#under_header{ float:left; width:100%; } #under_header1{ float:left; width:25%; } #under_header2{ float:left; width:25%; } #under_header3{ float:left; width:25%; } #under_header4{ float:right; width:25%; }

Kamis, 05 Desember 2013

Menatap optimisme di penghujung PKM


Mengawali dengan optimisme yang sama, mengakhiri pun dengan semangat optimis yang sama. Nah yang akan tertulis ini adalah proses berjalannya. Ada keoptimisan yang tetap terjaga, tapi juga ada keprihatinan (bukan sekadar mengucap saya turut prihatin ya,hehe). Tapi saya berusaha membuatnya berimbang antara rasa optimis yang dibangun sejak awal hingga menjaganya sampai dengan batas waktu memutuskan hubungan mitra ini. Pengalaman pasti didapat. Tak semuanya memuaskan, tapi ada juga yang enggan melepas, barangkali ada juga yang bersorak gembira karena taka da lagi Pak Imam yang selalu marah-marah di depan kelas. Tapi mungkin ada juga yang kecewa karena tidak bisa melihat lagi pak Imam kepanasan sambil mengusap keringat yang terjun bebas dari pipinya. 

Jujur saya memang senang bisa melepas dan menyelesaikan tugas ini pada akhirnya. Munafik juga kalau saya berpura-pura tetap ingin bertahan. Bukan karena tak mau tapi karena masih banyak hal menanti harus yang saya selesaikan juga setelah PKM ini. Anak yang menyebalkan adalah hal yang wajar, tapi masalahnya menjadi hal yang tidak wajar ketika sifat yang sama dilakukan secara kolektif. Jujur saja itu yang belum bisa saya selesaikan sampai dengan saat ini. Ada beban antara tidak mau disebut sebagai guru yang hanya suka ceramah dan marah-marah dengan cara untuk mengondisikan kelas yang kondusif. Lagi-lagi anak-anak, punya tradisi yang sama pada usia menjelang remaja.

Berat sebenarnya meninggalkan anak-anak dengan kekikukan yang masih sama bahkan ketika diajak untuk menuliskan pengalaman keseharian mereka. Rasanya mereka sulit sekali bahkan hanya untuk merangkai kata dan kata menjadi sebuah kalimat. Begitupun ketika kelas bermain drama berlangsung. Keaktifan mereka juga belum tersalurkan secara maksimal di dalam setiap peran yang mereka bawakan. Ini adalah cermin, jadi saya pantas mengoreksi diri.

Sekarang tinggal sisa-sisa berkas yang harus kembali saya kumpulkan untuk urusan birokratis kampus. Bayangan anak-anak segera menjadi masa lalu. Indah pada saatnya nanti.

Hari ini pun telah menjemputku untuk segera tinggalkan mata-mata kalian yang penuh rasa ingin tahu.  Jujur saja tiba-tiba ada kegugupan sekaligus rasa khawatir yang sama ketika harus ada kata perpisahan, termasuk dengan kalian. Tapi telah menjadi jalan yang sama dimanapun bahwa setiap pasangan pertemuan adalah perpisahan. Hari ini saya kikuk bertemu kalian bukan karena saya takut bertemu kalian atau belum menyiapkan materi untuk belajar. Kegugupan itu ada mengikuti momen yang akan segera berakhir. Ada pesan dan kesan yang harus segera saya tuntaskan dengan kalian. Setidaknya saya akan merasa senang ketika ada perubahan nyata ke arah yang positif setelah kita tidak bersama-sama lagi.

Saya bahkan pernah menulis sebuah surat pink untuk orang yang dulu pernah saya sukai. Tapi apa yang saya tulis sekarang ini jauh lebih mengenang daripada surat cinta yang pertama itu. Saya bukan siapa-siapa. Hanya orang yang kebetulan diberi kesempatan untuk bertemu kalian di sini hanya untuk satu tujuan pengalaman. Saya mendapatkan pengalaman yang berharga dari kalian. Semoga kalian juga mendapatkan pengalaman yang sma berharganya dengan apa yang sama dapatkan bersama kalian. Bahkan jauh lebih berharga daripada sekadar cara mengajar saya di kelas yang mungkin aneh dan tidak jelas. Ambil yang teladan yang baik dari saya dan tinggalkan contoh yang buruk dari saya. Sampai dengan saat ini saya masih menyakini bahwa kalian memiliki kemampuan yang jauh lebih hebat dari apa yang kalian punya sekarang. Kalau bisa menjadi yang terbaik mengapa harus menunda. Kalau ada contoh yang nyata-nyata memotivasi kalian mengapa harus mengabaikan. Kunci dari kemenangan adalah semangat meraih apa yang dicita-citakan. Kalian mungkin tidak akan mendapatkan hasilnya sekarang secara langsung. Tapi di masa-masa yang akan datang mungkin manfaat itu baru bisa kalian rasakan. Berpikir positif dan belajar menerima saran dan pendapat orang lain. Saya juga sama seperti kalian dan anak-anak yang lain. Ada kelemahan, ada kemalasan, ada keburukan tapi kita semua punya kekuatan, punya semangat, punya kelebihan untuk menjadi pribadi yang terbaik.

Ingatkan selalu pada diri sendiri juga untuk tak menjadi pribadi yang angkuh dengan ilmu dan pencapaian kalian. Tak ada pantasnya menyombongkan apapun yang kita punya. Buka mata, buka hati dan buka pikiran bahwa di luar sana masih banyak orang-orang yang jauh lebih hebat dari kita sekarang. Ada saatnya kalian sendiri dan ada saatnya nanti kalian harus bekerja bersama-sama dalam tim. Kurangi keegoisan untuk membentuk tim yang solid. Ingat pesan yang saya selipkan ketika kita berhitung di dalam kelas.
Semoga kesempatan lain segera membuat pertemuan kita lagi di waktu yang akan datang.

Ada kalian:  8-6 & 82

SMPN 71 JAKARTA

3 komentar:

  1. Jujur,ketika saya membaca tulisan kk yg satu ini,rasanya berbeda! Begitu banyak air mata yg mebitik,begitu banyak kekecewaan,dan begitu banyak rasa haru.entah apa yg membuat aya merasa seperti itu?? Memng anda adalah pribadi yg menyebalkan,tetapi entah kenpa setiap kalimat yg terucap oleh anda membuat kami berfikir jauh ke depan"walapun hanya sesaat",jika waktu bisa terulang,"KAMI KELAS 82 MEMINTA MAAF TERHADAP ANDA BAPAK GURU IMAM ARIFUDIN"

    BalasHapus
  2. Untuk menyenangkan sekaligus mengesankan mungkin bumbunya memang menyebalkan. Sukses buat kalian. Kalian juga menyebalkan tp mengesankan dan kadang menyenangkan :)

    BalasHapus
  3. Wah menyenangkan nya "kadang" tapi knapa setiap kali anda masuk klas82 ,anda selalumemasang wajah yg merasa terhibur?apa mka itu ekspresi marah? Gak tau kga deh!!

    BalasHapus