Kami adalah keluarga. Tapi aku tak
pernah menganggap kau adik apalagi kakak. Bagiku ketika waktu mendudukkan kita
bersama-sama di hadapan orang tua kita, maka saat itu kita sedang duduk sebagai
musuh bukan saudara. Semua karena kita dibesarkan dengan cara yang berbeda. Aku
merasa berdiri karena kedua kakiku sendiri bukan atas uluran tangan-tangan ibu
bapakku. Aku sudah bosan meminta. Jadi aku putuskan untuk mencari kehidupanku
sendiri. Silakan hidupkan saudaraku yang masih butuh banyak perhatian.
Aku
dibesarkan untuk menjadi takdir rivalitas dalam rumahku sendiri. Ini agenda
besar orang tuaku yang telah bosan dengan teriakan-teriakanku menjelang dewasa
saat itu. Kini aku putuskan untuk berikan apa yang aku bisa untuk orang lain
dengan jalan dan caraku sendiri. Aku tak lagi kenal kata euforia pribadi atau
golongan. Euforia bagiku hanya ada ketika aku berbagi dengan orang lain bukan
dengan orang tua, saudara atau diriku sendiri. Bagiku kebahagiaan terbesar
bukanlah ketika aku bisa menertawakan saudaraku dengan sepuas-puasnya,
melainkan menaklukan wajah-wajah sangar kepada senyuman paling bebas.
Aku
tak pernah menanyakan mengapa ibu-bapakku begitu sayang pada saudaraku itu. Aku
terlanjur kehilangan perhatian dan rasa kekerabatan dengan saudaraku sendiri.
Selalu saja batas itu begitu tampak sekalipun orang-orang tak pernah ambil
pusing soal ini. Tapi aku jauh lebih tahu dari apa yang orang-orang anggap
wajar dan sederhana. Hingga pada suatu ketika ibu-bapakku benar-benar
memberikan hak asuh atas aku sepenuhnya kepada seseorang. Begitupun atas
saudaraku. Tak pernah aku bayangkan ini semua akan terjadi. Titik tengah yang
diambil oleh kedua orang tuaku sama sekali tak mencerminkan kasih sayang lagi
kepada anak-anaknya. Melepas begitu saja anak-anak yang terlahir tanpa niat dan
keinginan keluar rumah. Peristiwa ini adalah pengusiran pertama yang aku terima
sepanjang hidupku menjelang 21 tahun. Aku kehilangan simpati bahkan kepada
rahim ibuku sendiri.
Tidak
pernah aku bayangkan aku akan terbuang dari rumahku sendiri. Sementara 2 tahun
setelah pengusiran halus itu aku mendengar kabar bahwa saudaraku telah kembali
ke rumah. Lebih tepatnya dijemput oleh ibu-bapakku. Aku menantikan saat-saat
yang sama tapi sampai dengan penantian itu hilang ditelan kekecewaan, orang
tuaku tak pernah datang. Saat-saat itu
adalah hari-hari yang begitu panjang bagiku. Hidup dalam asuhan orang yang sama
sekali tak aku kenal secara nomaden. Tak ada atap atau tembok yang membuat benteng
dari segala udara panas, maupun dingin. Apalagi rumah permanen dengan pendingin
ruang dan daun-daun hijau di terasnya. Tapi aku punya lebih banyak dari itu.
Taman-taman yang aku tiduri memberiku lebih banyak kebahagiaan dari sekadar
pembuangan. Dari sinila aku temukan kehidupan dan kebahagiaan hidup yang
sebenarnya. Pada orang-orang nomaden tanpa kelas, strata apalagi status hidup
yang tak pernah ada pada catatan sipil kelurahan.
Hingga akhirnya aku menemukan orang tuaku di
sana tanpa statusnya lagi.
Jakarta, 10 September 2013