#under_header{ float:left; width:100%; } #under_header1{ float:left; width:25%; } #under_header2{ float:left; width:25%; } #under_header3{ float:left; width:25%; } #under_header4{ float:right; width:25%; }

Jumat, 13 Desember 2013

111213


Segala-galanya memang telah berakhir untuk sementara ini. PKM. Praktik keterampilan mengajar yang menjadi rutinitas selama satu semester ini resmi telah berakhir dan dilepas sekolah rabu kemarin, 11 Desember 2013. Meskipun baru hari inilah kami benar-benar angkat kaki dari sekolah, SMPN 71 Jakarta menuju rutinitas kampus lagi.

Satu semester ini saya, Ivana, dan Yuliana dari jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia menjalaninya bersama. Bersama dengan kami juga Abdul Latif, Dwi Lina, Arum, Dina dan Desi. Mereka dari jurusan IPS dari kampus yang sama. Membicarakan mereka adalah bercerita tentang kelucuan, kekakuan, kegalauan dan segala hal tentang anak muda yang kadang aneh dan tidak bisa dimengerti. Begitulah tapi saya tidak akan membicarakan salah satu dari mereka. Kalian semua baik dan luar biasa. Semua perkara anak-anak yang membuat kita greget dan marah telah berhasil sama-sama kita selesaikan satu semester ini. Untuk sementara kita berhasil  “dikasih tahu” oleh anak anak-anak bagaimana cara mendidik yang selama ini hanya kita bayangkan.

Acara perpisahan yang sederhana yang pada awalnya tak hendak dihadiri oleh dosen pembimbing, akhirnya justru dihadiri oleh keduanya. Takdir yang membuat senang dan haru di saat yang penting. Namun betapapun senangnya melepas tugas, selalu ada perasaan gugup dan rasa bersalah pada orang-orang yang hendak ditinggalkan. Ada kata yang mungkin terlalu banyak diucap. Ada kalimat yang mungkin justru tak sempat terucap. Ada pesan yang mungkin terabaikan dan ada banyak lagi kemungkinan yang membuat kita salah di sana. Pengalaman ini baru setetes air dari maha luasnya lautan. Begitu pesan salah satu guru pamong di sana. Sebuah kalimat sederhana yang memang benar adanya.

Saya dipaksa mengusap mata kali ini.

Semoga kesalahan yang sempat kami perbuat di sana tak lantas membuat kenangan buruk yang tersimpan lama dalam hati. Terimakasih Bunda Fitri MZ dan rekan-rekan guru di SMPN 71. Ini pengalaman yang luar biasa. Pasti saya kembali lagi ke sana suatu saat nanti.
Semoga kesuksesan selalu menyertai kita.:)

Jakarta, 131213.


- Salam - 

Selasa, 10 Desember 2013

DUKA


Dramatis. Tapi ini bukan sebuah drama melainkan tragedi ketika sebuah rangkaian gerbong kereta api beradu kekuatan dengan sebuah truk pengangkut bahan bakar minyak sebanyak 24.000 kiloliter. Tapi bukan karena kuatnya kereta menghantam truk tersebut, melainkan karena tanggungjawab seorang masinis, teknisi, beserta asisten masinis di dalamnya yangn membuat saya merinding. Betapa tidak, mereka berkorban nyawa untuk memberikan lebih banyak kesempatan hidup untuk para penumpangnya. Padahal kesempatan untuk lekas keluar dari rangkaian gerbong itu jelas betul terbuka lebar.

Penuturan yang begitu jujur dari salah satu korban yang selamat membuat siapapun yang mendengar kisah ini akan sangat bangga terhadap mereka.  Syuhada jelas menjadi konsekuensi atas tanggung jawab profesi yang begitu besar sampai detik nafas yang terakhir bagi mereka.keegoisan itu pasti ada pada setiap orang, tapi entah firasat apa yang membuat mereka memilih untuk altruis hebat hingga mengorbankan kehidupannya sendiri. Sebuah teladan yang akan sangat sulit kita temukan di tengah puncak keegoisan manusia kota yang begitu tinggi. Semoga tempat terindah telah membuat tenang kalian di sana bersama dengan korban-korban lainnya yang tak sempat menghindari maut. Amiin.




Senin, 09 Desember 2013

Hakim


Itu artinya masih ada satu lagi kemungkinan hakim yang akan datang padaku. Aku tak menampakkan diri beberapa hari ini. Bukan karena aku takut pada hakim yang sewaktu-waktu datang ke rumahku. Pikiran pun sudah bermacam-macam rupa untuk untuk mendeskripsikan siapa hakim itu, barang apa saja yang dibawanya, hingga para pengawal yang mengamankan setiap jengkal langkahnya. Oh tidak. Perkaranya adalah aku tidak pernah tahu siapa dia yang akan menjadi hakim atas kasus ini. Bahkan aku tak pernah mendapat penjelasan tentang kasus yang katanya telah aku perbuat. Media-media masa mengabarkan dengan begitu menggebu-gebu kasus yang ternyata sama sekali tak penting ini. Soal kepercayaan dan penghianatan. Tak penting karena semakin banyak orang menganggap materi jauh lebih dari soal hati dan nurani. Materi untuk bertahan dan menyerang. Sementara hati sekadar meminta belas kasih. Menyedihkan. Tapi rupanya ketidakpentingan inilah yang justru menarik para pemburu berita.

Korban menjadi terdakwa. Bayangan bui dan cambuk sudah berkali-kali mampir dalam setiap malam. Kini penantian semakin dekat. Rumah semakin sering didatangi orang-orang yang tak aku kenal. Beruntunglah aku hanya mendapatkan ceritanya dari tetangga yang menyampaikan pesan kepadaku. Setelah pesan-pesan tetanggaku itu jatuh ke kepalaku, aku menjadi semakin curiga dengan setiap orang. Laku aneh pun mulai menjadi kebiasaan. Soal kesehatan tak lagi jadi kebutuhan. Aku hanya memikirkan rasa aman yang direnggut oleh berita-berita yang hipokrit, kamera-kamera yang menusuk, hingga pada mulut-mulut yang tak henti-hentinya mencabik-cabik kebebasan gerak langkahku, bahkan di dalam rumahku sendiri.

 Ruang kesadaran berubah menjadi ruang imajinasi. Ruang imajinasi telah melebur menjadi ruang gossip ibu-ibu murahan. Tak tersisa lagi ruang untuk sekadar memicingkan mata ke teras rumah. Tak tersisa lagi ruang untuk mengintip rumahku sendiri. Aku dipasung zaman. Menjadi manusia dengan seribu pasang bola mata yang seolah bertindak seperti kamera pengintai. Setiap pasang mata adalah mata-mata yang harus saya hindari. Aku kehilangan keberanian untuk menatap ke depan. leherku kehilangan tenaga untuk melihat langit yang maha tinggi. Oh betapa besar derita orang biasa sepertiku.

Aku sudah tak tahan lagi menahan diri dalam pengawasan seribu mata di sini. Aku kecil yang dilindas kekuasaan dan kedudukan. Aku punya mulut tapi dibungkam. Aku punya kaki tapi dipasung. Aku punya tangan tapi diikat. Aku punya otak tapi digebiri. Aku punya keluarga tapi ditakut-takuti. Aku punya saudara tapi diancam mati. Aku punya kawan tapi kini menjadi lawan karena hasutan. Aku punya mata tapi dibutakan. Aku punya hak tapi direnggut. Aku punya suara tapi dibisukan. Aku mendengar tapi ditulikan. Aku merasakan tapi mati rasa karena tekanan. Aku hanya punya hati sekarang, yang tak bisa kau bohongi. Hati yang berkata benar untuk kebenaran. Hati yang berkata jujur untuk kejujuran. Hati yang menunduk untuk kesalahan. Hati yang tegar karena penderitaan. Hati yang masih bisa memaafkan.


Bersambung…
Puas. Perihal hasrat yang harus segera diselesaikan. Tanpa pemenuhannya adalah sebuah tekanan sekaligus siksa batin yang menyedihkan. Pilihannya kadang antara menyenangkan diri atau menghukum diri. Menyenangkan diri ketka sebuah keinginan tersalurkan. Konsekuensinya pada saluran yang bahkan bisa jebol menahan gempuran hasrat yang berlebih, atau pilihan sakti lainnya adalah derita untuk penerima hasrat. Barangkali dalam hati setelah hasrat itu tersalurkan semua orang akan berkata dengan degup jantung yang urung berhenti. Mampus kau! Kemudian tak lama setelahnya dia akan mengakui penyesalannya dengan tertutup. Semacam perenungan untuk mencapai titik katarsis. Selang tak lama kemudian lupa dan hilang.

Saya tak sedang bermimpi atau mengangan sesuatu apapun. Tak ada juga keinginan yang buru-buru hendak saya capai selain mencoba menghayati cara memberi dan menerima dengan cara yang terbaik. Apa yang telah maupun akan saya terima adalah bekal yang berharga sebelum saya memberikan sesuatu kepada orang lain. Emosi tidak selamanya mengandung nilai yang cacat. Ada celah-celah pesan yang sebenarnya terselip diantara cara biacara yang semakin cepat, mulut yang mengumpat tanpa henti hingga gesture tangan yang terlihat semakin alami memainkan benda apa saja di sekitarnya. Keinginan ke dua yang ingin segera saya salurkan adalah memuat kata-kata tak berguna ini pada rumah pribadi saya. Tak peduli siapa hendak berkomentar apa tentang ini karena sampai dengan saat ini saya masih meyakini itu adalah cara terbaik untuk menyalurkan keinginan yang sederhana. Tanpa mencabut harga diri orang lain, tanpa biaya mahal, tanpa memalukan diri sendiri, tanpa mengangkat kesombongan sebagai alibi dasar membuat orang lain kecil, tanpa kedudukan untuk memerintah, tanpa kekuasaan untuk mengatur dan tanpa kekerasan untuk menindak.

Tak banyak pasang mata yang akan mengintip rumah orang lain. Prinsipnya sama, karena mengintip adalah suatu hal yang tabu. Jadi membaca pun adalah sebuah kegiatan yang tidak wajar dan harus dicurigai.
Ada hakim-hakim yang hanya berlaga label sarjana tanpa hati dan nurani. Sekali lagi bukan untuk memelasi dan merasa iba pada terdakwa. Tapi melaslah pada korban yang telah terlanjur menjadi korban dan tak bakal kembali pulang menjadi sesuatu yang utuh lagi. Ahh nurani tak patut buat diplintir dan diimprovisasi. Biarkan dia ada untuk menerima dan memilih sendiri nasibnya. Seperti sebuah tulisan yang akan mendapatkan predikat sebagai anak haram, sampah hingga kotoran oleh pembacanya. Semua tak pernah aku perkarakan karena keinginan telah terselesaikan. Tak perlu lagi mengundang akses opini untuk menghibur diri karena setelah ini pasti ada keinginan lain yang segera meminta saluran pembuangannya.


Saya membenci orang-orang yang tak mau mengakui kesalahannya. Saya membenci juga orang-orang yang menajiskan kepercayaan yang telah saya berikan. Saya membenci kedudukan tinggi yang selalu menekan siapapun yang di bawahnya. Saya membenci orang-orang tak tahu apa-apa berbicara hingga berbusa-busa. Saya membenci kata-kata bijak yang tak dibuang pada tempatnya. Maka katakanlah dengan jujur tanpa ditutup-tutupi. Saya tak butuh kesenangan yang semu. 

AKSES

Akses. Jalan untuk memudahkan sebuah langkah panjang. Perihal sedikit yang sering dilupakan hingga kebingungan menjadi lingkaran yang sulit untuk dipecahkan. Sama halnya dengan pribahasa tikus mati di lumbung padi. Pertanyaan sederhana yang muncul adalah mengapa bisa terjadi demikian? Jawaban simpelnya adalah karena tak ada akses untuk menjangkau makanan tersebut. Seberapapun besar dan banyak makanan yang tersedia di dekat kita kalau kita tak punya akses untuk mendapatkanya maka sama halnya kita menunggu kematian. Saya tak hendak menyamakan kita dengan tikus. Tapi nasibnya akan sebodoh tikus ketika banyaknya peluang di sekitar kita namun hanya sebatas penglihatan dan kemudian hilang.

Pentingnya akses untuk menggapai sebuah tujuan adalah sebuah kebutuhan. Sampai-sampai orang begitu rela kehilangan harga diri untuk “mengemis dan meminta” hanya untuk sebuah akses.  Mereka yang beruntung memanfaatkan jaringan nepotisnya untuk akses tersebut. Yang kurang beruntung hanya bisa bersiap menunggu kematian menjemput. Yang lain lagi memanfaatkan segala cara untuk mendapatkannya. Dari mulai dukun sakti, paranormal, orang pintar,guru spiritual,  professor hingga tukang pukul dikerahkan untuk mendapatkan akses. Cara yang terakhir biasanya lebih banyak menjadi pilihan karena alasan pribadi yang lemah tapi berkecukupan secara materi. Cara baik ditempuh oleh orang-orang yang baik. Cara yang buruk dipilih oleh orang-orang yang buruk. Apapun cara yang ditempuh semuanya untuk satu tujuan yang sama, akses.

Di sini tidak berlaku kedudukan yang sama. Justru kedudukan dan kekuasaan sangat menentukan. Maka wajar saja ketika di bangku sekolah dasar dulu bahkan hingga sekolah menengah berlaku kalimat bijak tempat duduk menentukan sebuah hasil yang dicapai. Anak-anak pun berlomba-lomba untuk datang lebih pagi dari yang lain untuk sekadar memilih kedudukan yang paling strategis secara pengawasan. Sadar ataupun tidak itulah realita yang pasti kita sama-sama amini. Sebegitu pentingnya akses hingga orang mati terbunuh karenanya atau satu tingkat yang lebih beruntung dibawahnya adalah gila.
Padahal kebahagiaan sebagai tujuan hidup tidak bisa didapat hanya sekadar mendapatkan akses. Akses kebahagiaan yang paling sederhana adalah memberikan akses kebahagiaan yang kita punya sekecil apapun untuk orang-orang disekitar kita.



Kamis, 05 Desember 2013

Menatap optimisme di penghujung PKM


Mengawali dengan optimisme yang sama, mengakhiri pun dengan semangat optimis yang sama. Nah yang akan tertulis ini adalah proses berjalannya. Ada keoptimisan yang tetap terjaga, tapi juga ada keprihatinan (bukan sekadar mengucap saya turut prihatin ya,hehe). Tapi saya berusaha membuatnya berimbang antara rasa optimis yang dibangun sejak awal hingga menjaganya sampai dengan batas waktu memutuskan hubungan mitra ini. Pengalaman pasti didapat. Tak semuanya memuaskan, tapi ada juga yang enggan melepas, barangkali ada juga yang bersorak gembira karena taka da lagi Pak Imam yang selalu marah-marah di depan kelas. Tapi mungkin ada juga yang kecewa karena tidak bisa melihat lagi pak Imam kepanasan sambil mengusap keringat yang terjun bebas dari pipinya. 

Jujur saya memang senang bisa melepas dan menyelesaikan tugas ini pada akhirnya. Munafik juga kalau saya berpura-pura tetap ingin bertahan. Bukan karena tak mau tapi karena masih banyak hal menanti harus yang saya selesaikan juga setelah PKM ini. Anak yang menyebalkan adalah hal yang wajar, tapi masalahnya menjadi hal yang tidak wajar ketika sifat yang sama dilakukan secara kolektif. Jujur saja itu yang belum bisa saya selesaikan sampai dengan saat ini. Ada beban antara tidak mau disebut sebagai guru yang hanya suka ceramah dan marah-marah dengan cara untuk mengondisikan kelas yang kondusif. Lagi-lagi anak-anak, punya tradisi yang sama pada usia menjelang remaja.

Berat sebenarnya meninggalkan anak-anak dengan kekikukan yang masih sama bahkan ketika diajak untuk menuliskan pengalaman keseharian mereka. Rasanya mereka sulit sekali bahkan hanya untuk merangkai kata dan kata menjadi sebuah kalimat. Begitupun ketika kelas bermain drama berlangsung. Keaktifan mereka juga belum tersalurkan secara maksimal di dalam setiap peran yang mereka bawakan. Ini adalah cermin, jadi saya pantas mengoreksi diri.

Sekarang tinggal sisa-sisa berkas yang harus kembali saya kumpulkan untuk urusan birokratis kampus. Bayangan anak-anak segera menjadi masa lalu. Indah pada saatnya nanti.

Hari ini pun telah menjemputku untuk segera tinggalkan mata-mata kalian yang penuh rasa ingin tahu.  Jujur saja tiba-tiba ada kegugupan sekaligus rasa khawatir yang sama ketika harus ada kata perpisahan, termasuk dengan kalian. Tapi telah menjadi jalan yang sama dimanapun bahwa setiap pasangan pertemuan adalah perpisahan. Hari ini saya kikuk bertemu kalian bukan karena saya takut bertemu kalian atau belum menyiapkan materi untuk belajar. Kegugupan itu ada mengikuti momen yang akan segera berakhir. Ada pesan dan kesan yang harus segera saya tuntaskan dengan kalian. Setidaknya saya akan merasa senang ketika ada perubahan nyata ke arah yang positif setelah kita tidak bersama-sama lagi.

Saya bahkan pernah menulis sebuah surat pink untuk orang yang dulu pernah saya sukai. Tapi apa yang saya tulis sekarang ini jauh lebih mengenang daripada surat cinta yang pertama itu. Saya bukan siapa-siapa. Hanya orang yang kebetulan diberi kesempatan untuk bertemu kalian di sini hanya untuk satu tujuan pengalaman. Saya mendapatkan pengalaman yang berharga dari kalian. Semoga kalian juga mendapatkan pengalaman yang sma berharganya dengan apa yang sama dapatkan bersama kalian. Bahkan jauh lebih berharga daripada sekadar cara mengajar saya di kelas yang mungkin aneh dan tidak jelas. Ambil yang teladan yang baik dari saya dan tinggalkan contoh yang buruk dari saya. Sampai dengan saat ini saya masih menyakini bahwa kalian memiliki kemampuan yang jauh lebih hebat dari apa yang kalian punya sekarang. Kalau bisa menjadi yang terbaik mengapa harus menunda. Kalau ada contoh yang nyata-nyata memotivasi kalian mengapa harus mengabaikan. Kunci dari kemenangan adalah semangat meraih apa yang dicita-citakan. Kalian mungkin tidak akan mendapatkan hasilnya sekarang secara langsung. Tapi di masa-masa yang akan datang mungkin manfaat itu baru bisa kalian rasakan. Berpikir positif dan belajar menerima saran dan pendapat orang lain. Saya juga sama seperti kalian dan anak-anak yang lain. Ada kelemahan, ada kemalasan, ada keburukan tapi kita semua punya kekuatan, punya semangat, punya kelebihan untuk menjadi pribadi yang terbaik.

Ingatkan selalu pada diri sendiri juga untuk tak menjadi pribadi yang angkuh dengan ilmu dan pencapaian kalian. Tak ada pantasnya menyombongkan apapun yang kita punya. Buka mata, buka hati dan buka pikiran bahwa di luar sana masih banyak orang-orang yang jauh lebih hebat dari kita sekarang. Ada saatnya kalian sendiri dan ada saatnya nanti kalian harus bekerja bersama-sama dalam tim. Kurangi keegoisan untuk membentuk tim yang solid. Ingat pesan yang saya selipkan ketika kita berhitung di dalam kelas.
Semoga kesempatan lain segera membuat pertemuan kita lagi di waktu yang akan datang.

Ada kalian:  8-6 & 82

SMPN 71 JAKARTA