#under_header{ float:left; width:100%; } #under_header1{ float:left; width:25%; } #under_header2{ float:left; width:25%; } #under_header3{ float:left; width:25%; } #under_header4{ float:right; width:25%; }

Selasa, 11 November 2014

Kepergok

Kali ini lu ngga ada maaf. Gue ngga bisa bantu apa-apa sekarang karena lu bukan tanggung jawab gue lagi. Sekarang gue cukup bilang, RASAKAN!

Jumat, 03 Oktober 2014

Bisik

Berbisik selalu menjadi tanda yang mengawali kecurigaan. Ada sesuatu yang tersembunyi atau sengaja disembunyikan yang tidak boleh dketahui isi dari bisikannya itu. Apalagi jika bisikkan diolah dengan lirikan mata. Maka sempurnalah kecurigaan. Jika orang-orang disekitarmu ada yang berbisik-bisik tentu kau akan merasa resah, bukan karena khawatir atau takut tapi karena rasa ingintahumu ditekan oleh orang lain.


Ambang


Apa yang terjadi kemarin maupun hari ini? Kemarin seharusnya menjadi hari yang menyenangkan karena semua kembali seperti adanya. Lepas lebih dari 2 minggu tanpa mereka,kemarin malam kembali menjadi bagian indah bersama mereka, seharusnya. Tapi yang terjadi sama sekali berbeda. Malam menjelang akhir, ternyata menyisakan pesan yang tak kunjung bisa dilupakan begitu saja. Tak bisa sedikitpun aku melepas pesan singkat itu semalam.  Tolong ....... Begitulah kira-kira pesan singkat yang menjadi bebanku sekarang. Tanpa basa-basi dan tanpa pengantar atau pendahuluan, strukturnya tidak lengkap tapi terarah jelas pada tujuannya. Semuanya berawal dari pesan itu.


Yah aku tak pernah berpikir untuk membuat sebuah tindakan yang membuat orang lain merasa dirugikan atau dibuat kecewa. Sama sekali tak merencanakan untuk yang demikian. Kemarin semua berjalan wajar tapi ketidakwajaran ternyata dirasakan oleh orang yang berbeda. Sungguh di luar perkiraan. Aku tidak bisa melepaskan kesalahan yang tanpa sengaja itu sampai sekarang. Perjalanan hari ini pun menjadi melayang tanpa tujuan. Begitupun dengan semua lengan dan kepala yang tiba-tiba lemas tanpa syarat dan perintah. Semuanya melemah dan mengambang mengakibatkan aku bergelut dengan ketidakjelasan. Semua perkara seperti menuntut dalam waktu yang bersama-sama tanpa antrean tanpa urutan. Sekarang atau mati saja kau!

Senin, 30 Juni 2014

Empat yang kemarin

Ada banyak orang dengan banyak sudut pandang. Tapi apakah kamu pernah berpikir pada orang-orang yang tidak seberuntung kamu sekarang? Aku tak pernah membuat masalah, sekalipun kamu tak ambil peduli pada orang-orang sekitarmu. Bagiku hanya ketukan hatimu yang sedang melirih pada nurani yang makin lebur pada empati. Tapi kepercayaan tinggi selalu ada pada setiap orang. Tak peduli apakah dia masih bisa mengambil sikap terhadap apa yang dilihatnya maupun tidak. Mereka adalah orang-orang dengan titik Tuhan yang tinggi. Cobalah tanyakan pada dirimu sendiri ketika rasa takut membuatmu panik karena berbuat salah. Itu adalah penanda paling jujur terhadap keempatianmu yang sesungguhnya masih ada, hanya tertidur sesaat.

Tak butuh banyak uang atau materi untuk sebuah empati. Tak perlu juga menunggu kaya, karena menolong tak pernah kenal kata status. Bukan hanya karena materi kau bisa tersenyum bahagia. Ada banyak cara kau bisa menebusnya. Tentu pesan dari kakekmu masih kau ingat. Hentikan kepura-puraanmu dan berhentilah bertanya karena kau tahu apa yang harus kau lakukan. Malam maupun siang kita akan tetap menemukan orang-orang yang sama dengan latar belakang yang berbeda. Setidaknya kata yang tertulis di sini telah mengawali penyadaranku secara pribadi. Mungkin kau lebih dulu atau bahkan baru saja, mungkin juga segera mendapatkannya. Pada saat itu kau akan mendapatkan senyuman itu tanpa syarat apapun. Tanpa wanita, tanpa pesta dan tanpa asap apapun yang membuatku senang sesaat kemudian sesak berkepanjangan.

Pilihan akan menentukan kepada siapa kita pada akhirnya berhenti dan berjalan. Keputusan juga yang pada saatnya akan menuntun dan membimbing kita pada jalan yang bebas dari rasa takut dan khawatir. Semua dimulai dari penyadaran.

Empat yang kemarin adalah penebusan
Dua yang sekarang adalah kekuatan
Satu yang terakhir adalah kesadaran

Jakarta, 16 September 2013
22:50

Ibu dan Bapak

Air baru saja selesai mengguyur gang-gang sempit dan padat di sekitar rumah kami. Di antara gang-gang yang sempit, ada sebuah gang yang paling lebar di tepian sebuah warung. Di antara warung dan tembok-tembok rumah itulah orang-orang kampung biasa menghilangkan kepenatan dan kejenuhan pikiran. Ada yang bermain kartu, ada yang bermain karet, ada yang sekadar ngobrol satu dengan yang lainnya. Anak-anak, tua maupun muda bergabung tanpa risih atau sungkan. Kadang kalau bapak-bapak kami selesai memandikan ayam-ayamnya, sesekali bapak mengadunya sembari menjemur bulu-bulu ayamnya yang basah. Kami senang menontonnya ketika cucuk-cucuk ayam mematuk kepala ayam yang lain. Kami juga senang melihat bulu-bulu ayam mengembang memperlihatkan kejagoannya kepada yang lain. Tapi kami sebenarnya tak tega melihat bulu-bulu yang masih muda terpaksa tercabut oleh yang lain. Tapi kami juga tak tega melihat bapak kami murung dan termenung setiap pagi memikirkan pekerjaan yang belum juga datang. Kami lebih senang melihat bapak kami tersenyum melihat jagoannya menang saat diadu dengan ayam tetangga. Kami juga senang melihat bapak tak lagi diam dan termenung setiap pagi di emperan rumah kami yang tak berteras. Biarlah ayam-ayam itu menjadi semangat bapak kami untuk mengajak kami bermain dengan caranya.

Sementara bapak kami mengurusi ayam-ayamnya, ibu-ibu kami tak punya perkerjaan juga selepas masak dan mengambil air. Biasanya ibu kami melamun di depan kompor tungku memikirkan nyala kompor yang makin hari makin kecil dan redup, memikirkan apa yang akan dimasak besok, memikirkan seragam sekolah kami yang harus segera diganti, memikirkan kami yang akan ujian nasional, memikirkan pakan ayam-ayam yang belum dibeli bapak, memikirkan uang kontrak rumah bulan depan, memikirkan segala-gala tentang hidup. Kami kasihan memerhatikan ibu-ibu kami. Tapi hari ini kami merasa senang karena ibu kami sudah punya pekerjaan lain selain berpikir yang berupa-rupa itu. Ibu kami duduk bersama-sama saling  memegangi kepala yang lain sambil berkeluh kesah dan berbicara satu sama lain. Kami senang melihat ibu berbicara karena artinya ibu tidak lagi memikirkan tapi membicarakan dengan ibu-ibu yang lain. Kami senang karena ibu-ibu kami saling meringankan beban dengan memijat kepala-kepala yang berat karena banyak beban. Kami senang karena kepala ibu kami jadi ringan dan tidak gatal lagi setelah banyak kutu dipanen. Kami juga senang karena ibu mengajari kami cara bermain monopoli biarpun sebenarnya kami ingin sekali diajari cara melipat origami. Kami juga senang dibelikan kelereng sekalipun kami lebih senang dibelikan sebuah pensil dan selembar kertas. Tapi kami tahu sebutir kelereng lebih murah ketimbang sebatang pensil atau selembar kertas.

Ibu kami memang bijak. Selepas sekolah kami diberi karet agar belajar melompat tinggi, mengejar cita-cita dan impian.  Sebelum tidur kami didongeng agar punya cerita yang bisa dibagi ke teman-teman kami besok. Sebelum tidur kami didoa agar jadi anak yang baik dan berguna bagi orang lain. Saat tidur kami berkelana ke ujung dunia meninggalkan gang-gang sempit metropolitan menuju ruang sebebas-bebasnya meraih terang dan menghapus gelap. Kami tinggalkan kejahilan, kami tinggalkan prasangka buruk, kami tinggalkan ayam bapak, kami tinggalkan kelereng, kami tinggalkan untaian karet dari ibu dan kami tinggalkan bapak dan ibu kami yang kasihan. Rasanya kami tak ingin terbangun lagi.

Minggu, 29 Juni 2014

Minggu terakhir di bulan Juni

Minggu terakhir di bulan Juni ini aku bertemu dengan kawan lama di sekitaran Kapuk, tak jauh dari kota Tua. Ini adalah pertemuan rutin yang selalu kami rencanakan di setiap akhir bulan. Tapi Juni ini sepertinya bukan menjadi bulan yang mengenakan bagi kawanku. Memang dia cerdik sekali melucu dibalik masalahnya. Aku pun tanpa paksaan membaca sebuah catatan yang masih menyala di laptop kerjanya ketika dia meminjamkannya padaku selang sebulan setelah pertemuan Juni itu. Banyak rasa ingin tauku membuat banyak mencari tau. Tanpa sengaja aku membaca ini persis setelah laptop kunyalakan. Tentu ini catatan yang tidak mengenakan baginya. Kurang lebihnya seperti ini..
 “
Hari ini saya tidak bisa diam barang sebentar menunggu kabar dari kendaraan yang akan mengangkut kami, tak kunjung datang. Pesan singkat sudah terkirim namun tak ada balas. Telefon dilayangkan namun tak berjawab. Hanya rasa gugup dan khawatir yang menguasai diri. Lebih pada khawatir agenda kerja yang akan berantakan dan tertunda bahkan mungkin gagal karena tak ada kendaraan yang bakal mengangkut rekan-rekan kantor ke tujuan.

Hampir seminggu yang lalu saya mati-matian (beruntung tak sampai mati) mengejar setoran untuk berjalannya acara yang diagendakan berlangsung selama beberapa waktu di tepian Juni. Apapun alasannya saya telah berkeyakinan bahwa tidak mungkin tertunda lagi karena bakal membawa beban yang semakin berat buat saya sendiri tentunya. Ada lebih banyak kekecewaan yang saya dapatkan di sini. Orang-orang banyak yang menganggap ini sebagai sebuah pembelajaran. Yah ini memang pembelajaran dan lebih tepat sebagai pembelajaran pribadi yang terlalu ekstrim. Ibarat anak muda mungkin konteks pembelajaran yang dimaksud seperti dalam kalimat mampus, ini pelajaran buat loe! Maka ini jadi seperti tulisan yang meredam efek traumatik yang telah saya jalani dengan sekuat tenaga selama ini. Betapapun lelah dan kasihannya, saya tidak banyak mendapat bantuan kecuali pertanyaan dan permintaan maaf. Sesuatu yang sulit untuk ditolak tapi juga menyakitkan untuk menerimanya. Perasaan yang demikian membuat semangat saya menggebu-gebu.
Tapi sayang sekali, datangnya semangat tersebut bukan karena alasan yang bagus, Bukan karena motivasi yang hebat atau tantangan yang meminta jawab. Bukan juga karena jatah waktu yang makin sempit. Tapi karena psimisme dan ketiadaan kekuatan lagi untuk bertahan. Sekali-kali saya juga pernah berbalas sumpah serapah tapi toh tak juga mau keluar dari kata-kata kecuali teriakan dalam hati yang tertimbun nurani. Hati nurani terlanjur berbisik untuk sabar dan memaafkan. Tak tega juga seandainya harus membuat perasaan semacam ini kembali dirasakan oleh orang lain. Meskipun gregetan juga bilamana melihat rekan lain memungut rasa ketiadategaan saya itu menjadi bahan untuk maklum. Saya menjadi menyesal menyimpan rasa tidak tega itu untuk orang yang tidak tepat. Mungkin sebaiknya siapapun belajar supaya tidak mendapatkan pelajaran yang sama dengan apa yang pernah saya terima. Makin banyak pelajaran makin sempurnalah hidup. Dengan catatan siapapun harus tahu diri!

Tidak sadar saya pun telah melenyapkan kepentingan diri saya sendiri demi kepentingan ini. Ironi bagi saya karena mesti melenyapkan diri sendiri terlebih dulu bahkan hanya untuk mengangkat dan menjulurkan sebuah jari tangan saya sendiri ke atas meminta ulur tangan yang lain. Seperti pekerjaan yang bakal sia-sia karena toh kehidupan setelah kelenyapan hanyalah kehidupan yang semu dan antisosial kecuali pada dunia metafisis yang hilang. Tapi kepercayaan membuat saya bergeming dan bertahan dengan semangat menggebu-gebu tadi. Saya pun merasa menjadi orang yang altruis karena tersesat bukan karena keinginan dan motivasi yang benar tapi karena kebetulan. Egoisme saya hancur berkeping-keping melihat empati rekan saya juga yang telah larut bersama permintaan maaf. Saya tidak butuh itu! Apalagi penyesalan karena sudah tidak berfaedah lagi sekarang. Sudah saya bayangkan bagaimana perasaan bebas itu. Sudah saya siapkan prosesi mewah untuk menyambut jiwa-jiwa yang keluar dari penjara kamar. Sudah saya perkirakan kapan waktu dan tempat perayaan itu. Yang jelas saya tidak akan mengundang siapa-siapa kecuali orang-orang yang masih punya tanggung jawab dan empati, itu saja. Yang lain silakan mengantri untuk mendapat dua syarat itu jika ingin datang. Keyakinan saya adalah tak mungkin ada yang datang kecuali kebiasaan untuk mewakilkan kedatangan dengan permintaan maaf.

Seandainya saya bisa menolak etika maka akan kulindas orang-orang yang berpura-pura punya etika. Sialan, enak saja! Tapi saya tak kuasa menolaknya maka saya mencoba mati demi kehidupan yang telah dijanjikan oleh konsekuensi. Saya melanglang mencari jalan, memutar kepala membuka mata mencari celah untuk menutup kekurangan. Saya hampir tak sanggup dan gontai mencari kawan. Tapi saya juga urung menemukan kecuali kawan lama, sahabat maaf dan sahabat sesal. Biarpun begitu saya selalu mengucap terimakasih demi sebuah pelajaran ini. Pelajaran ini telah  mendatangkan kekuatan dan kepercayaan untuk menutup dan memutus ini. Jadi saya anggap ini untung biarpun buntung di sana-sini. Saya anggap berlebih sekalipun defisit untuk membuat akar kuat pada optimisme.

Beranjak dari sebuah tempat ke tempat yang lain saya akhirnya nekat untuk jalan karena desakan waktu. Seiringan dengan itu keringat dan letih saya sudah hampir selesai, nafas makin pendek dan cepat, kepasrahan makin dekat, ketegangan makin memuncak, dan emosi makin tak terarah. Saya menyerah untuk mengorbankan diri. Waktu saat itu melemah dan sejenak membuat saya tenang. Saya tidak ingat apa-apa pada diri saya sendiri kecuali pada kewajiban ini. Pada saat itu saya berada puncak ketiadaan. Beban-beban sebagai individu telah saya sesatkan entah kemana.  Meskipun saya tahu mereka pun suatu saat bakal meminta jawab untuk diselesaikan.

Menjelang pukul 8 malam saya kembali. Rekan-rekan telah berkumpul menunggu di depan ruang kerja. Ada yang berdiskusi, ada yang juga yang sembari menikmati segelas kopi. Melihatnya sepertinya nikmat sekali ketimbang harus mengisap kenalpot kopaja ibu kota, dan mengisap baju yang penuh keringat sepanjang hari tadi. Apalagi jika harus berteman dengan kemacetan yang mengular sepanjang jalan. Mata yang letih pun tak kuasa juga memejamkannya. Hanya kepala yang miring dan pusing sebagai penggantinya. Saya langsung saja menyampaikan poin baiknya. Lepas itu saya pergi mengistirahatkan diri di rumah. Tapi ponsel genggam saya berdering sepanjang saya hendak memejamkan mata. Pesan singkat silih berganti meminta balasan segera. Saya kehilangan kesempatan lagi untuk istirahat. Lagi-lagi urusan kerja yang terus saja membuntuti hingga rumah.

Pagi pun menjelang lebih cepat dari biasanya. Tidak banyak waktu tersedia untuk ayah, ibu, kakak maupun adik. Mereka melihat saya hanya ketika membuka dan menutup pintu penanda pergi dan pulang. Itu saja, karena selebihnya saya tidak di rumah. Apalagi hari ini adalah kelangsungan acara yang penting bagi kantor. Selepas pukul 7 pagi tuan direktur dari rekanan kantor akan membuka acara secara simbolik. Namun menjelang pukul 6 pagi kendaraan yang akan mengangkut rekan-rekan kantor dan segala kebutuhan acara tak kunjung datang. Ponsel saya semakin panas mencari alternatif tapi sia-sia.
"Selang 3 hari kemudian saya dipecat!”

Saya diam memandang layar laptop yang masih menyala. Sebagai rekan kantornya yang cukup lama dan dekat selama ini ternyata aku belumlah mengenalnya.




Senin, 23 Juni 2014

Kunci



Aku bebas keluar masuk rumahku sendiri. Tapi aku tak bisa pergi dan kabur karena pasti semua orang akan mencariku. Bukan mencariku sebagai seonggok tubuh, tapi mencari kunci yang selalu aku bawa. Mereka tak membawanya selalu, maka aku harus menjadi kakak yang selalu siaga pada kepulangan maupun kepergian. Tak jarang mereka tak pulang selama berhari-hari bahkan berbulan-bulan. Sampai dengan datang berita bahwa dia tak akan pernah kembali lagi. Ada juga yang datang sebentar kemudian pulang dengan sebuntel tanda tangan. Ada pula yang datang tergopoh-gopoh dengan berbagai masalah di punggungnya. Aku melayani siapapun yang datang dengan sebaik-baiknya. Tak pernah aku membedakan dia cantik atau sebaliknya. Aku hanya tau dia bagian dari rumah warisan ini. Sekarang aku kehilangan kunci di rumah sendiri. 
Mereka satu per satu pergi dan tak kembali. Bukan karena bosan tapi karena tak ada lagi kunci.

Senin, 26 Mei 2014

SURAT MALAM

4 tahun lalu

Jikalau malam kini tak lagi melihat
kesempurnaan karena waktu
Jikalau malam kini tak mampu menyapamu lagi
karena kesempatan
Jikalau malam kini tak sanggup lagi mengulurkan
seribu tangannya karena jaraknya
Jikalau seribu kali harapan
kau gantungkan aku di malam ini
dan malam kini seolah tak lagi bersahabat
seperti awalnya karena aku
Haruskah ranting dedaunan tanggal begitu saja
hanya dalam satu hembusan angin malam
Mungkin seperti dua titik
yang tak pernah sekalipun terhubung
Meskipun telah berikrar diantaranya
untuk sebuah g a r i s . . .



Kemeriahan dan kesepian

Ada yang bilang ini seperti makan buah simalakama. Ada juga yang bilang sakit seperti ketika gigi memahat lidahmu sendiri. Tapi tidak ada pilihan. Ini bukan paksaan tapi keharusan. Semua orang mengamini saya untuk ada di sini. Saya tidak mengatakan saya tidak bisa. Tapi saya ingin mengatakan saya tidak bisa tanpa bantuan kalian. Itulah yang saya khawatirkan. Prosesi pengangkatan memang berjalan meriah dengan suasana kekeluargaan yang luar biasa. Saya memang merasakan itu di sana, di permulaan, ketika saya baru akan memulai. Tapi selepas start dimulai kemeriahan itu mulai luntur juga. Kekhawatiran terjawab dengan keadaan. Saya bisa menjawab kondisi ini dengan berbagai konsekuensi. Bukan loyalitas atau komitmen yang saya gadaikan tapi kepetingan pribadi yang tergerus organisasi. Konsekuen-konsekuen itu mulai bisa diraba dan dirasakan sekarang bahkan melihatnya pun tak sesulit seperti mengumpulkan anak-anak untuk belajar membaca, menulis dan menghitung.

Semangat pun mudah luntur seperti bara api tanpa kawan. Hanya datangnya rasa sesal yang bisa sedikit mengobati waktu yang telah terluka. Tapi saya juga meragukan datangnya rasa sesal itu, hanya pelajaran yang bakal mengubahnya. Saya bukan aktor, bukan juga superman! Saya mengada tapi lebih sering kalian meniadakan. Jujur saya merindukan kemeriahan itu bukan pada saat prosesi lepas jabatan dan pengangkatan. Tapi saat proses hanya ditemani kesepian.
#Meretas batas melawan keterbatasan!

Rabu, 07 Mei 2014

Seharusnya saya menulis sesuatu yang lain


Tapi pikiranku tak juga mau pergi dari hal-hal yang sepele. Pada kepura-puraan kehilangan kesadaran, kepura-puraan kehilangan ingatan, kepura-puraan banyak kesibukan, kepura-puraan tidak tahu dan kepura-puraan lupa. Rasanya sudah tidak sabar saya memberikan pelajaran kepada kepura-puraan itu. Begitupun kalian yang merasakan hal yang sama. Rasanya ingin segera pergi dari perihal sepele demikian.

Sudah tak terhitung berapa kali saya meminta bantuan, sesering itu pula saya mendapatkan kepura-puraan. Saya mulai mengadu argumen di dalam pikiran saya sendiri. Kalaulah kepura-puraan ditentangkan dengan kepura-puraan yang lain, apa yang bakal terjadi adalah kebinasaan. Barangkali itu jawaban dari sebuah perjalanan. Sayang sekali tidak ada manusia layaknya superman yang bisa mengerjakan semua kegiatan sendiri. Sayang sekali juga setiap orang dibekali dengan keterbatasan. Namun lebih sayang lagi karena setiap orang dibekali kemampuan untuk berpura-pura. Sekali lagi jawabannya adalah agar kita bisa berinteraksi dengan orang lain. Takdir Tuhan menentukan kebaikan untuk setiap ciptaannya, termasuk kepura-puraan. Kalau tak ada kepura-puraan maka tak ada sandiwara. Kalau tak ada sandiwara maka tak ada tontonan dan hiburan. Kalau tak ada hiburan kita suntuk. Kalau suntuk apalagi yang mesti datang kecuali rasa kantuk. Kalau sudah datang rasa kantuk maka tidurlah kita dan mati sesaat kalau beruntung, yang sial tidur selamanya kemudian disyukuri orang-orang.

Kalau janji sudah dipenuhi, tanggung jawab sudah dijalani, dan totalitas sudah diberikan apalagi yang mau ditunggu kecuali menunggu rasa kantuk dan tertidur. Yang beruntung tidur sesaat dan kemudian bangun tanpa kepura-puraan. Yang sial, tidur dan mati dalam kepuran-puraan dan orang-orang tidak tahu dalam kepura-puraan kemudian menguburkannya.

Sadar dan tak sadar ternyata saya ada di penghujung jembatan gantung. Melangkah ke depan berarti kebinasaan untuk orang lain. Melangkah ke belakang berarti menunda masa depan. Melangkah ke samping berarti bunuh diri. Memutus tali jembatan berarti membunuh semuanya. Mebuat jembatan baru berarti meminta bantuan orang lain. Meminta bantuan orang lain berarti harus bersiap mendapat kepura-puraan. Jadi mana yang harus saya binasakan paling dulu? Kepura-puraan.

Tapi bagaimana membumihanguskan kepura-puraan adalah dengan membakar akar pangkalnya yaitu cara berpikir untung dan rugi. Kalau sudah berbicara persoalan keuntungan maka bersiaplah untuk memilih sadar atau berpura-pura. Jangan menanyakan siapa yang diuntungkan karena tak ada yang diuntungkan kecuali diri kita sendiri. Tapi tanyakanlah pada hati kecil berapa banyak orang yang kita rugikan.

Sial sekali. Momen ketakberdayaan tubuh membuat orang berusaha bangkit dari kematian. Tapi datang kepulihan, kemudian tubuh dipaksa kembali mati. Begitu seterusnya.

Sayang sekali tidak ada superman, bahkan juga manusia burung yang bisa terbang melarikan diri. Tapi saya harus memilih, tentu dengan tanpa kepura-puraan. Sebaiknya jangan berpura-pura karena ini harus diselesaikan tanpa kepura-puraan. Serius! Saya tidak berpura-pura!
10 April 2014_05:45

Rabu, 15 Januari 2014

Karakter: hanya pelengkap?

Sebuah momen mengumpulkan beberapa bakal calon rektor baru dari sebuah kampus hadir dalam acara diskusi yang diselenggarakan oleh sekelompok mahasiswa. Diskusi ini lebih banyak dimonopoli oleh ceramah dengan motif kepentingan menyampaikan visi misi. Diskusi yang juga membicarakan keinginan-keinginan yang kadang mengambil tajuk khayalan yang terlampau jauh dan tinggi hingga lupa diri.

Berbicara tentang keterbukaan, keadilan, kompetensi, daya saing, integritas dan moto hidup lainnya adalah soal pemilihan kata yang bisa dilakukan oleh semua orang. Jenuh rasanya mendengarkan hal demikian berjam-jam dari beberapa orang dalam waktu yang bersamaan dalam panggung yang sama, panggung sejarah calon penguasa. Pemimpin dipilih bukan untuk memilih kata-kata terbaik ketika ditakdirkan, tapi berkerja dengan komitmen pengabdian yang terbaik dalam perjalananya. Mereka semua berbicara banyak dan visioner. Tapi lupa pada hal-hal kecil yang bersifat praktis. Obrolan mandeg pada evaluasi dan penjajakan solusi yang teoritis dan normatif tapi lupa pada kebermanfaatan dan penerapannnya.

3 jam menunggui ceramah ini saya hanya mendapatkan upaya dialogis yang begitu mapan dan mumpuni dari semua bakal calon rektor. Kalau saya bertindak sebagai dosen pengampu mata kuliah berbicara maka saya akan langsung menganugrahi nilai A pada ketiganya. Gaya berbahasanya meyakinkan dengan sesekali akronim-akronim baru serta jargon-jargon yang mereka buat. Tapi kalau saya bertindak sebagai juri dalam pertandingan badminton, maka saya hanya melihat shuttle cock yang dimainkan masing-masing oleh bakal calon rektor ini melayang-layang di atas kepala. Tidak ada arah dan sasaran yang jelas dalam praktik-praktik dan penerapan dari mimpi-mimpi yang telah mereka utarakan. Semua masih melayang-layang di atas kepala karena logika manusia teori yang berjalan bukan manusia sosial yang mengambil posisi manfaat dan gerak pasti. Semua mengambil jarak terhadap nilai-nilai praktis dan sikap terhadap seni dan budaya.

Padahal integritas yang dimaksud dalam pendidikan tidak mungkin mengabaikan seni dan budaya sebagai landasannya. Kalaulah kampus mau dibangun untuk mencetak manusia-manusia robot yang terlatih dalam kotak-kotak fakultasnya masing-masing maka diskusi hari ini sudah mengarah ke sana. Pendidikan karakter mungkin hanya akan dibangun dengan pembangunan fisik baik dari segi sarana dan prasarana penunjang maupun ketangguhan manusianya dalam hal akademik. Otak kiri akan digenjot sedemikian rupa sehingga menggembung sebesar-besarnya dan otak kanan yang berbasis kreativitas dan kesenian akan digembosi sehingga menyusut sedemikian rupa hingga menjadi kerdil. Maka tidak ada perubahan yang mungkin bisa diharapkan dari penguasa baru kampus kecuali melanjutkan pengerdilan. *semoga tidak terjadi.

Pada akhirnya semoga timbul kesadaran dan kemauan penguasa baru untuk menjadikan kampus yang cerdas akademik juga cerdas budaya tanpa berlindung dibalik tendensi apapun dan siapapun. Jangan biarkan nafsu materi menguasai tapi biarkanlah nurani untuk berpikir dan menentukan pilihannya.