yang kami lakukan, diam
atau berteriak. Diam dalam kekhusukan doa kami masing-masing dan berteriak
untuk meluapkan rasa takut yang tumpah ruah. Pilihan kedua dipilih oleh ibu
kepala sekolah yang berteriak hampir setiap menitnya. Saya memilih yang pertama
untuk tetap diam dan pasrah pada kuasa Tuhan. Air laut sudah tumpah ruah masuk
ke dalam perahu. Kami Sibuk bergantian menimba air yang terus masuk dari perahu
bagian depan. Sambil menahan pusing kepala yang tertahan karena mabuk, saya pun
ikut berusaha menimba air keluar perahu. Tapi beberapa kali timba sudah kalah
oleh hempasan gelombang dari luar dan digantikan yang lain.
Kuyub, semua pakaian kami. Perjalanan yang
biasanya ditempuh 4 jam untuk sampai di Tanah Besar menjadi hampir dua kali
lipat dari biasanya. Saya menjadi ingat dengan pesan kepala kampung tadi
sebelum berangkat, ternyata memang benarlah pesan beliau. Laut tak dapat
dilawan atau ditantang kecuali mengikuti saja aliran dan gelombangnya.
Menjelang
mahrib, perahu belum mencapai daratan tanah besar Waigeo. Saya melihat ke
perahu bagian belakang Bapak Lis masih dengan setia memegang kendali dua mesin
yang menempel di perahu. Dia terus berjibaku mengikuti keganasan ombak
sepanjang perjalanan. Kami menyadari betul kepasrahan keselamatan kami pada
yang mahakuasa melalui sang motoris andal ini. Sementara saya sendiri duduk di
barisan depan perahu masih di dalam dan terlindung oleh atapnya. Saya duduk berimpit
dengan rekan lainnya.
Di depan kami adalah beberapa tumpukkan drum yang sengaja
ditaruh untuk menghalau air yang masuk. Bahkan terpal berwarna biru tua yang
dilipat beberapa kali pun dipasang untuk menghalau air dan angin dari depan.
Namun kami tetap basah, angin dan air tak bisa ditolak datangnya. Dari depan
perahu angin dan air berbarengan menubruk tempat kami yang berlindung dibalik
terpal dan drum selama perjalanan. Semua kedinginan, saya hampir menggigil.
Apalagi air sudah semata kaki dalamnya di bawah kami. Sementara di belakang
saya ialah keluarga Salamuk yang juga merasakan hal sama. Kepala sekolah masih
dengan teriakan-teriakan histerisnya beberapa kali merespon ganasnya gelombang.
Saya diam sambil mencoba memaksa menidurkan mata yang sia-sia.
Sekitar pukul 7
malam perahu sudah melewati Tanjung Pamali, tanjung yang terkenal karena
keganasan ombaknya di Waigeo. Namun saya tidak merasakan perbedaan antara laut
Tanjung Pamali dan yang bukan. Hari ini saya rasai seisi lautan adalah Tanjung
Pamali. Bahkan laut yang biasa tenang sepanjang pesisir daratan Waigeo, sore
ini mengganas semuanya. Saya semakin sadar ketika mata melihat sebuah gereja
yang cukup besar di samping kanan. Tahulah kini saya bahwa perahu sedang
melewati kampung Urbinasopen. Perahu kami rasai semakin koyak karena gelombang.
Jalannya makin terseok tak beraturan meski terus melaju ke depan.
Tak selang
berapa lama, sang motoris pun akhirnya mulai mengalah dan memilih untuk singgah
di sebuah pulau dekat kampung Urbinasopen. Saya masih mengingat dengan sangat
jelas kala perah berputar haluan dengan usaha yang sangat keras melawan
hempasan ombak sebelum menepi. Ada banyak sekali pengandaian buruk yang
melintas dalam kepala saat itu. Kalaulah keburukan yang terjadi maka tidak akan
pernah sampai berita ini saya tuliskan. Tapi bersyukur perahu kami bisa menepi
dan lega yang teramat sangat perasaan kami semua.
Semua penumpang
turun dari dalam perahu menginjakkan kaki kembali ke daratan berpasir. Susah
payah kami mencoba membuat pembakaran guna menghangatkan badan kami yang
dingin. Matahari memang sudah pergi tapi terangnya bulan mulai mengintip
dibalik awan-awan hitam yang mulai pergi. Sebentar saja kami di darat, kemudian
kami diminta untuk merapat lagi ke dalam perahu. Ada kekhawatiran akan adanya
bahaya yang sewaktu-waktu bisa mengancam kami di pulau ini. Akhirnya kami semua
istirahat di dalam perahu sambil menunggu gelombang sedikit reda.
Hampir tengah
malam, saya terbangun dari tidur yang hanya setengah-setengah. Ternyata Bapa
Lis mengajak kami untuk kembali melanjutkan perjalanan. Gelombang sudah mulai
hilang, angin mereda. Saya bersyukur mendengarnya. Perahu pun kembali lepas
jangkar dan meluncur menuju Waisai. Benar saja, gelombang sudah mulai tidak
terasa begitu gempita seperti sebelumnya. Angin pun sepoi saja. Tapi perahu
masih berjalan pelan karena minimnya penerangan. Akhirnya sekitar pukul 1 dini
hari perahu kami sandar di pelabuhan kali pasar Waisai. Perahu kami masuk
hingga mendekat ke belakang rumah pintar Korfarkor. Di sana kemudian kami turun
dan menggulung badan. Bukan di rumah pintar, tapi digubuk-gubuk penjual pinang
di pinggir jalan yang sudah ditinggal pemiliknya karena malam. Gerimis menemani
tidur yang menggigil.
Paginya kami baru dijemput oleh rekan warga kampung yang bekerja di Waisai menuju kontrakannya. Betapa syukur tak hentinya kami dengungkan dalam hati kami meskipun saya kembali melewatkan hari ini untuk puasa. Inilah semalam antara Ayau dan Waisai. Dan pagi ini saya kembali menikmati segelas teh manis bersama dengan beberapa ekor insonem goreng.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar