Malam
mendung
Ini kisah perjalanan malam. Belum tengah malam, dan bahkan hampir tengah
malam pun tidak sama sekali. Bisa dikata masih dalam punggung beruas menuju
puncak malam. mungkin selasarnya. Padahal tidak jelas puncak malam kapan
waktunya. Tapi ini sebuah perjalanan. Aku menganggapnya ini tidak terlalu buruk
untuk dikisahkan, maka aku menceritakannya. Aku menganggap aku tidak pandai
bercerita, maka aku menuliskannya. Tapi aku tidak pernah menganggap aku pandai
menuliskannya. Hanya jalan ini sepertinya yang lebih aku sukai saat ini.
Ini lagi-lagi kisah dan cerita yang mungkin tidak terlalu penting untuk
dituliskan. Tapi aku menganggapnya ini cerita yang layak untuk dituliskan. Malam yang dini itu tampil seperti biasa. Tidak ada yang tampak berbeda
dengan sebelumnya. Memang malam lebih pandai menerima kenyataan dan telah
menguasai keikhlasan dalam menerima. Jadi apapun malam dan dimanapun adalah
penerimaan atas wujudnya. Lain dengan manusia yang selalu ingin berubah dan
berkembang. Itu memang telah menjadi naluri alamiahnya. Tetapi ketika
perkembangan itu terlalu memaksa dan enggan menerima bentuk norma di
masyarakat, maka perkembangan itu telah digunakan sebagai alat yang merusak
tatanan sosial kita sendiri. Iyakah manusia mau hidup tanpa tata tertib? Iyakah
manusia mau hidup sendiri tanpa orang lain? Iyakah manusia mau hidup dengan
kebebasan tanpa batas, yang mau semau-maunya?
Tapi apakah iya manusia mau hidup selama-lamanya di dunia?
Bagi manusia yang masih menaruh kuat pada Tuhannya sudah selayaknya
mereka menyadari bahwa tidak mungkin manusia akan bisa membebaskan diri mereka
sebebas-bebasnya karena aturan yang menjaga mereka dari kesesatan. Seharusnya
kita menyadari betul bahwa peraturan Tuhan adalah pembatas yang akan menolong
kita dari jurang yang sangat dalam. Namun lagi-lagi terkadang memang jurang itu
dianggapnya sebagai tantangan. Padahal telah jelas larangan dan apa yang ada di
dalam jurang sana. Tidak lain lagi karena manusia tidak mau lagi mendapatkan
batasan yang justru mejatuhkan mereka sendiri dalam gelap yang terlalu gelap.
Bayangan diri pun lenyap dalam pekat, enggan menemani diri mereka.
Malam muda ini pun berlalu dalam perjalanannya sendiri dalam pencarian.
Aku meluncur saja mengikuti arah yang baru saja kuhafal. Ada yang berbeda, dan
apa pula yang sama. Lagi-lagi ada dia, seorang wanita berjarit lusuh di tikungan jalan itu. Sebelahnya adalah tugu kecil
yang selau kutakuti, apalagi kalau malam bertambah gelap. Bayangannya jatuh
memutih memunculkan gaya pandang yang mejatuhkan mata. Takut dengan keberadaan
yang tidak ada. Takut dengan apa yang dipikirkan sendiri. Wanita tua itu hadir
lagi dalam pinggiran jalan, tepat di bawah pohon palem kecil. Enggan
menengadahkan kepalanya. Tangannya pun tak lagi menoleh ke atas, tapi sudah jatuh ke tanah. Namun orang-orang
masih mengerti tujuannya meskipun tidak juga menanggapinya.
Kerikil-kerikil kecil itu menjadi teman dalam hiburannya sendiri dalam
hitungan satu, dua, tiga, empat dan
seterusnya ketika orang-orang berlalu saja. Ada yang sekedar berhenti, mungkin
memastikan apakah wanita berjarit itu benar-benar dari sejenisnya, manusia. Ada
lagi yang sekedar menoleh dan sudah bisa memastikan keberadaannya. Namun ada
pula yang lalu begitu saja, mungkin karena terlalu fokus pada jalan di depannya.
Wanita itu ada di tepi jalan tepat sebelum tikungan, membuat siapapun
menentukan pilihan. Sama dengan harapan yang dibesarkan dalam hatinya. Semoga
ada sisa simpati untuk memilihnya sebagai sasaran pemberian. Apa saja pasti
diterimanya. Sebuntel plastik telah terbuka meminta jatah yang biasa
diterimanya.
Malam masih dini. Mungkinkah ini menjadi sebabnya. Buntelan plastik itu
belum terisi juga. Hanya beberapa koin saja bebas beradu di dalamnya ketika wanita
berjarit itu menggoyangnya.
Matanya lagi-lagi tak mau menolehnya ke arah jalan di hadapannya. Menunduk
dalam perenungan. Seperti padi yang lebih dulu berisi dalam hamparan padi muda
yang sombong berdiri tegak. Mata yang tak mungkin terlihat, tapi wnaita itu
selalu dilihat oleh siapapun yang berlalu. Begitulah seterusnya hingga hilang
pandangku melalui.
Ini adalah pandangan yang lain dari
tempat yang lain pula. Tapi keadaan tak jauh berbeda. Seorang wanita tua dnegan
anak kecil disebelahnya. Setumpuk botol air mineral berkumpul dalam karungnya. Airnya
meneteskan sisa hisapan orang-orang yang kehausan dalam siang. Merembes membasahi
karung yang tadinya kering. Ada cahaya lampu di depan mereka. di belakangnya adalah
aliran sungai kecil yang tidak terlalu bening. Tapi pantulan cahaya dari airnya
menggelombangkan sinar yang beriak-riak. Binatang-binatang kecil terbang
melintas di atasnya. Sementara kawanan cicak dari deretan pinus di punggung
tanggul sungai itu siap berburu dan berpesta menyergap lalat dan nyamuk kecil
yang kelelahan.
Di ujung jalan ini adalah seorang lelaki tua yang terduduk dalam
kepasrahan. Kopiahnya hitam bergaris kecoklatan bukan karena motif melainkan
karena usangnya. Kaki-kakinya ditekuk mendekat ke pangkal pahanya. Tangannya memegang
sebuah buntelan, tak jelas apakah isinya. Satu lagi yang lain memegang erat
karung yang belum terisi penuh. Aku lebih dulu menganggapnya karung itu adalah
barang berharga milik kakek itu. Lihatlah mata yangtak lagi memancarkan sinar
pagi itu. Rambut yang tak lagi hitam lebat memutih karena usia. Pakaiannya adalah
sepotong celana pendek dan baju panjang merah berkotak yang telah memudar. Bibirnya
kering dalam lapar dan haus. Nafas yang yang lancar lagi tak teratur.
Apa yang dipikirkan mereka hanyalah apa yang akan bisa membuat mereka
ada untuk besok dan esok dan seterusnya. Sementara apa yang kamu pikirkan untuk
mereka? apakah justru tak pernah mengakui keberadaan mereka?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar