Semua selalu berawal rasa penasaran dan
keingintahuan tingkat tinggi. Saya membayangkan indahnya berbagi dengan orang
lain dalam sebuah organisasi. Indahnya berbagi dengan orang-orang pinggiran,
orang-orang desa dan pelosok nusantara. Mereka yang jauh dari kesombongan kota dan terpinggrikan oleh
alam yang justru mendewasakan dan membuat mereka bijak menyikapi kehidupan. Di sana yellow jacket telah
berhasil membuat bayangan itu menjadi kenyataan. Di sini pencarian saya selama
tiga tiga tahun berakhir di tempat. Apakah keikhlasan yang mungkin belum saya
miliki. Mereka yang menerima berkata “Bantulah dari saudara terdekat kita.” Iya itu sudah dilakukan tapi tak kunjung
diselesaikan. Belum juga usai. Lagi mereka yang menerima berkata “Tidak ada
sesuatu kebaikan yang instan kawan.”
Baiklah barangkali saya hanya melihat puncak
kemenangan dari mereka. Sementara jalan saya masih terlalu jauh menuju puncak
kemenangan itu. Pendakian baru mencapai kaki-kaki gunug yang mulai menanjak memang
sudah cukup melelahkan. Tapi ini adalah sebuah perjuangan untuk mencapai puncak
itu. Kemenangan berbagi dengan anak-anak lugu pemilik alam. Orang-orang tua
yang hidup berdampingan dengan alam dan udara bebas.
Kunci kemudahan untuk berbagi hanya kesuksesan.
Mereka telah membutikan. Giliran kita harus segera menuntaskan. Ayo kawan kita
bersakit-sakit dahulu sekarang. Tak peduli perjuangan ini akan terbalaskan
dengan puncak kemengan berbagi itu atau tidak. Tak peduli rasa malu atau lelah
yang membayangi. Lipat lengan baju kita dan bergegas tunaikan kewajiban. Ini
kebutuhan untuk berbagi karena kita hidup bukan untuk diri sendiri. Tapi kita
diciptakan untuk membantu orang lain.
Keindahan yang sempurna adalah kepuasan batin
karena berbagi. Rasa lelah adalah naluri sesaat yang kadang melalaikan.
Sempatkan saja sebentar kemudian bergegas ulang. Mereka barangkali tidak punya
waktu lama untuk menuggu kita. Semakin cepat kita memberikan uluran tangan
kita, semakin cepat kita melihat senyum jujur mereka. Saya ada sekarang di sini
green jacket bukan untuk disesali dan berdiam diri. Kalau mereka saja
bisa meraih puncak kemenangan itu, pastilah kita juga bisa.
Terkadang saya kasihan dengan kawan-kawan saya
di sini karena saya adalah bagian dari mereka. Dia, kawan saya hanya bisa kagum
melihat dokumentasi perjalaanan mereka yang sampai pada kemenangan. Saya juga
kagum dan menjadi berpikir. Kita sama hanya waktu yang mendahulukan mereka
meraih kemenangan. Tenang saja kawan tidak lama lagi kita akan menyusul mereka.
Jiwa sosialmu sudah terlatih untuk berbagi. Hanya kesempatan finansial saja
yang menunda kita seperti mereka.
Yeah! Jadi kesimpulan sementara kita ternyata
untuk berbagi ternyata kita juga butuh bantuan. Tepatnya mencari personal atau
lembaga yang memiliki visi seperti kita untuk diajak bersama-sama berbagi
dengan mereka, bocah-bocah lugu yang mendiami alam-alam terluar kepulauan
nusantara. Sebelum pada akhirnya nanti kita akan dewasa secara finansial dan
bisa langsung berbagi dengan mereka. untuk sementara kita memang masih anak
kecil tapi kedewasaan itu pasti.
Hanya kepada gunung-gunung yang melongsorkan
tanah-tanah tertingginya
Hanya kepada pohon-pohon tua yang menghuni
belantara alam
Hanya kepada udara bebas yang terbang dalam
kabut-kabut pagi
Dan pada tetesan udara yang mengalir di
bawahnya sungai kebeningan
Hanya pada alam yang membuat senyum-senyum
mereka
Anak alam pemenang kebersamaan
Rasa jujur dan kedamaian
Tanpa kesombongan
Hanya pagi
Yang mengantarkan kedewasaan pada saatnya nanti
Tidak ada komentar:
Posting Komentar