Ada deskripsi yang sama tentang
keindahan. Senyuman. Tapi akhirnya semua akan bermula lagi dari awal. Pada masa
ketika sosok kecil menari-nari bak angsa di tanah yang luas. Sayap-sayapnya
imajiner mengembangkan daya tarik untuk siapa saja yang melihatnya. Kau mungkin
bisa melihatnya juga ketika mata bertemu pandang untuk pertama kalinya. Tapi
cukup berjarak untuk bisa mendekat. Tapi sebenarnya kedekatan tidak terlalu
menentukan sifat indah, namun bagaimana cara menikmati keindahan yang bisa
membuat perasaan nyaman itu ada. Suatu saat kau menemukan indah itu ada di
sana. Tapi saat yang lain kau juga menemukan di tempat yang sama sebuah
pesakitan. Lagi-lagi karena kau punya cara pandang yang berbeda di lain
kesempatan.
Latar belakang. Kadang hal itu
adalah motivasi utama kau mempunyai keinginan untuk menyukai atau membenci
sesuatu. Semua wajar dengan bekal hasrat yang dimiliki oleh setiap pemilik ruh
yang sehat. Sepasang mata bola akhirnya akan menggelinding menurut kemauannya.
Kau takkan pernah menangkapnya sampai dengan kau mau untuk menjemputnya ke
bawah. Karena naluri tak akan sampai membuat bola bisa melawan gravitasi dan
menggelinding ke atas. Kecuali kau mau menjadi penopangnya selalu di belakang.
Sepasang mata bola jatuh pada
lubang yang salah. Tenggelam dan akhirnya menghilang dalam dekapan sekalipun.
Kemudian sesal menjadi teladan yang dipersalahkan.
Jakarta, 21 September 2013.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar