#under_header{ float:left; width:100%; } #under_header1{ float:left; width:25%; } #under_header2{ float:left; width:25%; } #under_header3{ float:left; width:25%; } #under_header4{ float:right; width:25%; }

Rabu, 06 Februari 2013

Teluk



AIR
Percakapan itu dimulai lagi.
“ Kenapa mas, melamun aja?”
“ Cari angin.”
Singkat dia beralasan sebagaimana kebiasaan angin menjadi korban dan modus beralasan. Padahal memang tidak jelas keberadaan dia di atas pembaringan yang gratis di dudukinya itu.
Seorang kakek tua sedang menghibur anak kecil. Kakinya mengayuh sekuat tenaga menggerakkan becak yang telah disulapnya menjadi mainan anak-anak. Semuanya demi kehidupan dan senyum anak kecil itu. Sementara itu ibu bocah tersebut menggendong anaknya yang lain. Mengibaratkan tubuhnya menjadi ayunan yang menidurkan. Di lain menghampar mata sepasang remaja perempuan. Baru saja datang. Tidak bermaksud menghampiri. Hanya kebetulan berhenti di tempat yang beruntung. Dia menjadi berpura-pura dalam penjagaan, seolah menikmati suasana yang ada. Padahal pengamen baru saja dibiarkanya mengaduh meminta jatah suaranya yang baru saja diobral.
Keduanya menatap ingin tahu atau sekedar curiga. Ada sedikit senyum menghampar ke laut lepas di depan mereka. sebentar saja kemudian mereka saling melempar muka. Kemudian hanya diam yang berkuasa sebelum tukang es krim keliling menghancurkan renungan itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar