Mengawali dengan optimisme yang
sama, mengakhiri pun dengan semangat optimis yang sama. Nah yang akan tertulis
ini adalah proses berjalannya. Ada keoptimisan yang tetap terjaga, tapi juga
ada keprihatinan (bukan sekadar mengucap saya
turut prihatin ya,hehe). Tapi saya berusaha membuatnya berimbang antara rasa
optimis yang dibangun sejak awal hingga menjaganya sampai dengan batas waktu
memutuskan hubungan mitra ini. Pengalaman pasti didapat. Tak semuanya
memuaskan, tapi ada juga yang enggan melepas, barangkali ada juga yang bersorak
gembira karena taka da lagi Pak Imam yang selalu marah-marah di depan kelas. Tapi
mungkin ada juga yang kecewa karena tidak bisa melihat lagi pak Imam kepanasan sambil mengusap
keringat yang terjun bebas dari pipinya.
Jujur saya memang senang bisa
melepas dan menyelesaikan tugas ini pada akhirnya. Munafik juga kalau saya
berpura-pura tetap ingin bertahan. Bukan karena tak mau tapi karena masih
banyak hal menanti harus yang saya selesaikan juga setelah PKM ini. Anak yang
menyebalkan adalah hal yang wajar, tapi masalahnya menjadi hal yang tidak wajar
ketika sifat yang sama dilakukan secara kolektif. Jujur saja itu yang belum
bisa saya selesaikan sampai dengan saat ini. Ada beban antara tidak mau disebut
sebagai guru yang hanya suka ceramah dan marah-marah dengan cara untuk
mengondisikan kelas yang kondusif. Lagi-lagi anak-anak, punya tradisi yang sama
pada usia menjelang remaja.
Berat sebenarnya meninggalkan
anak-anak dengan kekikukan yang masih sama bahkan ketika diajak untuk menuliskan
pengalaman keseharian mereka. Rasanya mereka sulit sekali bahkan hanya untuk
merangkai kata dan kata menjadi sebuah kalimat. Begitupun ketika kelas bermain
drama berlangsung. Keaktifan mereka juga belum tersalurkan secara maksimal di
dalam setiap peran yang mereka bawakan. Ini adalah cermin, jadi saya pantas
mengoreksi diri.
Sekarang tinggal sisa-sisa berkas
yang harus kembali saya kumpulkan untuk urusan birokratis kampus. Bayangan
anak-anak segera menjadi masa lalu. Indah pada saatnya nanti.
Hari ini pun telah menjemputku
untuk segera tinggalkan mata-mata kalian yang penuh rasa ingin tahu. Jujur saja tiba-tiba ada kegugupan sekaligus
rasa khawatir yang sama ketika harus ada kata perpisahan, termasuk dengan kalian.
Tapi telah menjadi jalan yang sama dimanapun bahwa setiap pasangan pertemuan
adalah perpisahan. Hari ini saya kikuk bertemu kalian bukan karena saya takut
bertemu kalian atau belum menyiapkan materi untuk belajar. Kegugupan itu ada mengikuti
momen yang akan segera berakhir. Ada pesan dan kesan yang harus segera saya
tuntaskan dengan kalian. Setidaknya saya akan merasa senang ketika ada
perubahan nyata ke arah yang positif setelah kita tidak bersama-sama lagi.
Saya bahkan pernah menulis sebuah
surat pink untuk orang yang dulu pernah saya sukai. Tapi apa yang saya tulis
sekarang ini jauh lebih mengenang daripada surat cinta yang pertama itu. Saya
bukan siapa-siapa. Hanya orang yang kebetulan diberi kesempatan untuk bertemu
kalian di sini hanya untuk satu tujuan pengalaman. Saya mendapatkan pengalaman
yang berharga dari kalian. Semoga kalian juga mendapatkan pengalaman yang sma
berharganya dengan apa yang sama dapatkan bersama kalian. Bahkan jauh lebih
berharga daripada sekadar cara mengajar saya di kelas yang mungkin aneh dan
tidak jelas. Ambil yang teladan yang baik dari saya dan tinggalkan contoh yang
buruk dari saya. Sampai dengan saat ini saya masih menyakini bahwa kalian
memiliki kemampuan yang jauh lebih hebat dari apa yang kalian punya sekarang.
Kalau bisa menjadi yang terbaik mengapa harus menunda. Kalau ada contoh yang
nyata-nyata memotivasi kalian mengapa harus mengabaikan. Kunci dari kemenangan
adalah semangat meraih apa yang dicita-citakan. Kalian mungkin tidak akan
mendapatkan hasilnya sekarang secara langsung. Tapi di masa-masa yang akan
datang mungkin manfaat itu baru bisa kalian rasakan. Berpikir positif dan
belajar menerima saran dan pendapat orang lain. Saya juga sama seperti kalian
dan anak-anak yang lain. Ada kelemahan, ada kemalasan, ada keburukan tapi kita
semua punya kekuatan, punya semangat, punya kelebihan untuk menjadi pribadi
yang terbaik.
Ingatkan selalu pada diri sendiri
juga untuk tak menjadi pribadi yang angkuh dengan ilmu dan pencapaian kalian.
Tak ada pantasnya menyombongkan apapun yang kita punya. Buka mata, buka hati
dan buka pikiran bahwa di luar sana masih banyak orang-orang yang jauh lebih
hebat dari kita sekarang. Ada saatnya kalian sendiri dan ada saatnya nanti
kalian harus bekerja bersama-sama dalam tim. Kurangi keegoisan untuk membentuk
tim yang solid. Ingat pesan yang saya selipkan ketika kita berhitung di dalam
kelas.
Semoga kesempatan lain segera
membuat pertemuan kita lagi di waktu yang akan datang.
Ada kalian: 8-6 & 82
SMPN
71 JAKARTA
Jujur,ketika saya membaca tulisan kk yg satu ini,rasanya berbeda! Begitu banyak air mata yg mebitik,begitu banyak kekecewaan,dan begitu banyak rasa haru.entah apa yg membuat aya merasa seperti itu?? Memng anda adalah pribadi yg menyebalkan,tetapi entah kenpa setiap kalimat yg terucap oleh anda membuat kami berfikir jauh ke depan"walapun hanya sesaat",jika waktu bisa terulang,"KAMI KELAS 82 MEMINTA MAAF TERHADAP ANDA BAPAK GURU IMAM ARIFUDIN"
BalasHapusUntuk menyenangkan sekaligus mengesankan mungkin bumbunya memang menyebalkan. Sukses buat kalian. Kalian juga menyebalkan tp mengesankan dan kadang menyenangkan :)
BalasHapusWah menyenangkan nya "kadang" tapi knapa setiap kali anda masuk klas82 ,anda selalumemasang wajah yg merasa terhibur?apa mka itu ekspresi marah? Gak tau kga deh!!
BalasHapus