#under_header{ float:left; width:100%; } #under_header1{ float:left; width:25%; } #under_header2{ float:left; width:25%; } #under_header3{ float:left; width:25%; } #under_header4{ float:right; width:25%; }

Jumat, 18 Mei 2012

Melacak perjalanan


Melacak perjalanan
Melacak perjalanan adalah kisah yang tidak seutuhnya didapatkan sekaligus. Kehidupan adalah guru terbaik dalam wadah pengalaman yang tidak akan tergantikan. Kita boleh merasa beruntung, tapi bagaimana dengan yang tidak seberuntung kita. Memang mengenakan ketika fasilitas dan segala kebutuhan mudah untuk dicari. Namun keadaan itu tidak jarang membuat orang menjadi enggan belajar dan mencari pembelajaran, terutama pada orang-orang terpinggirkan yang notabennya memiliki kisah hidup lebih berarti.

Perjalanan hidup memang telah digariskan masing-masing oleh Tuhan, namun bukan berarti tidak bisa diubah. Tuhan sendiri telah menjanjikan perubahan nasib suatu kaum ketika kaum tersebut mau mengubahnya. Artinya kelahiran yang memosisikan orang dalam keadaan 1 dan orang tersebut tetap dalam keadaan 1 tidak mengalami peningkatan maka orang tersebut merugi. Dikatakan merugi karena orang tersebut berpegang pada nasib sehingga tidak berubah keadaanya. Namun bahwa orang tersebut berhasil tidak jatuh ke keadaan 0 adalah pembuktian atas usahanya. 

Dari apa dan siapa pun kita bisa belajar. Dari seorang anak kecil, pedagang asong, tukang buah, tukang jahit keliling, penjual nasi, tukang sayur, bahkan peminta-minta. Jangan pernah berasumsi bahwa mereka tidak layak untuk dijadikan seorang guru. Mungkin memang tidak layak ketika mereka harus menghafal rumus pitagoras, logaritma, hukum new ton, atau bahkan kalimat aktif serta pasif. Mereka tidak akan pernah memikirkan hal seperti itu. Pedagang asong mungkin akan berpikir bagaimana caranya menghindari satpol pp ketika berjualan. Tukang jahit keliling akan berpikir supaya usahanya mendapatkan tempat sehingga tidak perlu keliling terus menerus. Tukang sayur mungkin akan berpikir supaya sayurannya selalu habis setiap hari sehingga tidak ada yang layu, membusuk dan terbuang. 

Lalu guru seperti apakah mereka? mereka adalah guru kehidupan, bukan guru “penjual” rumus dalam sekolah. Coba saja beranikan diri untuk berinteraksi langsung dengan salah satu diantara mereka. Mereka akan suka rela berbagi cerita dan kisah kehidupannya. Bahkan hingga mata kita berkaca-kaca itu adalah hal yang wajar. Namun bahwa tidak ada efek apapun yang didapatkan dari mereka, itu adalah sebuah pilihan. Masing-masing orang mempunyai tingkat kepekaan yang berbeda, bergantung orang menyikapi atas sebuah pembelajaran. 

Maka berawal dari keinginan untuk mendapatkan pengalaman langsung dari mereka, aku mulai dengan memberanikan untuk menemui mereka. Mungkin tidak semuanya sekarang. Tapi setidaknya perjalanan ini akan berlanjut hingga aku menemukan keberadaan mereka yang terakhir. Dimanapun, kapanpun pada akhirnya aku berhenti untuk memutus pencarian kisah hidup mereka. 
Kita harus banyak belajar, dari sesuatu yang dilihat sebelah mata, dari mereka dan karena mereka pula keberadaan kita sekarang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar