#under_header{ float:left; width:100%; } #under_header1{ float:left; width:25%; } #under_header2{ float:left; width:25%; } #under_header3{ float:left; width:25%; } #under_header4{ float:right; width:25%; }

Sabtu, 22 Oktober 2016

Kuliner Raja Ampat ini harus Kamu Coba. Insonem Asar, Cacing Pasir Khas Kepulauan




Delila, membersihkan Insonem dari pasir


Sebagai kabupaten bahari, Raja Ampat terletak di provinsi Papua Barat, Indonesia. Dari Jakarta, Raja Ampat bisa ditempuh dengan menggunakan pesawat komersil sekitar 5 hingga 7 jam menuju Bandar Udara Internasional Kota Sorong, Papua Barat. Dari Kota Sorong kemudian perjalanan dilanjutkan menuju ibu kota kabupaten Raja Ampat, Waisai sekitar 3 jam. Jika beruntung maka perjalanan akan diiringi oleh sekawanan lumba-lumba yang menari-nari mengikuti gerak laju kapal. Setibanya di pelabuhan besar Waisai, wisatawan akan langsung disambut dengan laut jernih dan biru khas kepulauan.

Raja Ampat menawarkan tidak hanya pesona pantai dan alam bawah lautnya yang menakjubkan. Namun, tidak lengkap rasanya berkunjung ke Raja Ampat jika hanya memanjakan mata tetapi tidak memanjakan juga lidah yang siap mengecap nikmatnya kuliner khas kepulauan. Keanekaragaman kekayaan laut Raja Ampat menawarkan banyak pilihan masakan aneka jenis ikan dan biota laut lainnnya. Berbagai jenis ikan, udang, dan teripang barangkali sering kita jumpai di kota-kota besar di Indonesia. Namun pernahkah kamu mendengar Insonem?

Insonem ialah salah satu satwa laut Raja Ampat yang biasa hidup di pasir timbul di peraian Raja Ampat. Masyarakat Raja Ampat biasa menyebut insonem sebagai cacing pasir. Namun jangan bayangkan Insonem sama dengan cacing darat yang kita kenal ya karena meskipun sama-sama disebut cacing namun Insonem dijamin bersih dan jauh dari kesan kotor. Habitatnya yang berada di pasir putih timbul di tengah lautan dengan laut biru sebagai pelindungnya menjadikan Insonem selalu dalam keadaan terjaga. Insonem berbentuk cacing putih panjang dengan warna putih di seluruh bagiannya. Besarnya seukuran jari-jari tangan dengan panjang 30 hingga 40 cm.

Pengasapan Insonem (Cacing Pasir) oleh masyarakat Raja Ampat

Insonem hanya dapat ditemukan di wilayah Raja Ampat bagian utara, tepatnya di distrik Kepulauan Ayau. Di sanalah Insonem sudah menjadi tradisi makanan sehari-sehari. Namun, jangan khawatir kamu tidak bisa mendapatkannya ketika kamu tidak bisa berkunjung langsung ke sana karena masyarakat kepulauan Ayau sudah terbiasa membawa dan menjual Insonemnya ke pusat kota Raja Ampat. Jadi, jangan takut ketinggalan kuliner yang satu ini. Meskipun diolah dengan cara yang sederhana, namun sensasi menikmati cacing pasir timbul ini dijamin tidak akan pernah bisa kamu lupakan.

Insonem biasanya diolah dengan cara diasar. Asar yang dimaksud di sini ialah diasap dengan menggunakan tempurung kelapa dan sedikit kayu bakar. Sebelum diasap, Insonem tentu melalui proses pembersihan. Insonem di belah bagian tubuhnya untuk mengeluarkan pasir yang ada di dalamnya kemudian dibilas dengan air beberapa kali hingga bersih. Setelah proses pembersihan itu, barulah Insonem diletakkan di atas para-para, semacam tempat untuk pemanggangan di atas bara. Asap yang mengepul dari serabut dan tempurung kelapa ini yang kemudian membuat Insonem matang. Ketika insonem sudah matang, warnanya akan berubah menjadi kecoklatan. Teksturnya yang semula lentur pun mulai menegang karena matang. Pengasapan ini akan membuat Insonem menjadi tahan lama sehingga tidak cepat membusuk.  Proses pengolahan yang masih sederhana ini justru membuat Insonem semakin nikmat. Meskipun teksturnya kenyal, namun dijamin Insonem siap menggoyang lidah para wisatawan. Insonem memang lebih banyak digunakan sebagai cemilan pada tradisi masyarakat setempat. Pada beberapa kesempatan, Insonem akan digoreng setelah diasap supaya lebih renyah untuk dimakan sehingga ketika masuk ke mulut sensasi ‘kriuk-kriuk’ bakal menggoda lidah untuk minta lagi dan lagi. Di kesempatan yang lain, masyarakat setempat juga biasa menjadikan Insonem sebagai bahan campur untuk dimasak dengan berbagai jenis sayuran.

Nah, buat kamu yang sudah ada rencana untuk jalan-jalan atau liburan ke Raja Ampat jangan sampai melewatkan kuliner yang satu ini ya. Kuliner yang bahkan hanya akan kamu jumpai di Raja Ampat. Selain itu, dengan menikmati kuliner ini kamu juga secara tidak langsung telah membantu perekonomian masyarakat setempat di sana. Selamat berlibur dan semoga jalan-jalanmu semakin menyenangkan!


#jelajahgizi #jelajahgiziminahasa #sarihusada #nutrisiuntukbangsa

Senin, 26 September 2016

Kita pernah ketemu ya?

Ngaku! Ketika kamu asik jalan-jalan di sebuah pusat perbelanjaan, terminal, stasiun kereta atau pusat keramaian public lainnya, kamu pasti pernah bertemu dengan teman lama dan kamu lupa siapa nama dia. Padahal dia masih hafal nama lengkap kamu beserta pengalaan masa-masa pertemanan. Kira-kira apa yang bakal kamu lakuin? Berpura-pura saja tahu dan sok santai bisa jadi pilihan namun tidak menyelesaikan masalah dan bakal memendam rasa penasaran sendirian. Langsung menanyakan siapa namanya jelas akan menyinggung perasaannya dan bertindak terlalu berani. Meninggalkannya begitu saja bukanlah hal yang beretika sekaligus pengecut apalagi dengan kawan sendiri. Atau mengatakan dengan sejujurnya bahwa kamu lupa siapa namanya?

Nah, sekarang tidak bisa lagi mengelak dari kenyataan bahwa kamu sudah semakin tua. Buktinya kamu mulai pikun dengan teman sendiri meskipun nama orang tuanya malah mungkin kamu ingat karena dulu sering dijadikan bahan lelucon. Ngaku! Sebuah lelucon yang konyol namun membekas hingga masa depan. Nah buat kalian yang sering bepergian alangkah baiknya mengantisipasi kejadian-kejadian bertemu dengan teman lama. Jangan sampai bertemu dengan teman lama namun malah lupa namanya. Tapi kamu sekarag tidak perlu khawatir dan cemas berlebihan karena di sini saya akan bantu kalian trik bagaimana caranya menemukan nama teman lama kamu yang kebetulan kamu lupa.

Hal pertama yang bisa kamu lakukan adalah keep calm, bersikap wajar dan rileks tidak perlu terburu-buru memanggil petugas keamanan atau satpam karena kamu merasa tidak mengenal siapa teman kamu itu. Dengan bersikap wajar dan berbincang santai hal itu dapat menutupi kepikunan kamu untuk sementara waktu.  Tentu dalam perbincangan santai ini kamu harus sambil menyiapkan amunisi untuk menemukan siapa nama temanmu ini. Ini merupakan tahapan pertama yang paling mudah.

Langkah kedua yang mesti kamu lakukan seandainya kamu tetap tidak menemukan namanya dalam memori kamu ialah kamu tanyakan tempat tinggalnya sekarang. Dengan mengetahui tempat tinggalnya memori kamu akan secara otomatis diarahkan pada teman-teman kamu yang lebih spesifik. Masih belum ketemu juga? Nah jika kebetulan sedang dalam perjalanan missal menaiki pesawat, kereta api atau bis kamu bisa menanyakan harga tiket perjalanannya sembari meminta tiket yang dipegang teman kamu. Bagian ini adalah modus yang paling efektif karena dengan mengetahui tiket perjalanannya kita secara otomatis akan diperlihatkan siapa nama teman kamu yang sebenarnya.


Jika masih belum yakin bahwa dia adalah teman kamu maka jurus andalan yanag terakhir adalah tanyakan akun medsosnya dengan modus meminta pertemanan. Saya yakin sampai di sini maka kamu sudah bisa mengingat siapa teman kamu itu. Jika sampai dalam tahapan ini kamu masih belum juga mengingat dan menemukan siapa nama teman kamu itu maka sebaiknya setelah pertemuan itu kamu periksakan kesehatanmu ke dokter. Jangan-jangan kamu sudah mengidap penyakit pikun akut.

Pesan dari Ibu

Padahal Bunda ingin mengenalmu jauh lebih hebat dari ini. Tapi Tuhan berbeda, Bunda telah cukup waktu mengenalmu dan kini akan selalu mengenangmu.
Kamu si kecil bermata mungil selalu berkaca-kaca ketika Bunda menyadari kedewasaanmu sekarang. Betapa mata mungilmu kini membuat Bunda semakin berkaca-kaca karena sebentar lagi mungkin kamu tidak akan menjadi milik Bunda lagi. Ayunan-ayunan yang dulu sempat Bunda buat di teras rumah kini mampu menunjukkan ke Bunda kalau waktu memang telah berlalu lebih cepat dari yang Bunda rasakan. Meskipun rambut Bunda tak lagi sehitam dulu, tapi Bunda menolak tua karena Bunda mencintaimu. Segala pekerjaan Bunda niatkan sebagai ibadah. Tiada senyuman kecuali karena lelah menantimu bertemu di rumah sepulang kerja. Apapun Bunda kerjakan selagi keringat masih bisa mengubah nasibmu kelak. Bunda relakan menjadi suruhan orang setiap hari demi menyulap nasibmu mendatang. Bunda tentu tak pernah ingin kamu jadi seperti Bunda. Bunda tak ingin mewarisi kemelaratan kepada siapapun. Apalagi kepada kamu, anak Bunda yang meneduhkan lelah.

Tidak masalah Bunda menjadi buruh cuci, atau kuli angkut cabe di pasar. Bukan soal kasarnya pekerjaan tapi tentang senyumanmu yang tak bisa Bunda tinggalkan. Gang-gang di depan kontrakan rumah kita biarlah menjadi saksi kekutanmu bersama Bunda. Tidak perlu merasa malu mengakui kepada teman-temanmu atas keadaan kita. Malulah kalau kita berbuat salah atau dosa. Ajaklah mereka kemari untuk mampir sebentar saja. Bunda juga ingin mengenal sahabat-sahabatmu di sekolah. Bersyukurlah kalau mereka berkenan tetapi kamu tak perlu memaksa mereka untuk ke rumah karena mungkin mereka merasa sungkan juga kemari. Sampaikan saja salam Bunda untuk mereka.

Pagi ini kamu bangun pagi sekali. Sepertinya kamu sudah tidak sabar bertemu teman-temanmu di sekolah. Bunda senang melihat semangatmu. Ini sama seperti harapan Bunda dulu semasa kecil. Tapi Bunda tak seberuntung kamu nak. Tak sampai lulus sekolah dasar Bunda harus berhenti dari sekolah. Bukan karena tak kunjung naik kelas tapi karena Bunda malu berbulan-bulan menunggak uang sekolah. Tidak hanya itu, Bunda pun…ah tidak kuasa Bunda menceritakan ini padamu. Biarlah kenangan yang tak mengenakkan itu berlalu, kamu tidak perlu tahu. Meskipun sekali-kali kamu juga sekarang masih menunggak uang sekolah tapi Bunda tak ingin masa lalau Bunda menjadi masa sulitmu juga. Sebab itulah Bundamu bekerja. Tapi tak seberapa lama lagi Bunda pasti akan berhenti dari perjuangan ini. Badan ini tak sekuat dulu lagi, tak setegak dulu lagi, tak seindah dulu lagi. Masa-masa sekarang pun semakin jauh meninggalkan masa-masa Bunda. Sudah waktunya.

Sabtu, 24 September 2016

BELAJAR DARI TIMUR


Rudi Sarwa dan Lukas Sarwa keduanya bersaudara. Namun keduanya bukanlah sosok artis atau pahlawan yang dikenal banyak orang. Keduanya hanyalah dua orang bocah yang setiap harinya mesti menyeberangi laut untuk pergi ke sekolah. Ialah SMP N Persiapan Abidon sekolahnya tempat menimba ilmu. Lokasinya berada di wilayah Kepulaua Ayau, Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat. Wilayah Raja Ampat yang kepulauan memang sudah mendunia karena kecantikan baharinya. Namun siapa yang sangka dibalik keindahan kepulauannya ada dua orang anak kecil yang hampir setiap harinya mesti pulang pergi sekolah menyeberangi lautnya.

SMP Negeri Persiapan Abidon yang berada di kampung Rutum, Distrik Kepulauan Ayau, Kabupaten Raja Ampat sekaligus merupakan sekolah tempat saya bertugas sebagai relawan guru Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM3T). Secara geografis Kepulauan Ayau merupakan kepulauan terluar Indonesia yang berbatasan langsung dengan laut Republik Palau. Pulau-pulau di kepulauan Ayau merupakan pulau-pulau terakhir yang berpenghuni di ujung utara pulau burung Papua. Distrik kepulauan Ayau sendiri terdiri atas 4 kampung yaitu Rutum, Reni, Abidon, dan Meosbekwan serta dikelilingi oleh beberapa pulau lain yang tak berpenghuni. Kampung-kampung tersebut merupakan kampung yang berdiri di masing-masing pulau kecil yang berbeda. Maka menjadi sebuah konsekuensi bahwa semua akses transportasi antarkampung menggunakan perahu atau bodi jongson.

Sekolah Rudi dan Luki memang tidak berada di pulau tempat mereka tinggal dan berjarak sekitar 5 kilometer dari pulau mereka. Akses satu-satunya untuk menuju sekolah ialah laut. Laut menjadi ruang pemisah yang tidak mungkin dilintasi oleh motor, mobil, dan kendaraan-kendaraan darat lainnya. Satu-satunya cara untuk menyeberang ialah dengan menaiki perahu, mendayung, atau berenang jika sanggup. Pada kesempatan yang sangat jarang ketika air laut surut mereka memang bisa berjalan kaki menyeberangi pulau ke sekolah. Jadi pada kesempatan yang langka anak-anak sekolah memanfaatkan kesempatan air laut surut ini untuk berangkat ke sekolah. Mereka berjalan kaki ketika air meti (surut) satu hingga dua jam untuk tiba di sekolah. Tetapi air surut datangnyapun tak bisa diminta selalu pagi atau siang, dia selalu berubah menurut datangnya bulan. Jika tepat pada waktunya, maka gembiralah mereka bisa ke sekolah menyeberangi lautan yang kering. Namun jika saatnya ke sekolah air pasang, maka terpaksalah mereka mesti berenang jika tak dapat tumpangan perahu. Tapi hal yang membuat saya terharu adalah sama sekali tidak tampak wajah penyesalan atau sedih pada mereka. Mereka justru menikmati setiap perjalanan yang mereka lalui untuk dapat tiba sekolah. Ada ataupun tidak ada perahu tidak lagi menjadi beban dan pikiran untuk mereka. Begitupun dengan pasang dan surutnya air laut tidak pernah menghalangi kemauan mereka untuk berangkat ke sekolah. Semangat dan kemauannya untuk belajar mengalahkan semua keterbatasan dan halangan yang merintang. Rudi dan Luki sudah meresapi berbagai cara untuk menyeberang ke sekolah dari mulai mendayung perahu semang (perahu kecil dengan penyeimbang di kanan dan kirinya), menumpang perahu masyarakat (jika kebetulan ada), bahkan berenang pun sudah pernah mereka tuntaskan demi mengejar cita-cita mulia.

Berenang menyeberangi pulau? Iya memang benar mereka lakukan saat-saat perahu semang terlalu banyak kebocoran dan perahu masyarakatpun tidak ada yang menyeberang karena kehabisan bahan bakar. Harganya yang mahal memang membuat masyarakat yang hendak bepergian dengan perahu bermesin berpikir berkali-kali lipat. Oleh karena itulah mendayung atau berenang menjadi pilihan yang murah. Untuk urusan renang, anak-anak di sini memang jagonya. Lahir dan dibesarkan di laut menjadikan mereka terlatih dengan keadaan alam. Rudi dan Luki pun tak pernah mengutuki keadaan alamnya yang demikian. Mereka justru terlihat sangat menikmati keterbatasan yang ada di tempatnya. Kita pun bisa belajar dari keduanya bahwa dalam kesulitan selalu ada jalan keluar. Keterbatasan bukanlah halangan yang menjadikan mereka lemah dan menyerah. Mereka telah bersahabat dan hidup berdampingan dengan laut. Laut tempat hidup karena itu kitorang jaga, begitulah kata mereka. Mereka sekaligus telah membuktikan bahwa ilmu memang harus dicari dan dikejar bagaimanapun sulitnya menraihnya.

Rudi dan Luki hanyalah sepasang anak sekolah yang diungkapkan di sini. Sebagai Negara kepulauan yang dikelilingi lautan maha luas, tentu saja masih banyak Rudi dan Luki di belahan Indonesia yang lain dalam keterbatasan yang barangkali justru memiliki tingkat kesulitan lebih tinggi namun dengan tetap dengan semangat tinggi untuk belajar dan bersekolah.

Hari ini mereka belajar mengenal Indonesia sebagai negara kepulauan. Saya sebenarnya tidak perlu lagi mengenalkan mereka tentang arti kepulauan. Mereka bahkan setiap harinya sudah sangat meresapi apa arti kepulauan. Dalam hati, saya justru berkata sayalah Nak yang belajar apa itu arti kepulauan dari kalian hari ini. Mereka memang masih belum mengenal mana Jawa, Sumatera, Kalimantan atau Bali. Mereka hanya tau bahwa pulaunya tempat dia tinggal adalah bagian dari Indonesia meskipun hanya satu titik di peta Indonesia.

Hari ini saya mengajar dengan ingatan bahwa Indonesia adalah dari Sabang hingga Merauke dan dari Miangas hingga Rote. Saya menggambarnya di papan bekas dari sisa pembangunan rumah di kampung. Tak lupa saya membuat satu titik tempat saya berada sekarang bersama mereka. Ialah pulau Rutum yang menjaga jarak rapih dengan pulau Reni di bagian paling utara pulau burung Papua.

Malamnya adalah sebuah perenungan. Tengah lautan ini tak sekadar memberikan hamparan laut biru dengan kejernihan air dan warna-wani ikan karangnya. Tengah lautan ini juga menawarkan cara lain untuk memandang Indonesia dari garis terdepan. Inilah alam tempat singgah, tempat hidup sekaligus tempat pembaringan tubuh yang lelah hingga tiada.


Imam Arifudin
Guru SM3T Angkatan V
SMP N Persiapan Abidon, Distrik Kepulauan Ayau, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat
LPTK Universitas Negeri Jakarta



Senin, 11 Mei 2015

Dua Hari

14 April 2015
Mereka memaksa memejam. Semua terasa lamban, tapi ada baiknya. Tidak ada buru-buru atau tergesa-gesa dalam sesuatu. Semua berjalan sabar penuh kenikmatan emosional. Apalagi dua anak bermulut besar tidak datang sore ini. Ketenangpun semakin menjadi-jadi. Mata makin memerah dan memanas menahan degup hati yang tentu tenangnya menusuk ruang nurani paling dalam. Sembari menahan rasa kantuk aku terdiam dan menahan keinginan yang bakal sia-sia. Sesekali aku menekan ujung jari-jari tangan yang makin dingin. Aku ingin memastikan mataku terjaga diantara kalian. Tapi aku terpaksa terpejam juga.

15 April 2015

Masih di tempat yang sama tapi dengan suasana yang sedikit berbeda. Rasa kantuk tidak sederas kemarin datangnya. Tapi sore ini lebih banyak mengirim rasa dingin dan pasrah. Aku makin kisut dan ciut seperti mata yang baru saja ku lihat sekejap. Sepasang mata yang kekurangan daya. Yakin benar kalau rasa kantukku yang kemarin, kini berpindah tempat padanya. Mataku sedikit berdaya daripadanya tapi kuasanya jauh lebih besar ketimbang yang aku punya. Saat seperti inilah aku ingin segera mengakhiri pekerjaan ini. Rasanya kepantasan jauh dariku. Aku seperti tinggal onggokan tubuh tanpa impian dan gerakan. Bergerak hanya semaunya dan seperlunya. Berpura-pura saja!

Selasa, 11 November 2014

Kepergok

Kali ini lu ngga ada maaf. Gue ngga bisa bantu apa-apa sekarang karena lu bukan tanggung jawab gue lagi. Sekarang gue cukup bilang, RASAKAN!

Jumat, 03 Oktober 2014

Bisik

Berbisik selalu menjadi tanda yang mengawali kecurigaan. Ada sesuatu yang tersembunyi atau sengaja disembunyikan yang tidak boleh dketahui isi dari bisikannya itu. Apalagi jika bisikkan diolah dengan lirikan mata. Maka sempurnalah kecurigaan. Jika orang-orang disekitarmu ada yang berbisik-bisik tentu kau akan merasa resah, bukan karena khawatir atau takut tapi karena rasa ingintahumu ditekan oleh orang lain.


Ambang


Apa yang terjadi kemarin maupun hari ini? Kemarin seharusnya menjadi hari yang menyenangkan karena semua kembali seperti adanya. Lepas lebih dari 2 minggu tanpa mereka,kemarin malam kembali menjadi bagian indah bersama mereka, seharusnya. Tapi yang terjadi sama sekali berbeda. Malam menjelang akhir, ternyata menyisakan pesan yang tak kunjung bisa dilupakan begitu saja. Tak bisa sedikitpun aku melepas pesan singkat itu semalam.  Tolong ....... Begitulah kira-kira pesan singkat yang menjadi bebanku sekarang. Tanpa basa-basi dan tanpa pengantar atau pendahuluan, strukturnya tidak lengkap tapi terarah jelas pada tujuannya. Semuanya berawal dari pesan itu.


Yah aku tak pernah berpikir untuk membuat sebuah tindakan yang membuat orang lain merasa dirugikan atau dibuat kecewa. Sama sekali tak merencanakan untuk yang demikian. Kemarin semua berjalan wajar tapi ketidakwajaran ternyata dirasakan oleh orang yang berbeda. Sungguh di luar perkiraan. Aku tidak bisa melepaskan kesalahan yang tanpa sengaja itu sampai sekarang. Perjalanan hari ini pun menjadi melayang tanpa tujuan. Begitupun dengan semua lengan dan kepala yang tiba-tiba lemas tanpa syarat dan perintah. Semuanya melemah dan mengambang mengakibatkan aku bergelut dengan ketidakjelasan. Semua perkara seperti menuntut dalam waktu yang bersama-sama tanpa antrean tanpa urutan. Sekarang atau mati saja kau!