#under_header{ float:left; width:100%; } #under_header1{ float:left; width:25%; } #under_header2{ float:left; width:25%; } #under_header3{ float:left; width:25%; } #under_header4{ float:right; width:25%; }

Senin, 09 Desember 2013

AKSES

Akses. Jalan untuk memudahkan sebuah langkah panjang. Perihal sedikit yang sering dilupakan hingga kebingungan menjadi lingkaran yang sulit untuk dipecahkan. Sama halnya dengan pribahasa tikus mati di lumbung padi. Pertanyaan sederhana yang muncul adalah mengapa bisa terjadi demikian? Jawaban simpelnya adalah karena tak ada akses untuk menjangkau makanan tersebut. Seberapapun besar dan banyak makanan yang tersedia di dekat kita kalau kita tak punya akses untuk mendapatkanya maka sama halnya kita menunggu kematian. Saya tak hendak menyamakan kita dengan tikus. Tapi nasibnya akan sebodoh tikus ketika banyaknya peluang di sekitar kita namun hanya sebatas penglihatan dan kemudian hilang.

Pentingnya akses untuk menggapai sebuah tujuan adalah sebuah kebutuhan. Sampai-sampai orang begitu rela kehilangan harga diri untuk “mengemis dan meminta” hanya untuk sebuah akses.  Mereka yang beruntung memanfaatkan jaringan nepotisnya untuk akses tersebut. Yang kurang beruntung hanya bisa bersiap menunggu kematian menjemput. Yang lain lagi memanfaatkan segala cara untuk mendapatkannya. Dari mulai dukun sakti, paranormal, orang pintar,guru spiritual,  professor hingga tukang pukul dikerahkan untuk mendapatkan akses. Cara yang terakhir biasanya lebih banyak menjadi pilihan karena alasan pribadi yang lemah tapi berkecukupan secara materi. Cara baik ditempuh oleh orang-orang yang baik. Cara yang buruk dipilih oleh orang-orang yang buruk. Apapun cara yang ditempuh semuanya untuk satu tujuan yang sama, akses.

Di sini tidak berlaku kedudukan yang sama. Justru kedudukan dan kekuasaan sangat menentukan. Maka wajar saja ketika di bangku sekolah dasar dulu bahkan hingga sekolah menengah berlaku kalimat bijak tempat duduk menentukan sebuah hasil yang dicapai. Anak-anak pun berlomba-lomba untuk datang lebih pagi dari yang lain untuk sekadar memilih kedudukan yang paling strategis secara pengawasan. Sadar ataupun tidak itulah realita yang pasti kita sama-sama amini. Sebegitu pentingnya akses hingga orang mati terbunuh karenanya atau satu tingkat yang lebih beruntung dibawahnya adalah gila.
Padahal kebahagiaan sebagai tujuan hidup tidak bisa didapat hanya sekadar mendapatkan akses. Akses kebahagiaan yang paling sederhana adalah memberikan akses kebahagiaan yang kita punya sekecil apapun untuk orang-orang disekitar kita.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar