Akses. Jalan untuk
memudahkan sebuah langkah panjang. Perihal sedikit yang sering dilupakan hingga
kebingungan menjadi lingkaran yang sulit untuk dipecahkan. Sama halnya dengan
pribahasa tikus mati di lumbung padi.
Pertanyaan sederhana yang muncul adalah mengapa bisa terjadi demikian? Jawaban
simpelnya adalah karena tak ada akses untuk menjangkau makanan tersebut.
Seberapapun besar dan banyak makanan yang tersedia di dekat kita kalau kita tak
punya akses untuk mendapatkanya maka sama halnya kita menunggu kematian. Saya
tak hendak menyamakan kita dengan tikus. Tapi nasibnya akan sebodoh tikus
ketika banyaknya peluang di sekitar kita namun hanya sebatas penglihatan dan
kemudian hilang.
Pentingnya akses untuk menggapai
sebuah tujuan adalah sebuah kebutuhan. Sampai-sampai orang begitu rela
kehilangan harga diri untuk “mengemis dan
meminta” hanya untuk sebuah akses.
Mereka yang beruntung memanfaatkan jaringan nepotisnya untuk akses
tersebut. Yang kurang beruntung hanya bisa bersiap menunggu kematian menjemput.
Yang lain lagi memanfaatkan segala cara untuk mendapatkannya. Dari mulai dukun
sakti, paranormal, orang pintar,guru spiritual,
professor hingga tukang pukul dikerahkan untuk mendapatkan akses. Cara
yang terakhir biasanya lebih banyak menjadi pilihan karena alasan pribadi yang
lemah tapi berkecukupan secara materi. Cara baik ditempuh oleh orang-orang yang
baik. Cara yang buruk dipilih oleh orang-orang yang buruk. Apapun cara yang
ditempuh semuanya untuk satu tujuan yang sama, akses.
Di sini tidak berlaku kedudukan
yang sama. Justru kedudukan dan kekuasaan sangat menentukan. Maka wajar saja
ketika di bangku sekolah dasar dulu bahkan hingga sekolah menengah berlaku
kalimat bijak tempat duduk menentukan
sebuah hasil yang dicapai. Anak-anak pun berlomba-lomba untuk datang lebih
pagi dari yang lain untuk sekadar memilih kedudukan yang paling strategis
secara pengawasan. Sadar ataupun tidak itulah realita yang pasti kita sama-sama
amini. Sebegitu pentingnya akses hingga orang mati terbunuh karenanya atau satu
tingkat yang lebih beruntung dibawahnya adalah gila.
Padahal kebahagiaan sebagai tujuan hidup tidak bisa didapat hanya sekadar
mendapatkan akses. Akses kebahagiaan yang paling sederhana adalah memberikan
akses kebahagiaan yang kita punya sekecil apapun untuk orang-orang disekitar
kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar