#under_header{ float:left; width:100%; } #under_header1{ float:left; width:25%; } #under_header2{ float:left; width:25%; } #under_header3{ float:left; width:25%; } #under_header4{ float:right; width:25%; }

Sabtu, 21 September 2013

Sepasang Mata bola


Ada deskripsi yang sama tentang keindahan. Senyuman. Tapi akhirnya semua akan bermula lagi dari awal. Pada masa ketika sosok kecil menari-nari bak angsa di tanah yang luas. Sayap-sayapnya imajiner mengembangkan daya tarik untuk siapa saja yang melihatnya. Kau mungkin bisa melihatnya juga ketika mata bertemu pandang untuk pertama kalinya. Tapi cukup berjarak untuk bisa mendekat. Tapi sebenarnya kedekatan tidak terlalu menentukan sifat indah, namun bagaimana cara menikmati keindahan yang bisa membuat perasaan nyaman itu ada. Suatu saat kau menemukan indah itu ada di sana. Tapi saat yang lain kau juga menemukan di tempat yang sama sebuah pesakitan. Lagi-lagi karena kau punya cara pandang yang berbeda di lain kesempatan.

Latar belakang. Kadang hal itu adalah motivasi utama kau mempunyai keinginan untuk menyukai atau membenci sesuatu. Semua wajar dengan bekal hasrat yang dimiliki oleh setiap pemilik ruh yang sehat. Sepasang mata bola akhirnya akan menggelinding menurut kemauannya. Kau takkan pernah menangkapnya sampai dengan kau mau untuk menjemputnya ke bawah. Karena naluri tak akan sampai membuat bola bisa melawan gravitasi dan menggelinding ke atas. Kecuali kau mau menjadi penopangnya selalu di belakang.
Sepasang mata bola jatuh pada lubang yang salah. Tenggelam dan akhirnya menghilang dalam dekapan sekalipun. Kemudian sesal menjadi teladan yang dipersalahkan.


Jakarta, 21 September 2013.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar