#under_header{ float:left; width:100%; } #under_header1{ float:left; width:25%; } #under_header2{ float:left; width:25%; } #under_header3{ float:left; width:25%; } #under_header4{ float:right; width:25%; }

Senin, 28 Oktober 2013

85 Tahun Sumpah Pemuda


Esok adalah 85 tahun sumpah pemuda. Kalau seseorang  saat itu menjadi bagian dari para pemuda yang mengikat janji persatuan nusa, bangsa dan bahasa maka sekarang beliau pasti sedang melihat anak cucunya menikmati hasil perjuangan mereka. Tapi sepertinya seseorang itu tidak akan puas dengan keadaan sekarang. Lihatlah kita memang sudah merdeka dan bersatu. Tapi kemerdekaan itu ternyata menciptakan model baru penjajahan dari rakyatnya sendiri. Bukan rakyat sebenarnya kalau dia menjadi antek dari penjajahan baru itu. Kedegilan macam itu hanya menjadi sampah dari rumah sendiri. Kedegilan yang diciptakan oleh oknum-oknum yang antinasionalisme.

Seharusnya siapapun tahu betapa persatuan dan kemerdekaan adalah harga yang hanya bisa didapat dengan kerja paling keras, mengorbankan harta, raga dan jiwa sekalipun. Tapi kau kehilangan harga diri sekarang. Sesuatu yang menjadi barang terlarang untuk dijual kepada siapapun. Kau jual harga diri berarti kau jual kemerdekaan itu!

Tak ada lagi memang pemutaran film-film perjuangan yang diputar secara masal di televisi, bahkan televise milik Negara sekalipun. Agaknya menjadi tidak penting untuk mengulang-ulang film yang sama setiap tahun, pikir mereka. Padahal logika mengatakan setiap ada ribuan pasang mata baru yang terlahir di bumi Indonesia. Persoalan sejarah bukan monopoli orang tua saja. Anak-anak kecil tak tahu sejarah bangsanya bagai terlahir tanpa pernah tahu siapa ibu dan bapaknya. Sehingga ketika melihat sosok orang yang berperawakan tinggi, tegak, putih dan berambut pirang dia akan selalu berpikir untuk tunduk padanya. Kita sama-sama diciptakan Tuhan tanpa kewajiban untuk saling menyembah kecuali tolong menolong.
Sejarah seharusnya mampu meningkatkan rasa bangga dan cinta  terhadap pribadi dan bangsanya. Tapi tanpanya?

Jakarta, 27 Oktober 2013

Minggu, 27 Oktober 2013

MINGGU RASA HARU

Minggu yang melelahkan tapi membahagiakan. Pertama bukan saja karena aku menjadi salah satu orang yang terlibat dalam pemenangan lomba sosiodrama tingkat SMP se-jabodetabek di museum sumpah pemuda kemarin. Tapi juga karena aku terlibat dalam dua panggung yang berbeda hari ini, yaitu panggung festival musik jurusan ekonomi dan panggung apresiasi jurusan bahasa dan sastra Indonesia. Aku tahu ini tidak lantas membuatku puas sampai di sini karena kesibukan bukanlah alat ukur untuk menentukan keberhasilan. Tapi setidaknya aku mendapatkan perasaan senang sebagai konsekuensi rasa lelah dua hari ini.

Esok aku harus mencari celah lain untuk mendapatkan kemenangan yang lain. Aku tak tahu pasti Tuhan akan memberiku kesempatan apa lagi. Tapi setidaknya kemungkinan kesempatan yang besar pasti sudah disiapkan. Aku tinggal menyambutnya saja.

Jakarta,24 Oktober 2013

18:37

PAKET ANTARA KESIAPAN DAN NASIB BAIK

Rabu itu adalah hari pelaksanaan lomba sosiodrama antarsekolah menengah pertama se-jabodetabek yang diselenggarakan oleh museum sumpah pemuda, Jakarta. Sosiodrama adalah istilah yang jujur baru pertama kali aku dengar. Yah dari namanya sih ngga terlalu asing, kurang lebihnya semacam drama yang berkaiterat dengan social masyarakat. Kebetulan momentum yang diambil adalah tentang sejarah sumpah pemuda.

Surat yang diantar oleh guru pamongku tertulis tanggal 7 Oktober 2013, namun aku membacanya tanggal 9 Oktober 2013 setelah Ivana dan Yuliana, rekan PKMku di sekolah memberitahu. Hari itu berarti tepat dua minggu sebelum pelaksanaan lomba. Mendapat tawaran untuk mengumpulkan sekaligus melatih anak-anak aku antusias menerimanya, begitu juga dua rekanku. Aku hanya berpikir ini pengalaman baru yang dikirimkan Tuhan kepada kami di sini dan mungkin tak akan kami dapatkan setelah selesai masa tugas menjadi guru “relawan” di sekolah ini. 

Beruntunglah Tuhan membukakan pintu izin kami untuk menjadi peserta dengan nomor urut 6 di sana. Setelah mengalami banyak perubahan pemain dan konsep pasca gladi resik lomba, akhirnya dengan perasaan seadanya kami berangkat Rabu pagi pukul 08:10 wib. Banyak anak yang bertanya.
 “Pak kita naik apa ke sana?”
Saya jawab aja tanpa rasa bersalah. “Kita naik bis nanti.”
“Pak katanya naik bis?”
“Iya,tuh sopirnya udah nungguin?”
“Jadi mana bisnya?”
“Itu. Mini bis.”
“Haha..Bapak, itu kan mikrolet.”
“Kapan lagi naik mikrolet bareng-bareng? Yang penting asik rame-rame.”
“Oke deh Pak.”

Kami pun melaju 15 orang dalam sebuah mikrolet ditambah sopirnya tentu. Beruntunglah yang ngga dapat jatah kursi duduk, karena mereka akhirnya tahu arti pentingnya berbagi untuk memangku temannya. Mikrolet melesat dengan kecepatan sangat lambat melewati jalan Percetakan Negara yang padat. Setengah jam kemudian kami sampai di bakal TKP.
Pak ini sudah sampai?”
“Iya sudah sampai. Itu kita nanti di sana. Di gedung yang pagarnya ada kain merah putih.”

Kami turun tepat di depan gerbang masuk museum. Mikrolet melaju lagi bersama kertas biru bergambar I Gusti Ngurah Rai. Kami langsung masuk ke dalam area museum dan melakukan pendaftaran ulang. Sambil mengunyah kudapan yang dikasih panitia seorang siswa bertanya lagi dengan khawatir.
Pak mereka pakai biola!”
“Ngga usah terpengaruh dengan sekolah lain. Main aja kaya latian kemarin. Tampilkan aja yang terbaik. Ngga perlu mikir menang atau kalah.”

 Setelah itu kami berdoa bersama dan acara pun dibuka oleh ketua museum. Ternyata seleksi alam masih terjadi lagi di sini. Dari 10 sekolah yang mendaftar, hanya ada  empat sekolah yang memenuhi janjinya di hari pelaksanaan. Jadi perasaan was-was sedikit berkurang. Tapi tetap saja anak-anak yang baru pertama kali ikut lomba, semuanya panik luar biasa. Tapi cuma sesaat. Sampai dengan akhirnya mereka tampil juga ke depan.

Di sinilah dimulai…
Meskipun mendapatkan nomor urut 6 tapi nyatanya mereka tampil di urutan ke dua. Kendala teknis. Anak-anak memang belum terbiasa untuk menanggapi sesuatu yang dilihatnya lebih bagus dari apa yang dia punya. Terlebih setelah mereka melihat penampilan kelompok pertama yang memang tampil dengan cukup meyakinkan. Hampir semuanya aku lihat menjadi berkurang semangatnya. Aku hanya berpesan, “Kalian punya kesempatan yang sama untuk menjadi yang terbaik.”

Mereka pun tampil maksimal hari itu. Mereka menang secara semangat dari kelompok-kelompok lain. Tapi sayang dari segi konsep yang dibuat bersama-sama olehku, Ivana dan Yuliana memang masih kalah. Satu kelompok memang terlihat lebih dominan dari yang lain. Mereka anak yang sudah terbiasa dengan kegiatan drama atau teater di sekolah. Jadi aku anggap wajar mereka dominan. Berbeda dengan anak-anak yang aku bawa hari ini. Mereka sama sekali tak aktif dalam kegiatan drama di sekolah maupun di luar sekolah. Beberapa anak memang katanya pernah main drama, Cuma seadanya saja di ruang-ruang kelas. Tapi bagiku mereka menunjukan perkembangan yang cukup signifikan sekalipun mereka semua belajar dari awal.

Singkat cerita mereka mendapat predikat kelompok terbaik ke dua. Seperti juga yang telah aku perkirakan. Luar biasa. Wajah-wajah mereka pun bebas dengan senyuman terlebar. Berkemas dari perlombaan dengan membawa sebuah map berisi sertifikat penghargaan dan plakat kemenangan. Anak-anak pun pulang dengan kepala tegak. Namun aku mengingatkan untuk selalu menundukkan kepala, tidak cepat merasa puas, apalagi bersombong dengan hasil yang didapat hari ini. Kalian bisa lebih baik lagi, dengan ataupun tanpa kami sebenarnya.

“Berikan yang terbaik yang kalian bisa untuk orang tua, guru, sekolah dan teman-teman kalian semua.”

            Jakarta, 23 Oktober 2013
Salam,
Imam udin-ivantia-yuriana

Selasa, 08 Oktober 2013

Menanam dan memanen

Menanam dan memanen. Dua kata yang berpasangan dengan tanpa paksaan. Begitupun dengan apa yang aku lakukan sekarang. Maka aku akan mendapat hasilnya, sekarang ataupun nanti. Sama halnya dengan apa yang aku kerjakan dulu dan sekarang aku mendapat hasil dan konsekuensinya. Kenakalan yang aku pandang wajar ternyata menunjukkan hal yang sebaliknya di mata orang lain. Memandang wajar pada suatu hal ternyata belum tentu sama dirasakan sama oleh orang lain. Barangkali aku dulu nakal maka sekarang pun aku harus berhadapan anak-anak yang nakal pula. Seperti hukum rimba atau hukum alam. Siapa yang bersalah dia yang berdosa.
Perasaan memang bisa tidak jujur dan seringkali menipu, menyesuaikan dengan kebutuhan. Seringkali perasaan salah ditekan sedalam-dalamnya pada titik terjauh. Tapi seringkali pula perasaan itu terapung kembali pada alam kesadaran yang nyata. Efek yang muncul kemudian adalah perasaan takut dan khawatir yang berlebihan. Sekali lagi karena kau membohongi diri sendiri, berusaha menghibur diri dan membuat senang. Tapi efek sesaat yang didapat. Kemudian kembali pada perasaan yang sebenarnya.
Aku merasa wajar, dulu. Tapi aku mendapat ketidakwajaran sekarang. Ini berarti ada kesempatan besar yang akan membuatku lebih dewasa dari sebelumnya.

Ada jalan untuk orang kecil menjadi besar. Ada kesempatan untuk mengubah pahit menjadi manis pada waktunya nanti. Semuanya adalah rencana Tuhan untuk membalikkan keadaan yang tertekan menjadi leluasa. Tapi bukan karena kekuasaan yang bebas dan tanpa batas. Melainkan kekuasaan berbekal moralitas yang matang. Aku mau hidup dan menghidupkan.

Minggu, 06 Oktober 2013

Wanita


Wajar saja jika banyak orang mengatakan bahwa rambut seorang wanita adalah mahkota. Mahkota adalah lambing yang agung, tinggi dan suci yang dengan atau tanpanya seseorang bisa berubah 180 atau bahkan 360 derajat. Maka wajar pula jika agama tertentu sangat melindungi bagian dari tubuh wanita ini karena kesuciannya.

Barangkali tak banyak wanita yang menyadari betapa bagian dari anggota kepalanya itu adalah pemikat orang-orang di sekelilingnya. Meskipun tak semua pria memandang itu adalah bagian mutlak untuk menentukan apakah seorang wanita dikatakan cantik dan sebaliknya. Tapi sebagian besar mengatakan “ya.” Aku sendiri tak bisa mengelaknya. Ada perasaan alami yang muncul ketika melihat wanita dengan rambut terurai di kepalanya. Terlebih jika rambut yang teruarai itu sengaja dirapikan secara terbuka. Sebaiknya wahai kau kaum hawa benar-benar bisa menjaga kecantikan yang telah dianugerahkan Tuhan buatmu. Tidak semua wanita seberuntung kamu. Jadi peliharalah, bukan malah diobral gratis untuk mata-mata yang tidak semuanya bisa menjaga diri.


Kamis, 03 Oktober 2013

Emosi peristiwa


Kau akan tahu pentingnya sebuah peristiwa terjadi ketika emosimu benar-benar terlibat di dalamnya. Selama emosimu belum juga berada di dalam peristiwa tersebut maka jangan harap kau akan mendapatkan kenangan dari peristiwa itu. Bahkan sambil lalu saja gambar-gambar akan terlintas kemudian hilang dan lupa. Begitu pentingya emosi ada di dalam peristiwa seperti kadar garam di lautan. Tanpanya lautan adalah hamparan air tanpa rasa yang bergelombang di tepiannya saja.

Emosi bukan sekadar marah-marah. Tapi lebih dari sekadar hal bodoh itu. Ada banyak pengorbanan tenaga maupun pikiran yang terbuang karena momentum. Ada banyak cerita yang akan selalu indah ketika kau berniat mengulangnya. Suatu ketika kau pasti merasakannya juga. Semoga segera perasaan itu menjemputmu. Aku pun akan membuat cerita lain dengan emosi yang tak jauh berbeda dari yang aku rasakan sekarang. Kita akan berjumpa di sana. Pada puncak-puncak kenangan yang takkan pernah terpikirkan sebelumnya.

Jakarta, 3 Oktober 2013

18.59

MALAS DAN BERPURA-PURA


Baru kali ini saya temukan kebodohan karena kemalasan kolektif yang begitu tinggi di sebuah ruang tempat belajar. Apakah saya yang terlalu menganggap mereka cerdas atau mereka memang lamban. Tapi kepura-puraan jauh lebih tampak daripada keseriusan seorang anak tengil yang hobi bermain. Malas. Akhirnya satu kata itu yang menjadi akhir simpulan. Kemalasan yang dilakukan bersama-sama menjadi bagian kebiasaan yang sudah dianggap wajar. Datang sekadar menghindari ocehan orang rumah yang rebut, gang-gang yang sempit dan bau, lalat-lalat yang naik-turun di atas pagar, serta gerobak-gerobak sampah yang parkir seadanya di sisa jalan. Maka ruang belajar akhirnya menjadi sarana yang paling tepat untuk bermain, mencurahkan segala kesuntukan rumah, jalanan, serta preman rumahan.

Aku datang untuk belajar. Aku pulang membawa ilmu.  Dua kalimat yang antipati pada kemalasan karena dua alasan. Pertama, karena kedatangan mereka bukanlah bukan untuk tujuan belajar tapi membawa dan memindahkan segudang masalah dari rumah serta jalanan. Ke dua, niat yang salah membawa cara pandang yang salah pula sehingga kepulangan membawa ilmu hanyalah mitos dan mimpi yang jauh panggang dari api.

Ini masalah anak-anak pinggiran Jakarta yang juga saya yakini kemiripannya dengan kota-kota besar lainnya di sekitar kita. Bahkan bukan kota sekalipun, jika latar belakang anak memaksa mereka untuk terbiasa hidup dengan “kebusukan” , ketakutan dan kekerasan maka situasi kemalasan yang sama akan terjadi. Dari sini saya merasa beruntung karena saya dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang harmonis. Meskipun pertengkaran kecil orang tua, adik serta kakak adalah hal yang wajar dan biasa. Saya juga beruntung karena hidup dalam alam pedesaan yang segar dan hijau di masa-masa seperti kalian sekarang. Tapi saya jauh lebih beruntung karena bertemu dengan kalian di sini sekarang. Setidaknya saya masih percaya bahwa belajar tidak sekadar dari kebenaran saja. Kita juga bisa belajar dari kesalahan, kebodohan serta kemalasan. Tapi bukan menggeluti kesalahan, kebodohan serta kemalasan itu. Kalian salah dalam hal persepsi. Bingkai kemalasan takkan pernah membuat masalahmu berkurang apalagi hilang. Malah justru semakin bertambah dan bertumpuk.

Sekarang kalian yang tentukan, apakah kalian mau hidup terus dengan kebusukan ini atau memberi wewangian baru untuk mengganti kebusukan yang terlanjur kau selami? Tetap dengan kemalasan dan kebodohan atau berubah untuk kecerdasan mental dan pikiran?

Catatan : tulisan di atas beradu pengalaman, fiksi dan imajinasi
Jakarta, 3 Oktober 2013

17.03