#under_header{ float:left; width:100%; } #under_header1{ float:left; width:25%; } #under_header2{ float:left; width:25%; } #under_header3{ float:left; width:25%; } #under_header4{ float:right; width:25%; }

Selasa, 08 Mei 2012

Terbang dengan tulisan


Orang tua berjalan gontai
Ini kisah dan cerita. Tentang seorang yang tidak muda lagi. Tubuh kering tapi gempal dengan beban hidup yang tampak tidak semudah yang aku jalani. Iyakah menuntunku untuk terus kembali mengingat syukur kepada Tuhan atas segala nikmat dan kemudahan yang telah ditiupkan dalam setiap langkah dan lingkaran tubuh berbalut dosa ini. Aku ragu berbuat apa. Ada amanah dan ada tanggungjawab yang segera menuntut balas atas apa yang telah mereka berikan. Ada rasa takut dan cemas yang berlebih dari orang yang mengesampingkan tanggung jawab dan amanahnya. Ada kelompok penuntut balas atas kinerja. Ada keberadaan yang semakin terasingkan oleh kesibukan tak berharga. Ada kebohongan untuk menunda ketakutan dan ada retorika untuk menghilangkan kekhawatiran. 

Seorang yang lain memandang hampa dalam harapan yang berbeda. Ada lagi tanggungan yang lain, sewaktu tapi beda. Kulminasi dari kesibukan. Keberadaan yang justru mencemaskan. Padahal niat mendapat pengakuan, malah terancam karena senjata pribadi. Strategi yang salah. Dari segan dan enggan menolak saran dan ajakan kawan, menjadi penggeser dan perusak tatanan segala rutinitas yang seharusnya tidak boleh terabaikan. Kalau sudah ada akibat baru mendapat pengalaman berharga. Bisakah mendapatkan pengalaman tanpa merasakan akibatnya di awal waktu? Karena kalau hanya mendapatkan kisah dari pendongeng, aku tidak akan pernah mendapatkan kepuasan. 

Orang tua itu mengalihkan juga perhatianku. Penatnya kepala membuatku pening. Akibat rencana yang tidak terencana dengan baik. Salah merencanakan menjadi salah berbuat dan salah. Seorang tua bertopi koboi membungkuk dengan nafas setengah-setengah. Topinya adalah perlawanannya terhadap kemiskinan yang dapat dipastikan tidak juga mau pergi darinya. Seorang prajurit berkuda, pejuang keadilan, penentang kemelaratan. Tapi lelaki tua itu tak berkuda. Hanya sebilah bambu yang telah dibelah. Melenting menunjukan kekuatannya. Tubuh gempal kering itu terpaksa mengimbangi bambu yang melengkung karena beban di ujung-ujungnya. Beban diujung bambunya tidak mungkin terbuang begitu saja, karena beban-beban itu adalah penyambung hidupnya. 

Memang beraneka barang ia tawarkan pada setiap orang duduk dimana ia temui. Pada sepasang muda yang lupa orang tua. Pada orang-orang kaya tak simpati. Pada sesamanya. Orang miskin berbalut kain kebohongan menutup identitas yang sebenarnya. Mataku menoleh tak akan tega. Tulang selangkanya telah ikut beserta lengkungan bambu di pundaknya. Seperti menjadi bantalan empuk untuk beban yang dipikulnya.
Kepada siapa derita hendak dibagi, sedangkan kehidupan adalah perjuangannya menahan diri, menahan beban untuk beban esok harinya. Lantas ada apa dengan aku yang menunggu dan hanya menunggu. Menunggu besok yang sama dengan hampir sama dengan hari ini. Menanti esok dengan rencana-rencana yang tidak teratur. Menunggu lagi keberadaan yang akan segera membuatku cemas, khawatir dan ketakutan dengan rencanaku sendiri. Aku hilang. Aku pergi. Seorang tua itu duduk beristirahat menertawakan melirik ke arahku. Aku tak berbayang kalau-kalau aku bertukar tempat dengannya.

2 komentar: