Baru kali ini saya temukan
kebodohan karena kemalasan kolektif yang begitu tinggi di sebuah ruang tempat
belajar. Apakah saya yang terlalu menganggap mereka cerdas atau mereka memang
lamban. Tapi kepura-puraan jauh lebih tampak daripada keseriusan seorang anak
tengil yang hobi bermain. Malas. Akhirnya satu kata itu yang menjadi akhir
simpulan. Kemalasan yang dilakukan bersama-sama menjadi bagian kebiasaan yang
sudah dianggap wajar. Datang sekadar menghindari ocehan orang rumah yang rebut,
gang-gang yang sempit dan bau, lalat-lalat yang naik-turun di atas pagar, serta
gerobak-gerobak sampah yang parkir seadanya di sisa jalan. Maka ruang belajar
akhirnya menjadi sarana yang paling tepat untuk bermain, mencurahkan segala
kesuntukan rumah, jalanan, serta preman rumahan.
Aku datang untuk belajar. Aku pulang membawa ilmu. Dua kalimat yang antipati pada kemalasan
karena dua alasan. Pertama, karena kedatangan mereka bukanlah bukan untuk
tujuan belajar tapi membawa dan memindahkan segudang masalah dari rumah serta
jalanan. Ke dua, niat yang salah membawa cara pandang yang salah pula sehingga
kepulangan membawa ilmu hanyalah mitos dan mimpi yang jauh panggang dari api.
Ini masalah anak-anak pinggiran
Jakarta yang juga saya yakini kemiripannya dengan kota-kota besar lainnya di
sekitar kita. Bahkan bukan kota sekalipun, jika latar belakang anak memaksa
mereka untuk terbiasa hidup dengan “kebusukan”
, ketakutan dan kekerasan maka situasi kemalasan yang sama akan terjadi.
Dari sini saya merasa beruntung karena saya dibesarkan dalam lingkungan
keluarga yang harmonis. Meskipun pertengkaran kecil orang tua, adik serta kakak
adalah hal yang wajar dan biasa. Saya juga beruntung karena hidup dalam alam
pedesaan yang segar dan hijau di masa-masa seperti kalian sekarang. Tapi saya jauh lebih beruntung karena
bertemu dengan kalian di sini sekarang. Setidaknya saya masih percaya bahwa
belajar tidak sekadar dari kebenaran saja. Kita juga bisa belajar dari
kesalahan, kebodohan serta kemalasan. Tapi bukan menggeluti kesalahan,
kebodohan serta kemalasan itu. Kalian salah dalam hal persepsi. Bingkai
kemalasan takkan pernah membuat masalahmu berkurang apalagi hilang. Malah
justru semakin bertambah dan bertumpuk.
Sekarang kalian
yang tentukan, apakah kalian mau hidup terus dengan kebusukan ini atau memberi
wewangian baru untuk mengganti kebusukan yang terlanjur kau selami? Tetap
dengan kemalasan dan kebodohan atau berubah untuk kecerdasan mental dan pikiran?
Catatan : tulisan di atas beradu pengalaman, fiksi dan imajinasi
Jakarta, 3 Oktober 2013
17.03
Tidak ada komentar:
Posting Komentar