#under_header{ float:left; width:100%; } #under_header1{ float:left; width:25%; } #under_header2{ float:left; width:25%; } #under_header3{ float:left; width:25%; } #under_header4{ float:right; width:25%; }

Kamis, 03 Oktober 2013

MALAS DAN BERPURA-PURA


Baru kali ini saya temukan kebodohan karena kemalasan kolektif yang begitu tinggi di sebuah ruang tempat belajar. Apakah saya yang terlalu menganggap mereka cerdas atau mereka memang lamban. Tapi kepura-puraan jauh lebih tampak daripada keseriusan seorang anak tengil yang hobi bermain. Malas. Akhirnya satu kata itu yang menjadi akhir simpulan. Kemalasan yang dilakukan bersama-sama menjadi bagian kebiasaan yang sudah dianggap wajar. Datang sekadar menghindari ocehan orang rumah yang rebut, gang-gang yang sempit dan bau, lalat-lalat yang naik-turun di atas pagar, serta gerobak-gerobak sampah yang parkir seadanya di sisa jalan. Maka ruang belajar akhirnya menjadi sarana yang paling tepat untuk bermain, mencurahkan segala kesuntukan rumah, jalanan, serta preman rumahan.

Aku datang untuk belajar. Aku pulang membawa ilmu.  Dua kalimat yang antipati pada kemalasan karena dua alasan. Pertama, karena kedatangan mereka bukanlah bukan untuk tujuan belajar tapi membawa dan memindahkan segudang masalah dari rumah serta jalanan. Ke dua, niat yang salah membawa cara pandang yang salah pula sehingga kepulangan membawa ilmu hanyalah mitos dan mimpi yang jauh panggang dari api.

Ini masalah anak-anak pinggiran Jakarta yang juga saya yakini kemiripannya dengan kota-kota besar lainnya di sekitar kita. Bahkan bukan kota sekalipun, jika latar belakang anak memaksa mereka untuk terbiasa hidup dengan “kebusukan” , ketakutan dan kekerasan maka situasi kemalasan yang sama akan terjadi. Dari sini saya merasa beruntung karena saya dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang harmonis. Meskipun pertengkaran kecil orang tua, adik serta kakak adalah hal yang wajar dan biasa. Saya juga beruntung karena hidup dalam alam pedesaan yang segar dan hijau di masa-masa seperti kalian sekarang. Tapi saya jauh lebih beruntung karena bertemu dengan kalian di sini sekarang. Setidaknya saya masih percaya bahwa belajar tidak sekadar dari kebenaran saja. Kita juga bisa belajar dari kesalahan, kebodohan serta kemalasan. Tapi bukan menggeluti kesalahan, kebodohan serta kemalasan itu. Kalian salah dalam hal persepsi. Bingkai kemalasan takkan pernah membuat masalahmu berkurang apalagi hilang. Malah justru semakin bertambah dan bertumpuk.

Sekarang kalian yang tentukan, apakah kalian mau hidup terus dengan kebusukan ini atau memberi wewangian baru untuk mengganti kebusukan yang terlanjur kau selami? Tetap dengan kemalasan dan kebodohan atau berubah untuk kecerdasan mental dan pikiran?

Catatan : tulisan di atas beradu pengalaman, fiksi dan imajinasi
Jakarta, 3 Oktober 2013

17.03

Tidak ada komentar:

Posting Komentar