Tren kekinian kini sedang merasuki semua anak
muda dari mulai anak sekolahan hingga yang masih kuliahan maupun mencari
pekerjaan. Nongkrong di mall, jalan-jalan ke tempat-tempat wisata, hingga
menjadi sekadar numpang duduk di atas motor sporty. Pokoknya semuanya dilakukan
demi stempel kekinian yang berujung pada satu kata, yaitu pamer. Nah, buat kamu
yang lagi keranjingan kekinian alangkah baiknya selektif dalam menentukan
pilihan aktivitas agar tidak menjadi role
model yang justru negatif bagi pengikut setia kamu.
Kamu yang ngaku dengan bangga baru saja habis
minum kopi di mall sebaiknya mulai
berpikir kritis dan meyadari bahwa kamu sudah menjadi korban pencitraan dan
iklan. Kamu yang takut dibilang kuno dan ketinggalan zaman sebaiknya juga mulai
berpikir kritis bahwa prilaku kuno justru ada pada mereka yang bodoh menerima
promosi iklan demi tren.
Kamu
yang rela bela-belain hutang demi minum kopi atau jus dengan cup gelas bermerk
sebaiknya juga memikirkan bahwa apakah merk selalu membawa manfaat untuk
orang-orang sekitar kamu. Pernahkah terpikir oleh kamu ketika kamu sedang
megikuti tren kekinian ada orang lain yang diam-diam mengamati dan menyayangkan
kekinian kamu. Apakah dengan berselfie di tempat-tempat yang terlihat mewah
dengan sendirinya dan otomatis kamu akan dikasih stempel orang berduit yang
kekinian. Tidakkah itu hanya bagian sesaat yang bersifat kamuflase singkat
saja. Dan apakah ketika kamu sedang berada di tempat-tempat pinggiran jalan,
lorong-lorong rumah pondokan, hingga gang-gang senggol serta merta kamu menjadi
orang miskin yang antikekinian. Mengapa kamu tidak pamer saat berada di tempat-tempat
itu.
Apakah kamu takut, malu dan ditertawakan oleh teman-teman kamu yang kamu
kira setingkat di atas kamu. Tidakkah kamu tahu bahwa ibumu bahkan rela ditertawakan
dan dihina oleh temannya demi membesarkan kamu. Bapakmu pun demikian rela
setiap hari mengantarkan anak orang lain ke sekolah demi melihat kamu juga bisa
bersekolah. Lalu kamu masih juga merasa malu dan takut untuk jujur dengan menutupinya dengan tren kekinian yang
dipaksakan. Masih mau kekinian dengan melupakan orang-orang yang telah
membesarkanmu dengan susah payah? Masih mau membuat mereka menangis dan semakin
menangis demi membuatmu bercap kekinian?
Hidup di zaman serba digital memang membuat kita
gampang lupa diri dan menjadi amnesia. Orang rela mati-matian demi terlihat
kekinian namun lupa keadaan sekitar yang miskin. Orang rela terlilit hutang
demi tampak kaya di mata orang lain. Orang memilih pamer dan menunjukkan
eksistensi meskipun setelah pamer akan kembali pada keadaannya yang semula yang
berbanding terbalik dengan kepamerannya. Orang malu mengakui bahwa dirinya
adalah anak seorang pembantu rumah tangga. Orang mengaaku sebagai anak yatim
untuk menghilangkan ayahnya yang petani. Orang mengaku hidup sebatang kara
untuk menutupi keluarganya yang kuli bangunan dan pasar.
Hidup di era pencitraan memang memaksa sebagian
yang tidak bisa menerimanya untuk membohongi keadaannya sendiri. Kejujuran
menjadi sesuatu yang mahal dan langka karena pencitraan menjadi barang yang
jauh lebih penting ketimbang makan dan minum. Nah untuk kamu yang mulai keranjingan tren
kekinian sebaiknya mulailah untuk berani mengakui keadaan kamu yang sebenarnya.
Jangan paksa keluarga terdekat kamu untuk menghilang demi citra yang imajiner
saja.
Karena orang tuamu akan jauh lebih bangga melihat anaknya jujur dan berani menghadapi kenyataan daripada berlindung dibalik kebohongan semata.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar