#under_header{ float:left; width:100%; } #under_header1{ float:left; width:25%; } #under_header2{ float:left; width:25%; } #under_header3{ float:left; width:25%; } #under_header4{ float:right; width:25%; }

Selasa, 01 November 2016

Kekinian dan Tren Pamer




Tren kekinian kini sedang merasuki semua anak muda dari mulai anak sekolahan hingga yang masih kuliahan maupun mencari pekerjaan. Nongkrong di mall, jalan-jalan ke tempat-tempat wisata, hingga menjadi sekadar numpang duduk di atas motor sporty. Pokoknya semuanya dilakukan demi stempel kekinian yang berujung pada satu kata, yaitu pamer. Nah, buat kamu yang lagi keranjingan kekinian alangkah baiknya selektif dalam menentukan pilihan aktivitas agar tidak menjadi role model yang justru negatif bagi pengikut setia kamu.

Kamu yang ngaku dengan bangga baru saja habis minum kopi di mall sebaiknya mulai berpikir kritis dan meyadari bahwa kamu sudah menjadi korban pencitraan dan iklan. Kamu yang takut dibilang kuno dan ketinggalan zaman sebaiknya juga mulai berpikir kritis bahwa prilaku kuno justru ada pada mereka yang bodoh menerima promosi iklan demi tren.

Kamu yang rela bela-belain hutang demi minum kopi atau jus dengan cup gelas bermerk sebaiknya juga memikirkan bahwa apakah merk selalu membawa manfaat untuk orang-orang sekitar kamu. Pernahkah terpikir oleh kamu ketika kamu sedang megikuti tren kekinian ada orang lain yang diam-diam mengamati dan menyayangkan kekinian kamu. Apakah dengan berselfie di tempat-tempat yang terlihat mewah dengan sendirinya dan otomatis kamu akan dikasih stempel orang berduit yang kekinian. Tidakkah itu hanya bagian sesaat yang bersifat kamuflase singkat saja. Dan apakah ketika kamu sedang berada di tempat-tempat pinggiran jalan, lorong-lorong rumah pondokan, hingga gang-gang senggol serta merta kamu menjadi orang miskin yang antikekinian. Mengapa kamu tidak pamer saat berada di tempat-tempat itu. 

Apakah kamu takut, malu dan ditertawakan oleh teman-teman kamu yang kamu kira setingkat di atas kamu. Tidakkah kamu tahu bahwa ibumu bahkan rela ditertawakan dan dihina oleh temannya demi membesarkan kamu. Bapakmu pun demikian rela setiap hari mengantarkan anak orang lain ke sekolah demi melihat kamu juga bisa bersekolah. Lalu kamu masih juga merasa malu dan takut untuk jujur dengan  menutupinya dengan tren kekinian yang dipaksakan. Masih mau kekinian dengan melupakan orang-orang yang telah membesarkanmu dengan susah payah? Masih mau membuat mereka menangis dan semakin menangis demi membuatmu bercap kekinian?

Hidup di zaman serba digital memang membuat kita gampang lupa diri dan menjadi amnesia. Orang rela mati-matian demi terlihat kekinian namun lupa keadaan sekitar yang miskin. Orang rela terlilit hutang demi tampak kaya di mata orang lain. Orang memilih pamer dan menunjukkan eksistensi meskipun setelah pamer akan kembali pada keadaannya yang semula yang berbanding terbalik dengan kepamerannya. Orang malu mengakui bahwa dirinya adalah anak seorang pembantu rumah tangga. Orang mengaaku sebagai anak yatim untuk menghilangkan ayahnya yang petani. Orang mengaku hidup sebatang kara untuk menutupi keluarganya yang kuli bangunan dan pasar. 

Hidup di era pencitraan memang memaksa sebagian yang tidak bisa menerimanya untuk membohongi keadaannya sendiri. Kejujuran menjadi sesuatu yang mahal dan langka karena pencitraan menjadi barang yang jauh lebih penting ketimbang makan dan minum.  Nah untuk kamu yang mulai keranjingan tren kekinian sebaiknya mulailah untuk berani mengakui keadaan kamu yang sebenarnya. Jangan paksa keluarga terdekat kamu untuk menghilang demi citra yang imajiner saja.
Karena orang tuamu akan jauh lebih bangga melihat anaknya jujur dan berani menghadapi kenyataan daripada berlindung dibalik kebohongan semata.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar