#under_header{ float:left; width:100%; } #under_header1{ float:left; width:25%; } #under_header2{ float:left; width:25%; } #under_header3{ float:left; width:25%; } #under_header4{ float:right; width:25%; }

Senin, 09 Desember 2013

Hakim


Itu artinya masih ada satu lagi kemungkinan hakim yang akan datang padaku. Aku tak menampakkan diri beberapa hari ini. Bukan karena aku takut pada hakim yang sewaktu-waktu datang ke rumahku. Pikiran pun sudah bermacam-macam rupa untuk untuk mendeskripsikan siapa hakim itu, barang apa saja yang dibawanya, hingga para pengawal yang mengamankan setiap jengkal langkahnya. Oh tidak. Perkaranya adalah aku tidak pernah tahu siapa dia yang akan menjadi hakim atas kasus ini. Bahkan aku tak pernah mendapat penjelasan tentang kasus yang katanya telah aku perbuat. Media-media masa mengabarkan dengan begitu menggebu-gebu kasus yang ternyata sama sekali tak penting ini. Soal kepercayaan dan penghianatan. Tak penting karena semakin banyak orang menganggap materi jauh lebih dari soal hati dan nurani. Materi untuk bertahan dan menyerang. Sementara hati sekadar meminta belas kasih. Menyedihkan. Tapi rupanya ketidakpentingan inilah yang justru menarik para pemburu berita.

Korban menjadi terdakwa. Bayangan bui dan cambuk sudah berkali-kali mampir dalam setiap malam. Kini penantian semakin dekat. Rumah semakin sering didatangi orang-orang yang tak aku kenal. Beruntunglah aku hanya mendapatkan ceritanya dari tetangga yang menyampaikan pesan kepadaku. Setelah pesan-pesan tetanggaku itu jatuh ke kepalaku, aku menjadi semakin curiga dengan setiap orang. Laku aneh pun mulai menjadi kebiasaan. Soal kesehatan tak lagi jadi kebutuhan. Aku hanya memikirkan rasa aman yang direnggut oleh berita-berita yang hipokrit, kamera-kamera yang menusuk, hingga pada mulut-mulut yang tak henti-hentinya mencabik-cabik kebebasan gerak langkahku, bahkan di dalam rumahku sendiri.

 Ruang kesadaran berubah menjadi ruang imajinasi. Ruang imajinasi telah melebur menjadi ruang gossip ibu-ibu murahan. Tak tersisa lagi ruang untuk sekadar memicingkan mata ke teras rumah. Tak tersisa lagi ruang untuk mengintip rumahku sendiri. Aku dipasung zaman. Menjadi manusia dengan seribu pasang bola mata yang seolah bertindak seperti kamera pengintai. Setiap pasang mata adalah mata-mata yang harus saya hindari. Aku kehilangan keberanian untuk menatap ke depan. leherku kehilangan tenaga untuk melihat langit yang maha tinggi. Oh betapa besar derita orang biasa sepertiku.

Aku sudah tak tahan lagi menahan diri dalam pengawasan seribu mata di sini. Aku kecil yang dilindas kekuasaan dan kedudukan. Aku punya mulut tapi dibungkam. Aku punya kaki tapi dipasung. Aku punya tangan tapi diikat. Aku punya otak tapi digebiri. Aku punya keluarga tapi ditakut-takuti. Aku punya saudara tapi diancam mati. Aku punya kawan tapi kini menjadi lawan karena hasutan. Aku punya mata tapi dibutakan. Aku punya hak tapi direnggut. Aku punya suara tapi dibisukan. Aku mendengar tapi ditulikan. Aku merasakan tapi mati rasa karena tekanan. Aku hanya punya hati sekarang, yang tak bisa kau bohongi. Hati yang berkata benar untuk kebenaran. Hati yang berkata jujur untuk kejujuran. Hati yang menunduk untuk kesalahan. Hati yang tegar karena penderitaan. Hati yang masih bisa memaafkan.


Bersambung…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar