#under_header{ float:left; width:100%; } #under_header1{ float:left; width:25%; } #under_header2{ float:left; width:25%; } #under_header3{ float:left; width:25%; } #under_header4{ float:right; width:25%; }

Senin, 09 Desember 2013

Puas. Perihal hasrat yang harus segera diselesaikan. Tanpa pemenuhannya adalah sebuah tekanan sekaligus siksa batin yang menyedihkan. Pilihannya kadang antara menyenangkan diri atau menghukum diri. Menyenangkan diri ketka sebuah keinginan tersalurkan. Konsekuensinya pada saluran yang bahkan bisa jebol menahan gempuran hasrat yang berlebih, atau pilihan sakti lainnya adalah derita untuk penerima hasrat. Barangkali dalam hati setelah hasrat itu tersalurkan semua orang akan berkata dengan degup jantung yang urung berhenti. Mampus kau! Kemudian tak lama setelahnya dia akan mengakui penyesalannya dengan tertutup. Semacam perenungan untuk mencapai titik katarsis. Selang tak lama kemudian lupa dan hilang.

Saya tak sedang bermimpi atau mengangan sesuatu apapun. Tak ada juga keinginan yang buru-buru hendak saya capai selain mencoba menghayati cara memberi dan menerima dengan cara yang terbaik. Apa yang telah maupun akan saya terima adalah bekal yang berharga sebelum saya memberikan sesuatu kepada orang lain. Emosi tidak selamanya mengandung nilai yang cacat. Ada celah-celah pesan yang sebenarnya terselip diantara cara biacara yang semakin cepat, mulut yang mengumpat tanpa henti hingga gesture tangan yang terlihat semakin alami memainkan benda apa saja di sekitarnya. Keinginan ke dua yang ingin segera saya salurkan adalah memuat kata-kata tak berguna ini pada rumah pribadi saya. Tak peduli siapa hendak berkomentar apa tentang ini karena sampai dengan saat ini saya masih meyakini itu adalah cara terbaik untuk menyalurkan keinginan yang sederhana. Tanpa mencabut harga diri orang lain, tanpa biaya mahal, tanpa memalukan diri sendiri, tanpa mengangkat kesombongan sebagai alibi dasar membuat orang lain kecil, tanpa kedudukan untuk memerintah, tanpa kekuasaan untuk mengatur dan tanpa kekerasan untuk menindak.

Tak banyak pasang mata yang akan mengintip rumah orang lain. Prinsipnya sama, karena mengintip adalah suatu hal yang tabu. Jadi membaca pun adalah sebuah kegiatan yang tidak wajar dan harus dicurigai.
Ada hakim-hakim yang hanya berlaga label sarjana tanpa hati dan nurani. Sekali lagi bukan untuk memelasi dan merasa iba pada terdakwa. Tapi melaslah pada korban yang telah terlanjur menjadi korban dan tak bakal kembali pulang menjadi sesuatu yang utuh lagi. Ahh nurani tak patut buat diplintir dan diimprovisasi. Biarkan dia ada untuk menerima dan memilih sendiri nasibnya. Seperti sebuah tulisan yang akan mendapatkan predikat sebagai anak haram, sampah hingga kotoran oleh pembacanya. Semua tak pernah aku perkarakan karena keinginan telah terselesaikan. Tak perlu lagi mengundang akses opini untuk menghibur diri karena setelah ini pasti ada keinginan lain yang segera meminta saluran pembuangannya.


Saya membenci orang-orang yang tak mau mengakui kesalahannya. Saya membenci juga orang-orang yang menajiskan kepercayaan yang telah saya berikan. Saya membenci kedudukan tinggi yang selalu menekan siapapun yang di bawahnya. Saya membenci orang-orang tak tahu apa-apa berbicara hingga berbusa-busa. Saya membenci kata-kata bijak yang tak dibuang pada tempatnya. Maka katakanlah dengan jujur tanpa ditutup-tutupi. Saya tak butuh kesenangan yang semu. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar