#under_header{ float:left; width:100%; } #under_header1{ float:left; width:25%; } #under_header2{ float:left; width:25%; } #under_header3{ float:left; width:25%; } #under_header4{ float:right; width:25%; }

Minggu, 27 Oktober 2013

PAKET ANTARA KESIAPAN DAN NASIB BAIK

Rabu itu adalah hari pelaksanaan lomba sosiodrama antarsekolah menengah pertama se-jabodetabek yang diselenggarakan oleh museum sumpah pemuda, Jakarta. Sosiodrama adalah istilah yang jujur baru pertama kali aku dengar. Yah dari namanya sih ngga terlalu asing, kurang lebihnya semacam drama yang berkaiterat dengan social masyarakat. Kebetulan momentum yang diambil adalah tentang sejarah sumpah pemuda.

Surat yang diantar oleh guru pamongku tertulis tanggal 7 Oktober 2013, namun aku membacanya tanggal 9 Oktober 2013 setelah Ivana dan Yuliana, rekan PKMku di sekolah memberitahu. Hari itu berarti tepat dua minggu sebelum pelaksanaan lomba. Mendapat tawaran untuk mengumpulkan sekaligus melatih anak-anak aku antusias menerimanya, begitu juga dua rekanku. Aku hanya berpikir ini pengalaman baru yang dikirimkan Tuhan kepada kami di sini dan mungkin tak akan kami dapatkan setelah selesai masa tugas menjadi guru “relawan” di sekolah ini. 

Beruntunglah Tuhan membukakan pintu izin kami untuk menjadi peserta dengan nomor urut 6 di sana. Setelah mengalami banyak perubahan pemain dan konsep pasca gladi resik lomba, akhirnya dengan perasaan seadanya kami berangkat Rabu pagi pukul 08:10 wib. Banyak anak yang bertanya.
 “Pak kita naik apa ke sana?”
Saya jawab aja tanpa rasa bersalah. “Kita naik bis nanti.”
“Pak katanya naik bis?”
“Iya,tuh sopirnya udah nungguin?”
“Jadi mana bisnya?”
“Itu. Mini bis.”
“Haha..Bapak, itu kan mikrolet.”
“Kapan lagi naik mikrolet bareng-bareng? Yang penting asik rame-rame.”
“Oke deh Pak.”

Kami pun melaju 15 orang dalam sebuah mikrolet ditambah sopirnya tentu. Beruntunglah yang ngga dapat jatah kursi duduk, karena mereka akhirnya tahu arti pentingnya berbagi untuk memangku temannya. Mikrolet melesat dengan kecepatan sangat lambat melewati jalan Percetakan Negara yang padat. Setengah jam kemudian kami sampai di bakal TKP.
Pak ini sudah sampai?”
“Iya sudah sampai. Itu kita nanti di sana. Di gedung yang pagarnya ada kain merah putih.”

Kami turun tepat di depan gerbang masuk museum. Mikrolet melaju lagi bersama kertas biru bergambar I Gusti Ngurah Rai. Kami langsung masuk ke dalam area museum dan melakukan pendaftaran ulang. Sambil mengunyah kudapan yang dikasih panitia seorang siswa bertanya lagi dengan khawatir.
Pak mereka pakai biola!”
“Ngga usah terpengaruh dengan sekolah lain. Main aja kaya latian kemarin. Tampilkan aja yang terbaik. Ngga perlu mikir menang atau kalah.”

 Setelah itu kami berdoa bersama dan acara pun dibuka oleh ketua museum. Ternyata seleksi alam masih terjadi lagi di sini. Dari 10 sekolah yang mendaftar, hanya ada  empat sekolah yang memenuhi janjinya di hari pelaksanaan. Jadi perasaan was-was sedikit berkurang. Tapi tetap saja anak-anak yang baru pertama kali ikut lomba, semuanya panik luar biasa. Tapi cuma sesaat. Sampai dengan akhirnya mereka tampil juga ke depan.

Di sinilah dimulai…
Meskipun mendapatkan nomor urut 6 tapi nyatanya mereka tampil di urutan ke dua. Kendala teknis. Anak-anak memang belum terbiasa untuk menanggapi sesuatu yang dilihatnya lebih bagus dari apa yang dia punya. Terlebih setelah mereka melihat penampilan kelompok pertama yang memang tampil dengan cukup meyakinkan. Hampir semuanya aku lihat menjadi berkurang semangatnya. Aku hanya berpesan, “Kalian punya kesempatan yang sama untuk menjadi yang terbaik.”

Mereka pun tampil maksimal hari itu. Mereka menang secara semangat dari kelompok-kelompok lain. Tapi sayang dari segi konsep yang dibuat bersama-sama olehku, Ivana dan Yuliana memang masih kalah. Satu kelompok memang terlihat lebih dominan dari yang lain. Mereka anak yang sudah terbiasa dengan kegiatan drama atau teater di sekolah. Jadi aku anggap wajar mereka dominan. Berbeda dengan anak-anak yang aku bawa hari ini. Mereka sama sekali tak aktif dalam kegiatan drama di sekolah maupun di luar sekolah. Beberapa anak memang katanya pernah main drama, Cuma seadanya saja di ruang-ruang kelas. Tapi bagiku mereka menunjukan perkembangan yang cukup signifikan sekalipun mereka semua belajar dari awal.

Singkat cerita mereka mendapat predikat kelompok terbaik ke dua. Seperti juga yang telah aku perkirakan. Luar biasa. Wajah-wajah mereka pun bebas dengan senyuman terlebar. Berkemas dari perlombaan dengan membawa sebuah map berisi sertifikat penghargaan dan plakat kemenangan. Anak-anak pun pulang dengan kepala tegak. Namun aku mengingatkan untuk selalu menundukkan kepala, tidak cepat merasa puas, apalagi bersombong dengan hasil yang didapat hari ini. Kalian bisa lebih baik lagi, dengan ataupun tanpa kami sebenarnya.

“Berikan yang terbaik yang kalian bisa untuk orang tua, guru, sekolah dan teman-teman kalian semua.”

            Jakarta, 23 Oktober 2013
Salam,
Imam udin-ivantia-yuriana

Tidak ada komentar:

Posting Komentar