Pantas saja Iwan
Fals memberi gelar bahkan untuk sebuah mata dengan bola pingpong pada wanita.
Barangkali saat lirik lagu itu ditulis dia pun merasakan hal yang sama dengan
saya saat ini. Atau lebih tepatnya saya yang memiliki perasaan yang sama
dengannya. Nyatanya memang sulit untuk dijelaskan dengan metode keilmuann
manapun, kecuali perasaan yang mungkin bisa sedikit dijelaskan oleh psikologi.
Tapi psikologi terlalu jatuh pada teori-teori yang menjenuhkan. Sementara ini
jelas sekali ada dalam hati setiap orang. Bagaimana mungkin sebuah bola mata
menjadi menyerupai bola pingpong dalam pandangan mata orang lain? Bahkan bukan
sekadar bola matapun sebenarnya banyak lagi anggota tubuh yang menjadi tampak
lebih spesial dari biasanya.
Bola pingpong.
Apakah Iwan punya deskripsi bayang pada mata wanita yang dilihatnya saat itu,
bahwa mata yang biasa itu menjadi bola pingpong ketika bertatap temu dengan
matanya? Atau hatinya yang barangkali naik turun dan memantul layaknya bola pingpong
saat melihatnya sengaja ataupun tanpa sengaja. Hati kecil manapun pasti akan
berbisik dengan penuh emosional kepada pemiliknya,”Dia manis.”
Jakarta, September 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar