#under_header{ float:left; width:100%; } #under_header1{ float:left; width:25%; } #under_header2{ float:left; width:25%; } #under_header3{ float:left; width:25%; } #under_header4{ float:right; width:25%; }

Selasa, 01 November 2016

Raja Ampat: Antara Kepulauan Ayau dan Waisai







Perahu sebagai penghubung antara kampung dan kota


Kencang angin meniup tidak hanya tangkai daun-daun kelapa di sepanjang kampung tetapi juga batangnya sekalipun meliuk. Udara tidak bisa dikatakan sejuk, melebihi dari sekadar kata sejuk pagi ini. Sudah beberapa hari ini angin memang bertiup sangat kencang di wilayah kepulauan ayau, termasuk juga Rutum. Sudah sejak hari Sabtu, saya, Mas Roy, dan Mas Abid menunggu kesiapan kepala kampung untuk mengantar kami menuju Waisai. Hari Jumat sebelumnya saya telah berpamitan kepada semua masyarakat kampung Rutum untuk kembali ke Jawa karena masa tugas yang telah selesai. Oleh karena itulah saya langsung mengambil inisiatif untuk mencari masyarakat yang akan ke kota. Kebetulan kepala kampunglah yang hendak ke kota untuk mengurus pencairan dana desa. Saya pun langsung meminta izin untuk turut serta dalam perahu.  

Pada mulanya rencananya kepala kampung akan berangkat hari Sabtu, persis sehari setelah saya mengadakan perpisahan dengan sekolah dan masyarakat. Namun batal karena cuaca yang mendung dan berangin sangat kuat. Tentu saja kepala kampung juga enggan mengambil risiko perjalanan dalam situasi laut yang tidak bersahabat. 3 hari menunggu tetap saja cuaca mendung berangin tidak berubah. Akhirnya pada hari yang ke empat pun sama, masih mendung disertai angin kencang bahkan sesekali rintik hujan turun. 

Namun kali ini kepala kampung memberanikan diri untuk berangkat dengan perahu transdes kepunyaan kampung. Sejak pagi terlihat keluarga kepala kampung sudah bersiap dengan segala perlengkapan yang akan dibawa. Beberapa karton berisi insonem atau cacing pasir sudah rapih berada di belakang dapur siap untuk diangkut. Sebagian lainnya masih di atas tempat pengasapan. Minyak-minyak dalam drum pun mulai diangkut dan dipindahkan ke dalam jerigen-jerigen yang berukuran lebih kecil agar mudah disalurkan ke dalam mesin. 

Kebiasaan orang kampung akan menyebutnya dengan “menyimpan.” Begitupun dengan saya. Saya bahkan sudah berkemas sejak 3 hari lalu. Saya memang sengaja bersiap untuk kapanpun berangkat. Ada perasaan ingin segera menemu kabar kawan-kawan yang sudah lebih dulu tiba di Sorong. Ada juga keinginan untuk segera mengabarkan ke rumah bahwa saya baik-baik saja. Maklum saja karena jaringan seluler di kampung sangat susah diprediksi. Kadang bisa digunakan dan lebih sering mati karena gangguan cuaca dan pasang surut air laut. Kalau jaringan sedang bagus, maka saya tinggal berjalan beberapa puluh meter ke belakang rumah seorang warga atau ke tepian pantai. 

Di sanalah tempat saya biasa mencari harapan untuk bisa mengirim pesan. Hanya pesan singkat karena telepon hanya akan menimbulkan sakit hati dan membuang pulsa. Pesan singkat pun harus dikirim pada saat yang tepat, yaitu saat sinyal muncul yang biasanya tak sampai hitungan menit kemudian hilang dan muncul lagi sesukanya.

Perasaanku sudah bercampur. Ingin segera pulang atau paling tidak ke kota. Namun dalam saat yang bersamaan berat hati meninggalkan kampung tempat bertugas. Ini adalah bulan ramadhan hari yang ke 17, pagi saya masih menyempatkan diri untuk santap sahur. Namun menjelang berangkat saya diingatkan oleh kepala kampung agar tidak memaksakan diri tetap puasa selama perjalanan. 

“ Kamu dorang sebaiknya tarausah puasa dulu. Nanti badan bisa soak karena mabok laut. Apalagi cuaca tara bagus begini. Bu guru dorang tahun lalu pun sama. Dorang maksa puasa tapi akhirnya badan soak juga dan tarajadi puasa.”  

 Pesan kepala kampung akhirnya saya turuti melihat cuaca yang tidak bersahabat. Suguhan kue dan teh manis panas memang sudah di depan mata ketika kepala kampung memberi pesan. Akhirnya saya niatkan untuk membatalkan puasa lebih awal ketimbang maksa puasa dalam kondisi perjalanan yang tidak pernah bisa diduga-duga nantinya. Sementara itu Mas Abid memaksa tetap berpuasa, meskipun pada akhirnya saya tahu dia pun membatalkannya dalam perjalanan. 

Hari ini adalah selasa yang menentukan bagi saya untuk meninggalkan kampung tempat bertugas. Ini sekaligus menjadi momen terakhirku di sini. Mas Roy pun membisikkan sesuatu yang sama di siang itu sebelum berangkat. “ Ini saat terakhir njenengan ada di sini Mas Imam.” Pesannya mungkin hendak mengingatkan saya betapa tidak mudahnya dulu ketika dia juga harus melakukan hal yang sama di Aceh.

 
Murid-murid dan masyarakat mengantar kepergian kami
Menjelang tengah hari, saya dan rekan mulai membawa tas-tas ke bibir pantai. Di sana sudah menunggu perahu belang atau perahu susun, sebutan untuk perahu beratap yang akan mengantarkan kami ke Waisai. Saya dibantu beberapa anak murid membawa beberapa tas ke perahu. Sungguh memang tidak mudah bahkan untuk membawa tas yang kosong sekalipun. Ada perasaan berat untuk membawanya kembali. Tapi anak-anak murid sudah lari membawanya semakin dekat dengan perahu. Masyarakat mulai berkerumun menghadap ke lautan yang menghadap ke Kanober, pulau di depan kampung. Lautnya tidak sebiru biasanya karena mendung menutup pantulan matahari ke jernihnya air. Angin masih juga berhembus kencang disertai rintik. 

Murid-murid berseragam pramuka mengiring kepergian kami. Saya mulai tidak bisa menahan jatuhnya air mata. Tumpah begitu saja seiring salam jabat yang terakhir saya kepada semua masyarakat yang mengantar saat itu hingga ke perahu. Saya pamit untuk kembali. Air matapun semakin tumpah saat anak-anak menyanyikan lagu andalan perpisahan “Sapu tangan biru.” Apalagi mengingat kebaikan-kebaikan masyarakat selama setahun bertugas. Saya benar-benar memeluk orang-orang yang telah sangat membantu saya selama di kampung Rutum saat itu. Sedikit kalimat pamit pun saya sampaikan saat itu sebelum kaki melangkah berat menuju perahu.

“ Bapak, Mama, Tete, Nenek, hari ini saya mohon izin untuk pamit pulang ke Jawa. Mohon maaf jika selama saya di sini saya berbuat salah. Mohon doa juga agar saya selamat sampai tujuan di rumah.” 

Tentu mengucapkan kalimat yang sedemikian singkat itu tidak semudah ketika membacanya di sini. Ada desakan air mata yang memaksa keluar dalam setiap kata yang terucap. Sungguh perpisahan selalu tidak gampang. Semua telah selesai saya salami dan kakipun melangkah semakin dekat ke perahu. Kepala kampung dan yang lainnya sudah lebih dulu siap di perahu. Saya terakhir melompat naik ke atas perahu bagian depan. Mesin perahupun dinyalakan pertanda siap untuk meluncur. Saya masih belum bisa menghentikan air mata yang tumpah. Perlahan pun perahu mulai bergerak maju dan semakin menjauh dari kampung. Satu kata terakhir yang saya ucapkan untuk Rutum adalah terimakasih. Perjalanan menantang alam pun dimulai. Menebar pandang ke depan luas nampak Abidon nampak gelap dalam bungkusan awan gelap hitam. Suara ombak menuruk badan perahu berbaur dengan sedu sedan saya yang juga masih belum juga mau berhenti.

Bersama-sama dalam satu perahu saat itu adalah Mas Roy, Mas Abid, Ibu Kepala sekolah, Pak Marsel, keluarga Salamuk, Pieter dan Lisbet (anak kepala kampung), dan kepala kampung sendiri sebagai motoris ditemani dua orang lagi. Perahu meluncur melewati pulau Abidon sebagai ibukota distrik Kepulauan Ayau dengan suasana gelombang yang normal hanya beriak-riak kecil saja. Namun melewati pulau Meosbekwan dan Dorehkar perahu seperti disambut dalam alam yang lain. Suasana gelombang jelas berbeda jauh. Dari sisi jendela perahu, saya mengintip dengan jelas bahwa ada semacam batas yang memisahkan antara laut dangkal yang sedari mula kami lalui dan laut dalam yang akan kita masuki berikutnya. Jelas sekali nampak perahu pun goyah dan menurunkan kecepatan hingga hampir pada titik nol untuk melewati laut transisi ini. 

Gelombang tinggi langsung menghantam sisi kiri dan kanan perahu. Dari depan pun tak ada ampun bagi perahu. Tadinya saya pikir ini tidak akan berlangsung lama. Namun ternyata tidak, sepanjang laut lepas antara Dorehkar dan Tanah besar (sebutan untuk Waigeo) lautan menjadi kejam menyerang kami punya perahu dan seisinya. Maka dalam perahu hanya ada dua yang kami lakukan, diam atau berteriak. Diam dalam kekhusukan doa kami masing-masing dan berteriak untuk meluapkan rasa takut yang tumpah ruah. Pilihan kedua dipilih oleh ibu kepala sekolah yang berteriak hampir setiap menitnya. Saya memilih yang pertama untuk tetap diam dan pasrah pada kuasa Tuhan. Air laut sudah tumpah ruah masuk ke dalam perahu. Kami Sibuk bergantian menimba air yang terus masuk dari perahu bagian depan. Sambil menahan pusing kepala yang tertahan karena mabuk, saya pun ikut berusaha menimba air keluar perahu. Tapi beberapa kali timba sudah kalah oleh hempasan gelombang dari luar dan digantikan yang lain.  

 Kuyub, semua pakaian kami. Perjalanan yang biasanya ditempuh 4 jam untuk sampai di Tanah Besar menjadi hampir dua kali lipat dari biasanya. Saya menjadi ingat dengan pesan kepala kampung tadi sebelum berangkat, ternyata memang benarlah pesan beliau. Laut tak dapat dilawan atau ditantang kecuali mengikuti saja aliran dan gelombangnya. 

Menjelang mahrib, perahu belum mencapai daratan tanah besar Waigeo. Saya melihat ke perahu bagian belakang Bapak Lis masih dengan setia memegang kendali dua mesin yang menempel di perahu. Dia terus berjibaku mengikuti keganasan ombak sepanjang perjalanan. Kami menyadari betul kepasrahan keselamatan kami pada yang mahakuasa melalui sang motoris andal ini. Sementara saya sendiri duduk di barisan depan perahu masih di dalam dan terlindung oleh atapnya. Saya duduk berimpit dengan rekan lainnya. 

Di depan kami adalah beberapa tumpukkan drum yang sengaja ditaruh untuk menghalau air yang masuk. Bahkan terpal berwarna biru tua yang dilipat beberapa kali pun dipasang untuk menghalau air dan angin dari depan. Namun kami tetap basah, angin dan air tak bisa ditolak datangnya. Dari depan perahu angin dan air berbarengan menubruk tempat kami yang berlindung dibalik terpal dan drum selama perjalanan. Semua kedinginan, saya hampir menggigil. Apalagi air sudah semata kaki dalamnya di bawah kami. Sementara di belakang saya ialah keluarga Salamuk yang juga merasakan hal sama. Kepala sekolah masih dengan teriakan-teriakan histerisnya beberapa kali merespon ganasnya gelombang. Saya diam sambil mencoba memaksa menidurkan mata yang sia-sia.

Sekitar pukul 7 malam perahu sudah melewati Tanjung Pamali, tanjung yang terkenal karena keganasan ombaknya di Waigeo. Namun saya tidak merasakan perbedaan antara laut Tanjung Pamali dan yang bukan. Hari ini saya rasai seisi lautan adalah Tanjung Pamali. Bahkan laut yang biasa tenang sepanjang pesisir daratan Waigeo, sore ini mengganas semuanya. Saya semakin sadar ketika mata melihat sebuah gereja yang cukup besar di samping kanan. Tahulah kini saya bahwa perahu sedang melewati kampung Urbinasopen. Perahu kami rasai semakin koyak karena gelombang. Jalannya makin terseok tak beraturan meski terus melaju ke depan. 

Tak selang berapa lama, sang motoris pun akhirnya mulai mengalah dan memilih untuk singgah di sebuah pulau dekat kampung Urbinasopen. Saya masih mengingat dengan sangat jelas kala perah berputar haluan dengan usaha yang sangat keras melawan hempasan ombak sebelum menepi. Ada banyak sekali pengandaian buruk yang melintas dalam kepala saat itu. Kalaulah keburukan yang terjadi maka tidak akan pernah sampai berita ini saya tuliskan. Tapi bersyukur perahu kami bisa menepi dan lega yang teramat sangat perasaan kami semua. 

Semua penumpang turun dari dalam perahu menginjakkan kaki kembali ke daratan berpasir. Susah payah kami mencoba membuat pembakaran guna menghangatkan badan kami yang dingin. Matahari memang sudah pergi tapi terangnya bulan mulai mengintip dibalik awan-awan hitam yang mulai pergi. Sebentar saja kami di darat, kemudian kami diminta untuk merapat lagi ke dalam perahu. Ada kekhawatiran akan adanya bahaya yang sewaktu-waktu bisa mengancam kami di pulau ini. Akhirnya kami semua istirahat di dalam perahu sambil menunggu gelombang sedikit reda.

Hampir tengah malam, saya terbangun dari tidur yang hanya setengah-setengah. Ternyata Bapa Lis mengajak kami untuk kembali melanjutkan perjalanan. Gelombang sudah mulai hilang, angin mereda. Saya bersyukur mendengarnya. Perahu pun kembali lepas jangkar dan meluncur menuju Waisai. Benar saja, gelombang sudah mulai tidak terasa begitu gempita seperti sebelumnya. Angin pun sepoi saja. Tapi perahu masih berjalan pelan karena minimnya penerangan. Akhirnya sekitar pukul 1 dini hari perahu kami sandar di pelabuhan kali pasar Waisai. Perahu kami masuk hingga mendekat ke belakang rumah pintar Korfarkor. Di sana kemudian kami turun dan menggulung badan. Bukan di rumah pintar, tapi digubuk-gubuk penjual pinang di pinggir jalan yang sudah ditinggal pemiliknya karena malam. Gerimis menemani tidur yang menggigil.
 Paginya kami baru dijemput oleh rekan warga kampung yang bekerja di Waisai menuju kontrakannya. Betapa syukur tak hentinya kami dengungkan dalam hati kami meskipun saya kembali melewatkan hari ini untuk puasa. Inilah semalam antara Ayau dan Waisai. Dan pagi ini saya kembali menikmati segelas teh manis bersama dengan beberapa ekor insonem goreng.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar