AIR
Percakapan itu dimulai lagi.
“ Kenapa mas, melamun aja?”
“ Cari angin.”
Singkat dia beralasan sebagaimana kebiasaan angin menjadi korban dan
modus beralasan. Padahal memang tidak jelas keberadaan dia di atas pembaringan
yang gratis di dudukinya itu.
Seorang kakek tua sedang menghibur anak kecil. Kakinya mengayuh sekuat
tenaga menggerakkan becak yang telah disulapnya menjadi mainan anak-anak. Semuanya
demi kehidupan dan senyum anak kecil itu. Sementara itu ibu bocah tersebut
menggendong anaknya yang lain. Mengibaratkan tubuhnya menjadi ayunan yang
menidurkan. Di lain menghampar mata sepasang remaja perempuan. Baru saja
datang. Tidak bermaksud menghampiri. Hanya kebetulan berhenti di tempat yang
beruntung. Dia menjadi berpura-pura dalam penjagaan, seolah menikmati suasana
yang ada. Padahal pengamen baru saja dibiarkanya mengaduh meminta jatah
suaranya yang baru saja diobral.
Keduanya menatap ingin tahu atau sekedar curiga. Ada sedikit senyum
menghampar ke laut lepas di depan mereka. sebentar saja kemudian mereka saling
melempar muka. Kemudian hanya diam yang berkuasa sebelum tukang es krim
keliling menghancurkan renungan itu.