Orang
tua berjalan gontai
Ini kisah dan cerita. Tentang seorang yang
tidak muda lagi. Tubuh kering tapi gempal dengan beban hidup yang tampak tidak
semudah yang aku jalani. Iyakah menuntunku untuk terus kembali mengingat syukur kepada Tuhan atas segala nikmat
dan kemudahan yang telah ditiupkan dalam setiap langkah dan lingkaran tubuh
berbalut dosa ini. Aku ragu berbuat apa. Ada amanah dan ada tanggungjawab yang
segera menuntut balas atas apa yang telah mereka
berikan. Ada rasa takut dan cemas yang berlebih dari orang yang mengesampingkan
tanggung jawab dan amanahnya. Ada kelompok penuntut balas atas kinerja. Ada
keberadaan yang semakin terasingkan oleh kesibukan tak berharga. Ada kebohongan
untuk menunda ketakutan dan ada retorika untuk menghilangkan kekhawatiran.
Seorang yang lain memandang hampa dalam harapan
yang berbeda. Ada lagi tanggungan yang lain, sewaktu tapi beda. Kulminasi dari
kesibukan. Keberadaan yang justru mencemaskan. Padahal niat mendapat pengakuan,
malah terancam karena senjata pribadi. Strategi yang salah. Dari segan dan
enggan menolak saran dan ajakan kawan, menjadi penggeser dan perusak tatanan
segala rutinitas yang seharusnya tidak boleh terabaikan. Kalau sudah ada akibat
baru mendapat pengalaman berharga. Bisakah mendapatkan pengalaman tanpa
merasakan akibatnya di awal waktu? Karena kalau hanya mendapatkan kisah dari
pendongeng, aku tidak akan pernah mendapatkan kepuasan.
Orang tua itu mengalihkan juga perhatianku.
Penatnya kepala membuatku pening. Akibat rencana yang tidak terencana dengan
baik. Salah merencanakan menjadi salah berbuat dan salah. Seorang tua bertopi
koboi membungkuk dengan nafas setengah-setengah. Topinya adalah perlawanannya
terhadap kemiskinan yang dapat dipastikan tidak juga mau pergi darinya. Seorang
prajurit berkuda, pejuang keadilan, penentang kemelaratan. Tapi lelaki tua itu
tak berkuda. Hanya sebilah bambu yang telah dibelah. Melenting menunjukan
kekuatannya. Tubuh gempal kering itu terpaksa mengimbangi bambu yang melengkung
karena beban di ujung-ujungnya. Beban diujung bambunya tidak mungkin terbuang
begitu saja, karena beban-beban itu adalah penyambung hidupnya.
Memang beraneka barang ia tawarkan pada setiap
orang duduk dimana ia temui. Pada sepasang muda yang lupa orang tua. Pada
orang-orang kaya tak simpati. Pada sesamanya. Orang miskin berbalut kain
kebohongan menutup identitas yang sebenarnya. Mataku menoleh tak akan tega.
Tulang selangkanya telah ikut beserta lengkungan bambu di pundaknya. Seperti
menjadi bantalan empuk untuk beban yang dipikulnya.
Kepada siapa derita hendak dibagi, sedangkan
kehidupan adalah perjuangannya menahan diri, menahan beban untuk beban esok
harinya. Lantas ada apa dengan aku yang menunggu dan hanya menunggu. Menunggu
besok yang sama dengan hampir sama dengan hari ini. Menanti esok dengan
rencana-rencana yang tidak teratur. Menunggu lagi keberadaan yang akan segera
membuatku cemas, khawatir dan ketakutan dengan rencanaku sendiri. Aku hilang.
Aku pergi. Seorang tua itu duduk beristirahat menertawakan melirik ke arahku. Aku
tak berbayang kalau-kalau aku bertukar tempat dengannya.
mantabs!!!
BalasHapuswehh mas toto ternyata hadir di sini. Terimakasih atas tanggapannya..
BalasHapus