#under_header{ float:left; width:100%; } #under_header1{ float:left; width:25%; } #under_header2{ float:left; width:25%; } #under_header3{ float:left; width:25%; } #under_header4{ float:right; width:25%; }

Minggu, 13 Mei 2012

Mereka ada, bukan untuk ditiadakan



Malam mendung
Ini kisah perjalanan malam. Belum tengah malam, dan bahkan hampir tengah malam pun tidak sama sekali. Bisa dikata masih dalam punggung beruas menuju puncak malam. mungkin selasarnya. Padahal tidak jelas puncak malam kapan waktunya. Tapi ini sebuah perjalanan. Aku menganggapnya ini tidak terlalu buruk untuk dikisahkan, maka aku menceritakannya. Aku menganggap aku tidak pandai bercerita, maka aku menuliskannya. Tapi aku tidak pernah menganggap aku pandai menuliskannya. Hanya jalan ini sepertinya yang lebih aku sukai saat ini. 

Ini lagi-lagi kisah dan cerita yang mungkin tidak terlalu penting untuk dituliskan. Tapi aku menganggapnya ini cerita yang layak untuk dituliskan. Malam yang dini itu tampil seperti biasa. Tidak ada yang tampak berbeda dengan sebelumnya. Memang malam lebih pandai menerima kenyataan dan telah menguasai keikhlasan dalam menerima. Jadi apapun malam dan dimanapun adalah penerimaan atas wujudnya. Lain dengan manusia yang selalu ingin berubah dan berkembang. Itu memang telah menjadi naluri alamiahnya. Tetapi ketika perkembangan itu terlalu memaksa dan enggan menerima bentuk norma di masyarakat, maka perkembangan itu telah digunakan sebagai alat yang merusak tatanan sosial kita sendiri. Iyakah manusia mau hidup tanpa tata tertib? Iyakah manusia mau hidup sendiri tanpa orang lain? Iyakah manusia mau hidup dengan kebebasan tanpa batas, yang mau semau-maunya?  Tapi apakah iya manusia mau hidup selama-lamanya di dunia?

Bagi manusia yang masih menaruh kuat pada Tuhannya sudah selayaknya mereka menyadari bahwa tidak mungkin manusia akan bisa membebaskan diri mereka sebebas-bebasnya karena aturan yang menjaga mereka dari kesesatan. Seharusnya kita menyadari betul bahwa peraturan Tuhan adalah pembatas yang akan menolong kita dari jurang yang sangat dalam. Namun lagi-lagi terkadang memang jurang itu dianggapnya sebagai tantangan. Padahal telah jelas larangan dan apa yang ada di dalam jurang sana. Tidak lain lagi karena manusia tidak mau lagi mendapatkan batasan yang justru mejatuhkan mereka sendiri dalam gelap yang terlalu gelap. Bayangan diri pun lenyap dalam pekat, enggan menemani diri mereka. 

Malam muda ini pun berlalu dalam perjalanannya sendiri dalam pencarian. Aku meluncur saja mengikuti arah yang baru saja kuhafal. Ada yang berbeda, dan apa pula yang sama. Lagi-lagi ada dia, seorang wanita berjarit lusuh di tikungan jalan itu. Sebelahnya adalah tugu kecil yang selau kutakuti, apalagi kalau malam bertambah gelap. Bayangannya jatuh memutih memunculkan gaya pandang yang mejatuhkan mata. Takut dengan keberadaan yang tidak ada. Takut dengan apa yang dipikirkan sendiri. Wanita tua itu hadir lagi dalam pinggiran jalan, tepat di bawah pohon palem kecil. Enggan menengadahkan kepalanya. Tangannya pun tak lagi menoleh ke atas,  tapi sudah jatuh ke tanah. Namun orang-orang masih mengerti tujuannya meskipun tidak juga menanggapinya. 

Kerikil-kerikil kecil itu menjadi teman dalam hiburannya sendiri dalam hitungan satu, dua,  tiga, empat dan seterusnya ketika orang-orang berlalu saja. Ada yang sekedar berhenti, mungkin memastikan apakah wanita berjarit itu benar-benar dari sejenisnya, manusia. Ada lagi yang sekedar menoleh dan sudah bisa memastikan keberadaannya. Namun ada pula yang lalu begitu saja, mungkin karena terlalu fokus pada jalan di depannya.
Wanita itu ada di tepi jalan tepat sebelum tikungan, membuat siapapun menentukan pilihan. Sama dengan harapan yang dibesarkan dalam hatinya. Semoga ada sisa simpati untuk memilihnya sebagai sasaran pemberian. Apa saja pasti diterimanya. Sebuntel plastik telah terbuka meminta jatah yang biasa diterimanya.
Malam masih dini. Mungkinkah ini menjadi sebabnya. Buntelan plastik itu belum terisi juga. Hanya beberapa koin saja bebas beradu di dalamnya ketika wanita berjarit itu menggoyangnya. 

Matanya lagi-lagi tak mau menolehnya ke arah jalan di hadapannya. Menunduk dalam perenungan. Seperti padi yang lebih dulu berisi dalam hamparan padi muda yang sombong berdiri tegak. Mata yang tak mungkin terlihat, tapi wnaita itu selalu dilihat oleh siapapun yang berlalu. Begitulah seterusnya hingga hilang pandangku melalui.

Ini  adalah pandangan yang lain dari tempat yang lain pula. Tapi keadaan tak jauh berbeda. Seorang wanita tua dnegan anak kecil disebelahnya. Setumpuk botol air mineral berkumpul dalam karungnya. Airnya meneteskan sisa hisapan orang-orang yang kehausan dalam siang. Merembes membasahi karung yang tadinya kering. Ada cahaya lampu di depan mereka. di belakangnya adalah aliran sungai kecil yang tidak terlalu bening. Tapi pantulan cahaya dari airnya menggelombangkan sinar yang beriak-riak. Binatang-binatang kecil terbang melintas di atasnya. Sementara kawanan cicak dari deretan pinus di punggung tanggul sungai itu siap berburu dan berpesta menyergap lalat dan nyamuk kecil yang kelelahan. 

Di ujung jalan ini adalah seorang lelaki tua yang terduduk dalam kepasrahan. Kopiahnya hitam bergaris kecoklatan bukan karena motif melainkan karena usangnya. Kaki-kakinya ditekuk mendekat ke pangkal pahanya. Tangannya memegang sebuah buntelan, tak jelas apakah isinya. Satu lagi yang lain memegang erat karung yang belum terisi penuh. Aku lebih dulu menganggapnya karung itu adalah barang berharga milik kakek itu. Lihatlah mata yangtak lagi memancarkan sinar pagi itu. Rambut yang tak lagi hitam lebat memutih karena usia. Pakaiannya adalah sepotong celana pendek dan baju panjang merah berkotak yang telah memudar. Bibirnya kering dalam lapar dan haus. Nafas yang yang lancar lagi tak teratur.

Apa yang dipikirkan mereka hanyalah apa yang akan bisa membuat mereka ada untuk besok dan esok dan seterusnya. Sementara apa yang kamu pikirkan untuk mereka? apakah justru tak pernah mengakui keberadaan mereka?










 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar