#under_header{ float:left; width:100%; } #under_header1{ float:left; width:25%; } #under_header2{ float:left; width:25%; } #under_header3{ float:left; width:25%; } #under_header4{ float:right; width:25%; }

Jumat, 01 Februari 2013

MELAWAN KETERBATASAN



Semua selalu berawal rasa penasaran dan keingintahuan tingkat tinggi. Saya membayangkan indahnya berbagi dengan orang lain dalam sebuah organisasi. Indahnya berbagi dengan orang-orang pinggiran, orang-orang desa dan pelosok nusantara. Mereka yang jauh dari kesombongan kota dan terpinggrikan oleh alam yang justru mendewasakan dan membuat mereka bijak menyikapi kehidupan. Di sana yellow jacket telah berhasil membuat bayangan itu menjadi kenyataan. Di sini pencarian saya selama tiga tiga tahun berakhir di tempat. Apakah keikhlasan yang mungkin belum saya miliki. Mereka yang menerima berkata “Bantulah dari saudara terdekat kita.”  Iya itu sudah dilakukan tapi tak kunjung diselesaikan. Belum juga usai. Lagi mereka yang menerima berkata “Tidak ada sesuatu kebaikan yang instan kawan.” 

Baiklah barangkali saya hanya melihat puncak kemenangan dari mereka. Sementara jalan saya masih terlalu jauh menuju puncak kemenangan itu. Pendakian baru mencapai kaki-kaki gunug yang mulai menanjak memang sudah cukup melelahkan. Tapi ini adalah sebuah perjuangan untuk mencapai puncak itu. Kemenangan berbagi dengan anak-anak lugu pemilik alam. Orang-orang tua yang hidup berdampingan dengan alam dan udara bebas. 

Kunci kemudahan untuk berbagi hanya kesuksesan. Mereka telah membutikan. Giliran kita harus segera menuntaskan. Ayo kawan kita bersakit-sakit dahulu sekarang. Tak peduli perjuangan ini akan terbalaskan dengan puncak kemengan berbagi itu atau tidak. Tak peduli rasa malu atau lelah yang membayangi. Lipat lengan baju kita dan bergegas tunaikan kewajiban. Ini kebutuhan untuk berbagi karena kita hidup bukan untuk diri sendiri. Tapi kita diciptakan untuk membantu orang lain. 

Keindahan yang sempurna adalah kepuasan batin karena berbagi. Rasa lelah adalah naluri sesaat yang kadang melalaikan. Sempatkan saja sebentar kemudian bergegas ulang. Mereka barangkali tidak punya waktu lama untuk menuggu kita. Semakin cepat kita memberikan uluran tangan kita, semakin cepat kita melihat senyum jujur mereka. Saya ada sekarang di sini green jacket bukan untuk disesali dan berdiam diri. Kalau mereka saja bisa meraih puncak kemenangan itu, pastilah kita juga bisa. 

Terkadang saya kasihan dengan kawan-kawan saya di sini karena saya adalah bagian dari mereka. Dia, kawan saya hanya bisa kagum melihat dokumentasi perjalaanan mereka yang sampai pada kemenangan. Saya juga kagum dan menjadi berpikir. Kita sama hanya waktu yang mendahulukan mereka meraih kemenangan. Tenang saja kawan tidak lama lagi kita akan menyusul mereka. Jiwa sosialmu sudah terlatih untuk berbagi. Hanya kesempatan finansial saja yang menunda kita seperti mereka.

Yeah! Jadi kesimpulan sementara kita ternyata untuk berbagi ternyata kita juga butuh bantuan. Tepatnya mencari personal atau lembaga yang memiliki visi seperti kita untuk diajak bersama-sama berbagi dengan mereka, bocah-bocah lugu yang mendiami alam-alam terluar kepulauan nusantara. Sebelum pada akhirnya nanti kita akan dewasa secara finansial dan bisa langsung berbagi dengan mereka. untuk sementara kita memang masih anak kecil tapi kedewasaan itu pasti.

Hanya kepada gunung-gunung yang melongsorkan tanah-tanah tertingginya
Hanya kepada pohon-pohon tua yang menghuni belantara alam
Hanya kepada udara bebas yang terbang dalam kabut-kabut pagi
Dan pada tetesan udara yang mengalir di bawahnya sungai kebeningan
Hanya pada alam yang membuat senyum-senyum mereka
Anak alam pemenang kebersamaan
Rasa jujur dan kedamaian
Tanpa kesombongan
Hanya pagi
Yang mengantarkan kedewasaan pada saatnya nanti

Tidak ada komentar:

Posting Komentar