#under_header{ float:left; width:100%; } #under_header1{ float:left; width:25%; } #under_header2{ float:left; width:25%; } #under_header3{ float:left; width:25%; } #under_header4{ float:right; width:25%; }

Rabu, 04 Juli 2012

Sebelum


Apalagi yang bisa membuat kesal melebihi kekesalan yang pernah dirasakan sebelumnya kecuali asap sebatang rokok. Satu dua harapan sudah cukup membuat orang terusir dari rumah sendiri. satu kepulan asap itu membuat orang buyar dengan senandung kenangannya, kenanganku dengan beliau. Adakah cara yang lebih kejam selain mengehentikan kenangan dengan paksa. 

* siaga medika, hampir tiga tahun berlalu. Aku tak pernah lagi mengingat-ingat saa-saat melingkari pegunungan Pageralang kecuali sekarang ini. Pagi, siang, malam hingga dini hari. Motor, mobil biasa, hingga truk raksasa panjang indocement  dengan gulungan mesin pengaduk cor yang hampir-hampir membuatku jatuh. Tapi ada kata meyakinkan, menanyakaknku dari beliau melalui orang lain. Kata beliau, ingin sekali bertemu. Aku tak hendak kehilangan kesempatan dan amanah untuk menemui. Hingga kematian menjemput beliau hampir tengah malam itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar