Itu artinya masih ada satu lagi
kemungkinan hakim yang akan datang padaku. Aku tak menampakkan diri beberapa
hari ini. Bukan karena aku takut pada hakim yang sewaktu-waktu datang ke
rumahku. Pikiran pun sudah bermacam-macam rupa untuk untuk mendeskripsikan
siapa hakim itu, barang apa saja yang dibawanya, hingga para pengawal yang
mengamankan setiap jengkal langkahnya. Oh tidak. Perkaranya adalah aku tidak
pernah tahu siapa dia yang akan menjadi hakim atas kasus ini. Bahkan aku tak
pernah mendapat penjelasan tentang kasus yang katanya telah aku perbuat.
Media-media masa mengabarkan dengan begitu menggebu-gebu kasus yang ternyata
sama sekali tak penting ini. Soal kepercayaan dan penghianatan. Tak penting
karena semakin banyak orang menganggap materi jauh lebih dari soal hati dan
nurani. Materi untuk bertahan dan menyerang. Sementara hati sekadar meminta
belas kasih. Menyedihkan. Tapi rupanya ketidakpentingan inilah yang justru
menarik para pemburu berita.
Korban menjadi terdakwa. Bayangan
bui dan cambuk sudah berkali-kali mampir dalam setiap malam. Kini penantian
semakin dekat. Rumah semakin sering didatangi orang-orang yang tak aku kenal.
Beruntunglah aku hanya mendapatkan ceritanya dari tetangga yang menyampaikan
pesan kepadaku. Setelah pesan-pesan tetanggaku itu jatuh ke kepalaku, aku
menjadi semakin curiga dengan setiap orang. Laku aneh pun mulai menjadi kebiasaan.
Soal kesehatan tak lagi jadi kebutuhan. Aku hanya memikirkan rasa aman yang
direnggut oleh berita-berita yang hipokrit, kamera-kamera yang menusuk, hingga
pada mulut-mulut yang tak henti-hentinya mencabik-cabik kebebasan gerak
langkahku, bahkan di dalam rumahku sendiri.
Ruang kesadaran berubah menjadi
ruang imajinasi. Ruang imajinasi telah melebur menjadi ruang gossip ibu-ibu
murahan. Tak tersisa lagi ruang untuk sekadar memicingkan mata ke teras rumah.
Tak tersisa lagi ruang untuk mengintip rumahku sendiri. Aku dipasung zaman. Menjadi
manusia dengan seribu pasang bola mata yang seolah bertindak seperti kamera
pengintai. Setiap pasang mata adalah mata-mata yang harus saya hindari. Aku
kehilangan keberanian untuk menatap ke depan. leherku kehilangan tenaga untuk
melihat langit yang maha tinggi. Oh betapa besar derita orang biasa sepertiku.
Aku sudah tak tahan lagi menahan
diri dalam pengawasan seribu mata di sini. Aku kecil yang dilindas kekuasaan
dan kedudukan. Aku punya mulut tapi dibungkam. Aku punya kaki tapi dipasung.
Aku punya tangan tapi diikat. Aku punya otak tapi digebiri. Aku punya keluarga
tapi ditakut-takuti. Aku punya saudara tapi diancam mati. Aku punya kawan tapi
kini menjadi lawan karena hasutan. Aku punya mata tapi dibutakan. Aku punya hak
tapi direnggut. Aku punya suara tapi dibisukan. Aku mendengar tapi ditulikan. Aku
merasakan tapi mati rasa karena tekanan. Aku hanya punya hati sekarang, yang
tak bisa kau bohongi. Hati yang berkata benar untuk kebenaran. Hati yang
berkata jujur untuk kejujuran. Hati yang menunduk untuk kesalahan. Hati yang
tegar karena penderitaan. Hati yang masih bisa memaafkan.
Bersambung…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar