#under_header{ float:left; width:100%; } #under_header1{ float:left; width:25%; } #under_header2{ float:left; width:25%; } #under_header3{ float:left; width:25%; } #under_header4{ float:right; width:25%; }

Minggu, 28 Juli 2013

Dinamika


Kami tidak percaya lagi pada pendidikan, barangkali. Ini titik menjenuhkan jadi semua kata tak tersensor, maaf. Semakin kami terdidik semakin kami menyadari betapa tidak jelasnya pendidikan yang ditinggi-tinggikan itu. Waktu sama sekali tidak dihargai di sini. Hanya waktu sang guru yang berharga. Kami layaknya kacang yang dikupas dan di jual eceran di pinggiran jalan untuk mendapatkan uang. Kami jembatan menuju penghargaan yang absurd. Apakah pendidikan sudah serusak ini? Kami yang lahir dari bingkai kerusakan apakah akan muncul sebagai anak hilang yang terdidik dengan ketidakjelasan. Kami anak yang terasing dari hak kami apakah akan menjadi anak yang pasrah pada sang guru. Kami bukan kerbau yang manggut untuk dicucuk setiap waktu kapanpun kau mau. Kami anak Tuhan yang dititipkan untuk kau cerdaskan. Tidak dengan segala tuntutan dan kewajiban tapi juga pengertian dan pemahaman.

Engkau sang guru apakah akan menunggu anak-anakmu bergerak dalam barisan yang tak terduga? Engkau sang guru telah kebal dengan nurani yang melas karena kepala telah penuh dengan ilmu-ilmu non praktis. Duniawi yang mengancam pendidikan estetis sekalipun. Pembelajaran karakter tidak bermakna! Hanya konsep dan alibi penelitian! Mungkin sekali waktu sang guru pun harus dipindahtugaskan ke bukit-bukit kemilau di NTT atau Papua karena penelitian mereka bilang punya nilai guna. Maka di sanalah saatnya nilai guna itu dimanfaatkan. Bukan dikebumikan dalam perpustakaan-perpustakaan para borjuis. Inikah filsafat aksiologis yang digadang-gadang oleh para ilmuwan? Kemana aksi-aksi atas penelitian berlabuh?

Paradoks in melahirkan efek domino tidak hanya soal kebermanfaatan tapi juga perkara waktu yang tersita untuk “kurcaci-kurcaci” mereka di kelas. Terkadang alibi pengabdian sering menyendirikan para siswa. Katanya sih belajar mandiri. Kalau begitu untuk apa status sang guru itu? Aduh terlalu banyak pertanyaan yang muncul setelah mendapat stimulus kamuflase pendidikan hari ini. Sebagai orang yang terdidik saya sama sekali tidak ingin hal seperti ini saya kerjakan alami juga. Sejatinya ilmu adalah kebermanfaatan untuk orang lain bukan diri sendiri. Sejatinya kamipun tidak ingin meneladani contoh dan pengalaman yang absurd ini. Ini harus segera dibongkak, didobrak dan segera dikebumikan dari bumi pendidikan!


Jakarta, 3 Juli 2013

18:39 WIB

Tidak ada komentar:

Posting Komentar