#under_header{ float:left; width:100%; } #under_header1{ float:left; width:25%; } #under_header2{ float:left; width:25%; } #under_header3{ float:left; width:25%; } #under_header4{ float:right; width:25%; }

Sabtu, 21 September 2013

Menjadi orang lain



Kami adalah keluarga. Tapi aku tak pernah menganggap kau adik apalagi kakak. Bagiku ketika waktu mendudukkan kita bersama-sama di hadapan orang tua kita, maka saat itu kita sedang duduk sebagai musuh bukan saudara. Semua karena kita dibesarkan dengan cara yang berbeda. Aku merasa berdiri karena kedua kakiku sendiri bukan atas uluran tangan-tangan ibu bapakku. Aku sudah bosan meminta. Jadi aku putuskan untuk mencari kehidupanku sendiri. Silakan hidupkan saudaraku yang masih butuh banyak perhatian.

      Aku dibesarkan untuk menjadi takdir rivalitas dalam rumahku sendiri. Ini agenda besar orang tuaku yang telah bosan dengan teriakan-teriakanku menjelang dewasa saat itu. Kini aku putuskan untuk berikan apa yang aku bisa untuk orang lain dengan jalan dan caraku sendiri. Aku tak lagi kenal kata euforia pribadi atau golongan. Euforia bagiku hanya ada ketika aku berbagi dengan orang lain bukan dengan orang tua, saudara atau diriku sendiri. Bagiku kebahagiaan terbesar bukanlah ketika aku bisa menertawakan saudaraku dengan sepuas-puasnya, melainkan menaklukan wajah-wajah sangar kepada senyuman paling bebas.

      Aku tak pernah menanyakan mengapa ibu-bapakku begitu sayang pada saudaraku itu. Aku terlanjur kehilangan perhatian dan rasa kekerabatan dengan saudaraku sendiri. Selalu saja batas itu begitu tampak sekalipun orang-orang tak pernah ambil pusing soal ini. Tapi aku jauh lebih tahu dari apa yang orang-orang anggap wajar dan sederhana. Hingga pada suatu ketika ibu-bapakku benar-benar memberikan hak asuh atas aku sepenuhnya kepada seseorang. Begitupun atas saudaraku. Tak pernah aku bayangkan ini semua akan terjadi. Titik tengah yang diambil oleh kedua orang tuaku sama sekali tak mencerminkan kasih sayang lagi kepada anak-anaknya. Melepas begitu saja anak-anak yang terlahir tanpa niat dan keinginan keluar rumah. Peristiwa ini adalah pengusiran pertama yang aku terima sepanjang hidupku menjelang 21 tahun. Aku kehilangan simpati bahkan kepada rahim ibuku sendiri.

      Tidak pernah aku bayangkan aku akan terbuang dari rumahku sendiri. Sementara 2 tahun setelah pengusiran halus itu aku mendengar kabar bahwa saudaraku telah kembali ke rumah. Lebih tepatnya dijemput oleh ibu-bapakku. Aku menantikan saat-saat yang sama tapi sampai dengan penantian itu hilang ditelan kekecewaan, orang tuaku  tak pernah datang. Saat-saat itu adalah hari-hari yang begitu panjang bagiku. Hidup dalam asuhan orang yang sama sekali tak aku kenal secara nomaden. Tak ada atap atau tembok yang membuat benteng dari segala udara panas, maupun dingin. Apalagi rumah permanen dengan pendingin ruang dan daun-daun hijau di terasnya. Tapi aku punya lebih banyak dari itu. Taman-taman yang aku tiduri memberiku lebih banyak kebahagiaan dari sekadar pembuangan. Dari sinila aku temukan kehidupan dan kebahagiaan hidup yang sebenarnya. Pada orang-orang nomaden tanpa kelas, strata apalagi status hidup yang tak pernah ada pada catatan sipil kelurahan.

 Hingga akhirnya aku menemukan orang tuaku di sana tanpa statusnya lagi.
Jakarta, 10 September 2013


Tidak ada komentar:

Posting Komentar