#under_header{ float:left; width:100%; } #under_header1{ float:left; width:25%; } #under_header2{ float:left; width:25%; } #under_header3{ float:left; width:25%; } #under_header4{ float:right; width:25%; }

Selasa, 08 Oktober 2013

Menanam dan memanen

Menanam dan memanen. Dua kata yang berpasangan dengan tanpa paksaan. Begitupun dengan apa yang aku lakukan sekarang. Maka aku akan mendapat hasilnya, sekarang ataupun nanti. Sama halnya dengan apa yang aku kerjakan dulu dan sekarang aku mendapat hasil dan konsekuensinya. Kenakalan yang aku pandang wajar ternyata menunjukkan hal yang sebaliknya di mata orang lain. Memandang wajar pada suatu hal ternyata belum tentu sama dirasakan sama oleh orang lain. Barangkali aku dulu nakal maka sekarang pun aku harus berhadapan anak-anak yang nakal pula. Seperti hukum rimba atau hukum alam. Siapa yang bersalah dia yang berdosa.
Perasaan memang bisa tidak jujur dan seringkali menipu, menyesuaikan dengan kebutuhan. Seringkali perasaan salah ditekan sedalam-dalamnya pada titik terjauh. Tapi seringkali pula perasaan itu terapung kembali pada alam kesadaran yang nyata. Efek yang muncul kemudian adalah perasaan takut dan khawatir yang berlebihan. Sekali lagi karena kau membohongi diri sendiri, berusaha menghibur diri dan membuat senang. Tapi efek sesaat yang didapat. Kemudian kembali pada perasaan yang sebenarnya.
Aku merasa wajar, dulu. Tapi aku mendapat ketidakwajaran sekarang. Ini berarti ada kesempatan besar yang akan membuatku lebih dewasa dari sebelumnya.

Ada jalan untuk orang kecil menjadi besar. Ada kesempatan untuk mengubah pahit menjadi manis pada waktunya nanti. Semuanya adalah rencana Tuhan untuk membalikkan keadaan yang tertekan menjadi leluasa. Tapi bukan karena kekuasaan yang bebas dan tanpa batas. Melainkan kekuasaan berbekal moralitas yang matang. Aku mau hidup dan menghidupkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar