Puas. Perihal hasrat yang harus
segera diselesaikan. Tanpa pemenuhannya adalah sebuah tekanan sekaligus siksa
batin yang menyedihkan. Pilihannya kadang antara menyenangkan diri atau
menghukum diri. Menyenangkan diri ketka sebuah keinginan tersalurkan. Konsekuensinya
pada saluran yang bahkan bisa jebol menahan gempuran hasrat yang berlebih, atau
pilihan sakti lainnya adalah derita untuk penerima hasrat. Barangkali dalam
hati setelah hasrat itu tersalurkan semua orang akan berkata dengan degup
jantung yang urung berhenti. Mampus kau! Kemudian tak lama setelahnya dia akan
mengakui penyesalannya dengan tertutup. Semacam perenungan untuk mencapai titik
katarsis. Selang tak lama kemudian lupa dan hilang.
Saya tak sedang bermimpi atau mengangan
sesuatu apapun. Tak ada juga keinginan yang buru-buru hendak saya capai selain
mencoba menghayati cara memberi dan menerima dengan cara yang terbaik. Apa yang
telah maupun akan saya terima adalah bekal yang berharga sebelum saya
memberikan sesuatu kepada orang lain. Emosi tidak selamanya mengandung nilai
yang cacat. Ada celah-celah pesan yang sebenarnya terselip diantara cara
biacara yang semakin cepat, mulut yang mengumpat tanpa henti hingga gesture
tangan yang terlihat semakin alami memainkan benda apa saja di sekitarnya. Keinginan
ke dua yang ingin segera saya salurkan adalah memuat kata-kata tak berguna ini
pada rumah pribadi saya. Tak peduli siapa hendak berkomentar apa tentang ini
karena sampai dengan saat ini saya masih meyakini itu adalah cara terbaik untuk
menyalurkan keinginan yang sederhana. Tanpa mencabut harga diri orang lain,
tanpa biaya mahal, tanpa memalukan diri sendiri, tanpa mengangkat kesombongan
sebagai alibi dasar membuat orang lain kecil, tanpa kedudukan untuk memerintah,
tanpa kekuasaan untuk mengatur dan tanpa kekerasan untuk menindak.
Tak banyak pasang mata yang akan
mengintip rumah orang lain. Prinsipnya sama, karena mengintip adalah suatu hal
yang tabu. Jadi membaca pun adalah sebuah kegiatan yang tidak wajar dan harus
dicurigai.
Ada hakim-hakim yang hanya berlaga
label sarjana tanpa hati dan nurani. Sekali lagi bukan untuk memelasi dan
merasa iba pada terdakwa. Tapi melaslah pada korban yang telah terlanjur
menjadi korban dan tak bakal kembali pulang menjadi sesuatu yang utuh lagi. Ahh
nurani tak patut buat diplintir dan diimprovisasi. Biarkan dia ada untuk
menerima dan memilih sendiri nasibnya. Seperti sebuah tulisan yang akan
mendapatkan predikat sebagai anak haram,
sampah hingga kotoran oleh pembacanya. Semua tak pernah aku perkarakan
karena keinginan telah terselesaikan. Tak perlu lagi mengundang akses opini
untuk menghibur diri karena setelah ini pasti ada keinginan lain yang segera
meminta saluran pembuangannya.
Saya membenci orang-orang yang tak
mau mengakui kesalahannya. Saya membenci juga orang-orang yang menajiskan
kepercayaan yang telah saya berikan. Saya membenci kedudukan tinggi yang selalu
menekan siapapun yang di bawahnya. Saya membenci orang-orang tak tahu apa-apa
berbicara hingga berbusa-busa. Saya membenci kata-kata bijak yang tak dibuang
pada tempatnya. Maka katakanlah dengan jujur tanpa ditutup-tutupi. Saya tak
butuh kesenangan yang semu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar